Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ketua Kadin NTT, Bobby Lianto, Dharma Djojonegoro (Deputy Chair B20 T&I Task Force), Ernst Coppens (Managing Director & CFO Bayer ASEAN), Mark Smith (Managing Director of BCG) Arif Rachmat (Chair Trade & Investment Task Force B20), Shinta Kamdani (Chair of B20 Indonesia), Sugeng Santoso (Staf Ahli Menko Marinves bidang Ekonomi Maritim), Koji Hachiyama (COO ERIA) dan Charles Angliwarman (Ketua Kadin Manggarai Barat) berfoto bersama dalam forum Dialog B20-G20 Trade & Investment Task Force di Hotel Meruorah, Labuan Bajo, pada Jumat, 23 September 2022. (Foto: Dok. KADIN)

Ketua Kadin NTT, Bobby Lianto, Dharma Djojonegoro (Deputy Chair B20 T&I Task Force), Ernst Coppens (Managing Director & CFO Bayer ASEAN), Mark Smith (Managing Director of BCG) Arif Rachmat (Chair Trade & Investment Task Force B20), Shinta Kamdani (Chair of B20 Indonesia), Sugeng Santoso (Staf Ahli Menko Marinves bidang Ekonomi Maritim), Koji Hachiyama (COO ERIA) dan Charles Angliwarman (Ketua Kadin Manggarai Barat) berfoto bersama dalam forum Dialog B20-G20 Trade & Investment Task Force di Hotel Meruorah, Labuan Bajo, pada Jumat, 23 September 2022. (Foto: Dok. KADIN)

Forum Dialog B20-G20 Bahas Peran UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Global

Minggu, 25 September 2022 | 19:30 WIB

LABUAN BAJO, investor.id - Gelaran Presidensi G-20 Indonesia diharapkan mampu menjadi momentum menghasilkan sejumlah pencapaian konkret yang dapat memandu pemulihan ekonomi global.

Forum Business 20 atau B-20 turut mengambil andil dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti dan relevan bagi G-20 melalui 6 satuan tugas (Task Forces) dan 1 Action Council (Women In Business Action Council), salah satu di antaranya adalah Trade & Investment Task Force.

Dalam forum Dialog Trade & Investment Task Force yang digelar di Labuan Bajo pada Jumat (23/9), Chair of B20 Indonesia Shinta Kamdani menyampaikan forum B-20 yang merupakan komunitas business leader dari berbagai negara G-20 dan banyak negara lainnya telah mempersiapkan policy recomendation (rekomendasi kebijakan) yang akan disampaikan ke pemerintah dalam gelaran KTT G-20 November mendatang di Bali.

"Ini adalah bagian dari proses G-20. Kami di B-20 sudah launching dan kick off dari Inception Meeting di bulan Januari. Sejak itu, Task Forces B-20 sudah melakukan pertemuan-pertemuan sampai dengan hari ini, di mana semua tujuan utamanya adalah mempersiapkan policy recomendation (rekomendasi kebijakan) yang akan disampaikan ke pemerintah," ujar Shinta.

Shinta menyebutkan keberadaan forum B-20 selain memberikan rekomendasi kebijakan yang berhubungan dengan 3 topik utama dalam presidensi G-20 Indonesia yakni Global Health Architecture, Digital Transformation, dan Energy Transition, juga mempersiapkan program-program warisan atau legacy program yang membuat B-20 Indonesia berbeda dari B-20 di tahun-tahun sebelumnya.

Adapun legacy program yang dihasilkan bertujuan agar memberikan hasil yang lebih konkret serta memiliki progress yang nyata dengan didukung dan dapat secara langsung dijalankan oleh perusahaan-perusahaan anggota B-20, serta dapat diteruskan pada presidensi selanjutnya.

Sementara itu Chair Trade & Investment Task Force B-20, Arif Rachmat menyebutkan Trade & Investment Task Force memiliki 152 anggota secara global yang berasal dari 25 negara serta berkecimpung dalam 15 industri yang berbeda. Keberadaan sepertiga dari jumlah anggota yang merupakan adalah para wanita pemimpin berhasil menghadirkan cara pandang yang variatif.

Termasuk dalam menghasilkan 4 rekomendasi kebijakan dalam forum dialog B20-G20. Keempat rekomendasi kebijakan ini yakni Free Trade, Digital Economy, Inclusivity dan Green Economy.

"Yang pertama adalah tentang Free Trade, bagaimana kita bisa membuat environment bagi trade dan Investment yang lebih efisien, terbuka, transparan dan juga lebih adil. Dan itu dengan rolling back restrictive major yang mungkin terjadi selama pandemi ini ataupun sebelumnya  juga. Termasuk reformasi daripada WTO," ucap Arif.

Rekomendasi kebijakan kedua adalah Digital Economy. Penggunaan inovasi teknologi dan digitalisasi agar mampu menciptakan ekonomi dunia yang semakin baik serta mencegah terjadinya krisis global.

"Yang ketiga adalah tentang inclusivity, bagaimana kita bisa membesarkan UMKM dan masuk dalam global supply chain kita," sambung Arif.

Adapun rekomendasi kebijakan keempat, jelas Arif, yakni Green Economy.

"Rekomendasi ini merupakan upaya untuk menjadikan investasi dan perdagangan menjadi impactful drivers agar investasi itu bisa semakin hijau, bisa semakin sustainable atau berkelanjutan," tuturnya.

Arif menjelaskan salah satu legacy project yang akan dibangun adalah Inclusive Closed Loop Model dengan menjadikan sektor UMKM sebagai fokus utama dalam menggerakkan ekonomi, bukan hanya di Indonesia tapi juga secara global, yang akan di-support oleh multi-stakeholders baik dari komunitas, bisnis pemerintah, institusi keuangan, hingga akademisi.

"Dan tugas daripada kami adalah itu untuk meng-embrace dan merger UMKM tersebut dengan membuka sumbatan-sumbatan yang ada, seperti contohnya empowering mereka dengan upskiling, reskiling, membuka akses untuk finance, market dan teknologi. Kalau kita bisa lakukan itu, produktivitas mereka bukan saja naik, kesejahteraan mereka bukan saja naik, tapi mereka juga bisa menjaga lingkungan mereka dengan sangat baik. Sehingga ini adalah yang saya namakan Goldy Locks (kunci emas), daripada produktivitas, climate resilience (ketahanan iklim) dan inclusivity (inklusivitas)." Ujarnya.

Melalui forum Dialog B20-G20 Trade & Investment Task Force ini juga diharapkan terciptanya kolaborasi bersama dalam meningkatkan kapasitas antar negara sehingga mampu mengatasi kesenjangan yang cukup jauh di antara negara tertinggal, berkembang dan negara-negara maju. Dibutuhkan pula dukungan dan bantuan dari negara berkembang dan maju dalam meningkatkan skill digitalisasi yang dinilai akan berperan penting di masa yang akan datang.

Untuk itu, Shinta Kamdani selaku Chair of B20 Indonesia menekankan pentingnya mengaplikasikan rekomendasi kebijakan yang telah dibuat melalui sebuah aksi nyata.

"Yang penting adalah bahwa nantinya upaya kita mendapatkan outcome program legacy ini benar-benar bisa nyata dilakukan. Ini tadi kenapa saya minta Pak Bobby (Kadin NTT) untuk sharing, karena di NTT dari legacy kita ini banyak yang sudah berjalan. Ini menjadi contoh bahwa Indonesia tidak hanya bicara, tapi juga ada action yang sudah terjadi. Ini kita akan replikasi dengan berkolaborasi dengan banyak perusahaan di seluruh dunia," ujarnya

Arif mencontohkan salah satu kolaborasi Inclusive Closed Loop Industry yang saat ini tengah berjalan adalah kolaborasi antara PT Bayer bersama PT Seger Agro Nusantara dan para petani jagung di NTT. 

PT Bayer bersama petani jagung di NTT berhasil membentuk sebuah program dengan nama Sahabat Tani. PT Bayer juga memberi dukungan peningkatan kapasitas serta finansial melalui pembinaan serta penyediaan bibit unggul, pupuk, serta sarana produksi pertanian. 

Sementara PT Seger Agro Nusantara bertindak sebagai off taker dengan membuka akses pasar bagi komoditas jagung yang dihasilkan dengan pemberlakuan harga jual yang wajar.

"Jadi kita dengan KADIN ingin membuat Inclusive Closed Loop ini menjadi gerakan nasional. Dan dengan G20-B20 platform ini kita ingin buat ini menjadi gerakan internasional, kita akan ada signing off pledges tentang Inclusive Closed Loop ini, bagaimana bisnis mau membesarkan UMKM itu. Dan bulan November itu ada showcase-nya," tutup Arif.

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

Sumber : PR

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com