Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky Widjaja. ( Foto: forbes.com )

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky Widjaja. ( Foto: forbes.com )

Franky Widjaja: Pengusaha Sudah Siap 'Berlari'

Kamis, 28 Januari 2021 | 00:36 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id) ,Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Perkembangan global dan berbagai kebijakan dalam negeri yang diambil pemerintah telah membangkitkan optimisme di kalangan dunia usaha. Kini, tingkat kepercayaan (level of confidence) pelaku bisnis sudah sangat tinggi.

"Confidence dunia usaha sudah kembali. Kami sudah pasang kuda-kuda, tinggal berlari," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan, Franky Oesman Widjaja pada webinar bertopik Percepatan Pemulihan Ekonomi 2021: Harapan, Tantangan, dan Strategi Kebijakan, Rabu (27/1/2021).

Webinar yang digelar  Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia (UI) itu juga menampilkan tiga pembicara lainnya, yakni Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, dan ekonom yang juga mantan Menkeu M Chatib Basri.

Webinar yang dipandu Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu tersebut  dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (keynote speech), Ketua MWA UI Saleh Husin (welcoming speech), dan Rektor UI Ari Kuncoro (opening speech).

Vaksinasi Covid

Menurut Franky Widjaja, para pengusaha saat ini memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi karena pemerintah mulai melaksanakan vaksinasi Covid-19. Apalagi pemerintah  juga melanjutkan  program penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PC-PEN). "Ibarat berjalan di sebuah terowongan yang gelap, di ujung  sana sudah muncul  cahaya,"  tutur dia.

Dunia usaha  optimistis vaksinasi bakal efektif membangun kekebalan komunal (herd immunity), sehingga penyebaran Covid bisa diredam. "Bila penyebaran Covid bisa dicegah, masyarakat akan kembali beraktivitas. Bila mobilitas masyarakat meningkat, ekonomi perlahan-lahan bakal pulih," papar Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) Sinar Mas Agribusiness and Food tersebut.

Yang penting, kata Franky Widjaja, vaksinasi dapat berjalan sukses, cepat, dan efektif menciptakan herd immunity sebagaimana diinginkan Presiden Jokowi. "Kuncinya di vaksinasi, itu yang diharapkan sekali oleh dunia usaha," ujar dia.

Franky menegaskan, vaksinasi akan menjadi penentu (game changer) penanganan Covid dan pemulihan ekonomi nasional. Itu sebabnya, proses vaksinasi harus terimplementasikan dengan baik agar benar-benar efektif. "Vaksin sangat penting sebagai katalis untuk mendorong normalisasi ekonomi," tandas dia.

Sebelum normalisasi terjadi, menurut Franky Widjaja, masyarakat harus tetap mengikuti protokol kesehatan. "Tidak ada choice, tinggal vaksin mana yang bisa kita dapatkan, karena semua negara mencari vaksin. Kalau bisa dapat, itu sudah anugerah sebagai bekal untuk normalisasi," ucap dia.

Franky optimistis pada semester II tahun ini perekonomian nasional mulai menuju titik awal pemulihan. Dengan demikian, pada 2022, ekonomi Indonesia sudah pulih dan masuk fase ekspansi.

Namun, dia mengingatkan bahwa optimisme itu didasari asumsi tidak ada gelombang kedua (second wave) pandemi dan vaksinasi berjalan lancar serta efektif menciptakan herd immunity. Dengan begitu, Covid tidak menyebar dan mobilitas masyarakat kembali normal.

Jadi Peluang

Franky Widjaja mengemukakan, dalam setiap krisis ekonomi selalu muncul banyak peluang baru. Begitu pula setelahnya. "Dalam krisis selalu ada opportunity yang bisa diambil. Itu filosofi  Tiongkok dan Jepang. Sekarang hope sudah kelihatan, vaksinasi sudah dimulai, tinggal di-roll out dengan baik," ujar dia.

Dia menambahkan, pemulihan ekonomi bisa berlangsung lebih cepat karena selama pandemi pun roda bisnis tidak berhenti total. Bahkan, program bekerja dari rumah (work from home/WFH) telah membuat perusahaan-perusahaan lebih efisien. "Kita bisa efisien. Tanpa travelling bisa koneksi dengan para expert dan melakukan planning dengan baik, sehingga bisnis bisa dilakukan lebih cepat," tutur dia.

Di level global, menurut Franky Widjaja, berbagai negara, khususnya negara-negara maju, juga sedang berjuang mengatasi krisis ekonomi akibat pandemi. Berbagai upaya ditempuh mereka untuk menanggulangi Covid dan memulihkan ekonominya, termasuk lewat pelonggaran moneter (quantitative easing/QE).

"AS, Uni Eropa, Tiongkok, dan Jepang telah mengeluarkan QE sangat besar, nilainya akan mencapai lebih dari US$ 10 triliun. Besarnya likuiditas global telah menekan suku bunga di negara-negara maju hingga mendekati hampir 0%," papar dia.

Franky mengapresiasi langkah-langkah pemerintah untuk menanggulangi Covid-19 dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional, termasuk memberikan bansos kepada masyarakat yang membutuhkan. "Keputusan pemerintah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi secara cepat dan tepat patut diapresiasi," kata dia.

Karena langkah-langkah pemerintah pula, menurut Franky Widjaja, roda industri bisa tetap berputar di tengah pandemi. Alhasil, kinerja ekspor pun tahun silam meningkat  3-7% dibanding tahun sebelumnya, bahkan neraca perdagangan mencatatkan surplus.

Dia menjelaskan, langkah pemerintah menerbitkan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) demi memperbaiki iklim investasi juga patut diapresiasi. Dengan adanya  Ominibus Law tersebut, investasi dipastikan  meningkat. "Ini juga bisa menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi kita ke depan," tandas dia.

Dia mengemukakan, sejumlah indikator menunjukkan ekonomi Indonesia masih relatif lebih baik dibanding negara-negara lain. "Seperti diungkapkan Pak Presiden terkait hasil pertemuan G20. Walaupun ekonomi global melemah, pertumbuhan ekonomi Indonesia menempati posisi ke-2 terbaik di dunia setelah Tiongkok," papar dia.

Indikator lainnya, kata Franky, tercermin  di pasar saham domestik. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat meluncur di bawah level 4.000, kini kembali di atas  6.000. "Nilai tukar rupiah juga masih stabil," ucap dia.

Tak kalah menggembirakan, menurut Franky, minat pemodal asing untuk berinvestasi di Indonesia masih tinggi. Terbukti pabrikan otomotif dan manufaktur Korea Selatan, Hyundai dan LG, serta pabrikan mobil listrik AS, Tesla, tertarik berinvestasi di Indonesia. Begitu pula pabrikan otomotif  Wuling dan Tsingshan (Tiongkok). "Toyota Motor juga  akan menambah investasinya di Indonesia," tutur dia.

Atas dasar itu, Franky Widjaja yakin arah kebijakan dan strategi pemulihan ekonomi nasional yang dilaksanakan pemerintah sudah benar. Akar masalahnya pun sudah jelas, tinggal bagaimana mengeksekusinya secara tepat dan cepat."Tidak ada chicken and egg bagi pengusaha.  Bagi kami, yang  ada hanya chicken and chicken," tegas dia.

Tujuh Sektor

Franky Widjaja menegaskan, Indonesia bisa menjadi pemain penting dalam kancah perekonomian global. Berdasarkan riset Dana Moneter Internasional (IMF), McKinsey, dan Pricewaterhouse Cooper (PwC), Indonesia pada 2030 berpeluang menjadi salah satu negara dengan produk domestik bruto (PDB) tertinggi di dunia, dengan nilai lebih dari US$ 7 triliun dibanding saat ini sekitar US$ 1 triliun.

Untuk mewujudkan prediksi itu, kata dia, Indonesia harus menggenjot pengembangan industri-industri unggulan. Setidaknya ada tujuh industri yang bisa dikembangkan Indonesia sehingga kelak berkontribusi masing-masing sebesar US$ 1 triliun per tahun.

Ketujuh industri unggulan itu, pertama, adalah agribisnis, pangan, dan industri pengolahannya. Kedua, industri pariwisata dan industri ekonomi kreatif. Ketiga, industri mineral dan industri produk turunannya.

Keempat, industri migas, energi baru dan terbarukan, serta konversi energi. Kelima, jasa keuangan, termasuk asuransi dan industri keuangan yang lain. Keenam, jasa kesehatan dan industri farmasi. "Terakhir, yaitu teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta digitalisasi," ujar dia.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN