Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Smelter  Foto ilustrasi: IST

Smelter Foto ilustrasi: IST

Freeport Berencana Tambah Kapasitas Smelting Gresik

Senin, 26 Oktober 2020 | 11:24 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Freeport McMoran, salah satu pemegang saham PT Freeport Indonesia (FI), mempertimbangkan untuk meningkatkan kapasitas (ekspansi) fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) yang kini dikelola PT Smelting Gresik menjadi sekitar 1,3 juta ton. Opsi ini sebagai alternatif dari rencana pembangunan smelter baru yang dinilai tidak ekonomis.

 

President dan Chief Executive Officer (CEO) Freeport McMoran Richard Adkerson menuturkan, pembahasan tentang pembangunan smelter baru dengan pemerintah masih berjalan. Namun, pihaknya dan pemerintah juga tengah mengevaluasi alternatif lain, yakni pengembangan kapasitas smelter yang sudah beroperasi di Gresik, Jawa Timur.

 

“Jadi alternatifnya adalah, daripada membangun smelter baru, bisa juga dengan ekspansi Smelter Gresik yang sudah ada dan menambahkan fasilitas pengolahan logam mulia,” kata dia dalam conference call kinerja kuartal III-2020, akhir pekan lalu.

 

Menurut Adkerson, dengan ekspansi kapasitas yang ada, smelter yang ada di Gresik ini tetap tidak akan dapat menyerap seluruh konsentrat yang dihasilkan dari tambang Freeport Indonesia. Sehingga, sebagian produksi konsentrat tetap harus diekspor di mana Freeport Indonesia harus membayar bea keluar.

 

“Manfaat yang bisa diperoleh yakni, kami bisa menghindari mengerjakan proyek besar baru ini dan manfaat keuangannya bagi Pemerintah Indonesia juga cukup positif,” tutur Adkerson.

 

Dengan pandemi Covid-19 yang memukul kondisi keuangan seluruh negara termasuk Indonesia, lanjutnya, adanya tambahan pendapatan dari bea keluar ini cukup menarik bagi Pemerintah Indonesia. Namun, sesuai kesepakatan dengan pemerintah di 2018, komitmen pembangunan smelter tetap dipegang oleh pihaknya.

 

“Keputusannya ada di tangan Pemerintah Indonesia terkait apa yang akan mereka lakukan, tetapi isu manfaat finansial bagi pemerintah ini cukup signifikan,” ungkap dia.

 

Executive Vice President & Chief Financial Officer Freeport McMoran Kathleen Quirk menambahkan, kebutuhan investasi untuk smelter akan berkurang cukup banyak jika hanya dilakukan ekspansi dari smelter yang sudah ada. Untuk membangun smelter baru, perkiraan investasinya mencapai US$ 3 miliar.

 

“Dan perkiraan [investasi] untuk ekspansi [kapasitas] smelter di Gresik sebesar 30% yakni sekitar US$ 250 juta dan perkiraan investasinya sama juga untuk fasilitas pengolahan logam mulia,” jelas Quirk.

 

Smelter yang kini dioperasikan oleh Smelting Gresik memiliki kapasitas sebesar 1 juta ton konsentrat tembaga. Jika dilakukan ekspansi sebesar 30% terhadap fasilitas ini, maka kapasitasnya hanya akan bertambah sebesar 300 ribu ton konsentrat tembaga. Tambahan kapasitas ini jauh berkurang dibandingkan dengan pembangunan smelter baru yang direncanakan memiliki kapasitas hingga 2 juta ton konsentrat tembaga.

 

Terkait rencana pembangunan smelter baru, Adkerson melanjutkan, masih dalam tahap pembahasan dengan pemerintah. Dipimpin oleh MIND ID yang juga pemegang saham PTFI, Freeport Indonesia meminta penundaaan penyelesaian konstruksi selama 12 bulan. Hal ini menyusul pandemi Covid-19 yang berdampak pada mobilitas kontraktor internasional dan pekerja lokal.

 

“Pemerintah masih dalam tahap mengevaluasi alternatif tadi, selain membangun smelter baru. Belum ada keputusan yang dicapai,” ujarnya.

 

Awalnya, Freeport Indonesia berkomitmen merampungkan smelter ini paling lambat sampai 21 Desember 2023. Hal ini sesuai dengan batas waktu diperbolehkannya ekspor mineral yang belum dimurnikan, yakni hingga 2023. Batas waktu ini diatur dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2020 tentang mineral dan batu bara. Smelter baru Freeport ini rencananya berlokasi di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN