Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Freeport. Foto: IST

Freeport. Foto: IST

Freeport Dapat Tambahan Kuota Produksi

Rangga Prakoso, Jumat, 23 Agustus 2019 | 20:26 WIB

JAKARTA, investor.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui permohonan PT Freeport Indonesia dalam menambah produksi pada tahun ini. Permohonan itu diajukan Freeport dalam revisi Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) 2019. Adapun tambahan produksi tersebut sekitar 300 ribu ton konsentrat tembaga. Tambahan produksi itu bakal digunakan untuk pengiriman ke luar negeri.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan evaluasi revisi RKAB yang diajukan Freeport dalam tahap finalisasi. Dia belum bisa memastikan penambahan kuota produksi Freeport bakal disetujui semuanya hingga 300 ribu ton konsentrat. Bambang hanya memastikan revisi RKAB segera disetujui. "Revisi (RKAB) Freeport segera. Akhir Agustus paling lambat," kata Bambang di Jakarta, Jumat (23/8).

Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama sebelumnya mengatakan penambahan kuota itu bukan karena peningkatan produksi. Melainkan dari stok di tambang terbuka (open pit) Grasberg yang masih bisa dimanfaatkan. Hanya saja dia belum bisa membeberkan penambahan kuota yang diajukan. Riza menuturkan produksi Freeport tahun ini sekitar 1,2 juta ton. Dari jumlah itu sebanyak satu juta ton dikirim ke PT Smelting untuk dimurnikan. Sedangkan sisanya ekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Korea, Tiongkok serta India. Adapun kuota ekspor konsentrat yang telah disetujui pemerintah hingga Maret 2020 sekitar 198.282 ton.

Riza menyebut penambahan kuota produksi tahun ini bakal diserap oleh smelter di beberapa negara tersebut. "Kalau yang minat atau standby buyer sih pasti ada. Tapi kan makanya besarannya berapa tetap perlu kami hitung," ujarnya.

Kuota ekspor Freeport tahun ini jauh lebih rendah ketimbang periode sebelumnya yang mencapai 1,2 juta ton. Rendahnya kuota ekspor lantaran Freeport sedang dalam masa transisi dari tambang terbuka Grasberg menuju tambang bawah tanah. Rencananya produksi tambang bawah tanah kembali normal pada 2022 mendatang. Beralihnya ke tambang bawah tanah lantaran habisnya cadangan tembaga di tambang terbuka.

Kementerian ESDM memberikan perpanjangan izin ekspor konsentrat lantaran pembangunan smelter Freeport memenuhi persyaratan. Adapun kemajuan smelter itu hingga Februari kemarin mencapai 3,86%. Freeport membangun smelter di Gresik, Jawa Timur dengan kapasitas 2 juta ton konsentrat tembaga. Adapun progres proyek berupa pemadatan lahan serta mengeluarkan air-air yang di dalam tanah. Kemudian secara paralel juga dilakukan pemancangan sambil menunggu kesiapan lahan yang lainnya secara bertahap akan matang. Riza mengungkapkan groundbreaking smelter itu akan dimulai pada 2020 mendatang. Hanya saja dia belum bisa memastikan kapan tepatnya tahap konstruksi dimulai. Namun dia menegaskan smelter bakal beroperasi pada akhir 2022 mendatang.

Pembangunan smelter merupakan komitmen Freeport sesuai dengan amanat Undang-Undang pertambangan Mineral dan Batu bara. Freeport berkomitmen pembangunan smelter paling lambat pada 2023 mendatang. Komitmen itu tertuang dalam kesepakatan negoisasi dengan pemerintah terkait penerbitan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN