Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Freeport. Foto: IST

Freeport. Foto: IST

Freeport Indonesia Targetkan Penjualan Tembaga Naik 12,43%

Retno Ayuningtyas, Senin, 27 Januari 2020 | 14:36 WIB

JAKARTA, investor.id – Freeport McMoran salah satu pemegang saham PT Freeport Indonesia, menargetkan penjualan tembaga dari tambangnya di Indonesia naik 12,43% menjadi 750 juta pon pada tahun ini. Hal ini lantaran produksi tembaga dari tambang bawah tanahnya, Grasbers Block Cave (GBC) dan Deep Mill Level Zone (DMZ), mulai meningkat.

Dalam keterangan resminya, Freeport McMoran menyatakan realisasi penjualan tembaga dari tambang di Indonesia pada tahun lalu sebesar 667 juta ton dan emas 973 ribu ounces. Realisasi tersebut turun dibandingkan 2018 lalu di mana penjualan tembaga mencapai 1,13 miliar pon dan emas 2,36 juta ounce.

Meski demikian, menyusul semakin tingginya produksi dari tambang bawah tanah, Freeport menargetkan produksi tembaga yang lebih tinggi. Di tahun ini, penjualan tembaga ditargetkan naik menjadi 750 juta pon, sementara penjualan emas justru turun menjadi sekitar 800 ribu ounces. Peningkatan penjualan ini tergantung kinerja operasi, penjadwalan pengapalan, dan perpanjangan izin ekspor dari Pemerintah Indonesia.

President, dan Chief Executive Officer Freeport McMoran Richard Adkerson mengatakan, pihaknya telah berhenti memproduksikan tambang terbuka Grasberg pada kuartal keempat tahun lalu. Namun, produksi dari tambang bawah tanah GBC dan DMLZ sudah mulai meningkat sesuai rencana.

“Kami sudah sangat maju dalam transisi ke tambang bawah tanah ini. Hasilnya sesuai dengan target. Kami semakin dekat dengan rencana di 2021 di mana kami akan melihat hasil dari kerja 15 tahun lebih belakangan ini, bagaimana kami akan mendapat manfaat dari investasi dan kerja kami,” kata dia dalam conference call kinerja 2019, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, menyusul berakhirnya operasi di tambang terbuka, pihaknya akan dokus mengembangan produksi jangka panjang skala besar berbiaya rendah di tambang bawah tanahnya. Tambang bawah tanah ini akan menjadi sumber aliran kas perusahaan selama sekitar 20 tahun mendatang.

“Produksi dan profil aliran kas kami terus tumbuh, dan akan menjadi sangat signifikan, ini akan menguntungkan pemegang saham di masa mendatang,” ujar Adkerson.

Pada kuartal keempat 2019, lanjutnya, produksi bijih kedua tambang bawah tanah rata-rata 26 ribu ton per hari. Namun, di akhir 2019, produksi bijih ini sudah naik menjadi 33 ribu ton per hari. Mengacu presentasi Freeport, di kuartal pertama 2020 ini, produksi bijih keduanya ditargetkan mencapai 37 ribu ton per hari, yakni GBC 18 ribu ton per hari dan DMLZ 19 ribu ton per hari.

Pihaknya akan terus menambah drwabells untuk mengejar produksi bijih yang lebih tinggi. Pada kuartal keempat 2019 lalu, pihaknya telah menambah 34 drawbells di kedua tambang bawah tanah. “Kami menargetkan untuk terus menambah drawbells di 2020 mencapai rata-rata 48 drawbells per kuartal. Cave propagation untuk GBS dan DMLZ berjalan baik,” jelas dia.

Dalam keterangan resmi Freeport disebutkan investasi untuk pengembangan tambang bawah tanah ini direncanakan rata-rata US$ 800 juta per tahun selama 2020-2022, tidak termasuk kontribusi dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero).

Terus Naik

Adkerson menambahkan, produksi dari tambang bawah tanah akan terus meningkat ke depannya, dengan biaya yang lebih rendah. Karena itu lah, pihaknya fokus untuk mengelola dan mengembangkan haknya di Indonesia dengan bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia.

“Pendapatan kotor dari cadangan yang akan diproduksikan untuk 20 tahun ke depan, yakni US$ 3 untuk tembaga dan US$ 1.500 untuk emas, akan mencapai sekitar US$ 150 miliar atau sekitar 50% lebih tinggi dari yang diperoleh selama 30 tahun terakhir,” tegas dia.

Produksi bijih di GBC diperkirakan meningkat menjadi 30 ribu ton per hari di 2020 dan mencapai 130 ribu ton per hari di 2023. Sementara produksi bijih di DMLZ direncanakan akan naik menjadi 28 ribu ton per hari di 2020 dan mencapai puncak produksi 80 ribu ton per hari di 2022. Sehingga, di 2023, total produksi bijih dari tambang bawah tanah Freeport Indonesia akan mencapai 210 ribu ton per hari.

“Produksi puncak dari dua badan bijih ini diproyeksikan bisa menjadi rata-rata 1,3 miliar pon untuk tembaga dan 1,3 juta ounces untuk emas setiap tahunnya,” kata Adkerson.

Sejalan dengan kenaikan produksi tambang bawah tanah, Freeport Indonesia juga mmproyeksikan peningkatan penjualan. Walaupun, penjualan di tahun ini masih terbilang rendah, produksi akan mulai naik yakni menjadi 1,4 miliar pon untuk tembaga dan 1,4 juta ounces untuk emas pada tahun depan. Di 2022, penjualan tembaga ditragetkan sebesar 1,7 miliar pon dan emas 1,7 juta ounces. Puncaknya, di 2023, penjualan tembaga akan stabil di 1,7 miliar pon dan emas mencapai 1,8 juta ounces.

Menurut Adkerson, hitungan pendapatan kotor yang diproyeksikan hanya menghitung selama masa kontrak Freeport. Namun, cadangan yang ada di tambang tersebut dapat diproduksikan sampai lebih dari 2041, di mana kontrak Freeport dengan Pemerintah Indonesia berakhir. “Dan saya berharap Freeport akan terus dilibatkan [mengelola tambang] setelah 2041,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN