Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sumber: BSTV

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sumber: BSTV

Geliat Ekspor Sawit Sokong Pemulihan Ekonomi Nasional

Rabu, 18 Agustus 2021 | 18:57 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Menteri Koordinatoor Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, ekspor nasional pada kuartal II-2021 tumbuh tinggi,  sebesar 31,78% (year on year/YoY). Salah satu pendukungnya adalah geliat ekspor komoditas kelapa sawit, yang turut membantu pemulihan ekonomi nasional.

"Tercatat, harga minyak sawit (crude palm oil/CPO) internasional terus naik menjadi US$ 1.100 per ton, yang berdampak pada membaiknya nilai tukar petani (NTP) >103,4 dan meningkatnya harga tandan buah segat (TBS) berkisar Rp 1.800-2.100 per kilogram (kg)," jelas Airlangga, dalam webinar Peran dan Strategi Komunitas Sawit dalam Mendukung Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (18/8/2021).

Komoditas kelapa sawit berkontribusi 3,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, serta 13% terhadap total ekspor nonmigas sebesar US$ 11,5 miliar hingga Mei 2021 dan US$ 18,4 miliar pada 2020. Industri kelapa sawit nasional telah berkontribusi mengentaskan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja untuk 16 juta lebih pekerja.

"Dengan kata lain, industri kelapa sawit merupakan sektor strategis bagi perekonomian masyarakat yang perlu dikawal tidak hanya oleh pmerintah, namun oleh semua komponen masyarakat," kata Airlangga.

Airlangga yang juga ketua komite pengarah Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit, menambahkan, guna mendukung permintaan domestik produk sawit, pemerintah terus mendorong kebijakan melalui pengembangan biodiesel (B30) sebagai salah satu alternatif bahan bakar minyak (BBM). Hal ini bertujuanmengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar berbasis fosil.

"Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan rendah karbon," ujar  Airlangga.

Selain itu, dia menegaskan, hal ini untuk menegaskan komitmen Indonesia dalam penurunan deforestasi dan emisi gas rumah kaca dari sektor kelapa sawit. Pemerintah telah membuat kebijakan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO).

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN