Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja mengumpulkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja mengumpulkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

GIMNI: Kualitas Sawit Indonesia Masih Terbaik di Dunia

Kamis, 21 Januari 2021 | 10:29 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Kualitas minyak sawit Indonesia di pasar internasional masih yang terbaik dan belum ada tandingannya ditambah market share sawit Indonesia di pasar dunia sudah mencapai 33% dan cukup menjanjikan.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengatakan, meskipun minyak sawit Indonesia banyak yang menentang terutama dari Uni Eropa, tetapi kualitasnya masih terbaik.

Keunggulan minyak sawit yang paling utama di pasar ekspor adalah untuk bahan baku coklat dan bisa digunakan untuk menggoreng, sementara minyak bunga matahari yang dimiliki Eropa tidak bisa digunakan untuk menggoreng hanya digunakan untuk dressing salad.

Direktur Eksekutif GIMINI Sahat Sinaga
Direktur Eksekutif GIMINI Sahat Sinaga

Ia menjelaskan sawit merupakan anugrah yang  diberikan Tuhan untuk Indonesia jadi tetap harus didorong ekspornya dan sumber daya alam sawit yang dimiliki sudah menjadi kekuatan Indonesia.

Pangsa pasar palm oil dunia mencapai 230 juta ton dan 33% sudah dimiliki Indonesia, jika sawit tumbuh di Eropa pasti tidak akan ada complain.

“ Intinya, Uni Eropa mungkin cemburu sama Indonesia karena menghasilkan kualitas sawit terbaik,” ujar dia kepada Investor Daily, di Jakarta, Kamis (21/1).

Selain itu, sawit juga bisa mendorong ketahanan energi nasional seperti yang sudah dilakukan pemerintah melalui program B30. Jika program B30 terus didorong dan konsisten maka ketahanan energi nasional secara perlahan bisa dicapai dan Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor BBM.

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Berdasarkan perhitungan GIMNI, pada tahun 2025 Indonesia setidaknya membutuhkan 35 juta ton sawit untuk kebutuhan energi dan bisa dicapai apabila petani produktif.

Ia mengatakan sawit memang mempunyai banyak kelebihan dan sejak dari dulu memang menjadi primadona ekspor.
Sementara itu untuk Kebutuhan energi dari BBN ini bisa didukung oleh perusahaan besar dan petani, kolaborasi dari dua elemen ini penting sehingga tidak terjadi ego sektoral.

“ Bicara sawit tidak akan pernah berhenti, tantangan tetap ada kuncinya tetap maju dan tetap jalankan prinsip berkelanjutan,” ujar dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN