Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Greggina Talumewo Berbagi Informasi Peranan Co-Founders dan Investors dalam Sektor Industri Food & Beverage 

Sabtu, 12 Juni 2021 | 19:04 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Dikenal sebagai serial Entrepreneur muda, Greggina Talumewo telah berkecimpung di dunia wirausaha sejak tahun 2015. Meski begitu, banyak yang belum mengenal siapakah sebenarnya Greggina Talumewo dan kiat-kiatnya dalam dunia usaha. 

Entrepreneur wanita muda satu ini memulai perjalanan karirnya di dunia entrepreneurship sejak meracik usaha pertamanya dengan mendirikan coffee shop di daerah Jakarta Selatan. 

Bisnisnya ini berhasil menjadi salah satu coffee shop pertama yang mendapat injeksi investasi oleh investors ternama Tanah Air dan melakukan penetrasi pasar di Jepang. 

Greggina talumewo adalah salah satu Co-founder dari Kalyan Group yang merupakan induk dari Kopi Kalyan Jakarta. Dengan grup ini, Greggina berhasil membawa project coffee shop pertamanya menjadi proyek multiple outlets dengan valuasi tinggi. 

Tidak berhenti di situ, beberapa pencapaian hidup Greggina Talumewo juga meliputi kegiatan F&B lain under grup ini, yakni membuat side project bernama Kedai Inn dan juga salah satunya On three bersama Asiana Group. 

"Salah satu project terbaru saya saat ini adalah bisnis usaha makanan cepat saji (fast food) yang berkolaborasi dengan coffee shop di Jakarta Selatan yaitu Rumah Sagaleh. Hal yang membuat  saya tertarik dari kolaborasi ini adalah mempelajari sistem usaha syariah dimana Sagaleh merupakan salah satu coffee shop yang penerapan bisnisnya berbasis Syariah,” jelasnya.

“Ini merupakan  pengalaman kali pertama saya borkolaborasi dengan bisnis model seperti ini. Saya mendapatkan banyak metode-metode baru yang sangat berguna dan dapat saya terapkan dengan mudah dalam mejalankan kegiatan bisnis FnB melalui kolaborasi ini," paparnya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (12/6). 

Selain itu, sebagai serial entrepreneur wanita di Indonesia, Greggina juga banyak berkecimpung menjadi investor di beberapa F&B group lainnya yang sedang berkembang yaitu Srico group dan Honu group. Bagi serial entrepreneur seperti Greggina Talumewo, mengambil keputusan terbaik dalam menghadapi hambatan-hambatan di setiap usaha yang dijalaninya sungguh berbeda-beda. 

Banyak pengalaman yang dapat diambil dari perjalanan karir wanita satu ini. Dari kewajiban menimbang risiko hingga mengambil tindakan taktis dalam menghadapi hentakan-hentakan bisnis. 

Perbedaan terbesar yang dapat disimpulkan antara entrepreneur atau pengusaha (co-founder) dan investor adalah risiko. Sifat, jumlah dan pendekatan-pendekatan risiko yang diambil oleh pengusaha secara fundamental berbeda dari investor. 

Dalam melihat proposal investment Greggina Talumewo selalu menimbang whether to be an entrepreneur or to be an investor di proyek tersebut. Sebagai pengusaha, banyak risiko pribadi dan profesional yang harus diambil. 

"Kita kadang fokus dengan menciptakan suatu hal yang diikuti ketidakpastian. Jadi kalau bisnisnya tenggelam, ya, kita tenggelam bersama, kalau profitnya melambung ya kita senang bersama," jelasnya. 

"Jadi kita seringkali mengabaikan risiko gagal usahanya, karena fokus kita adalah creating value. Nah kalau sebagai investor itu kita sudah matang memikirkan risiko, perhitungan loss atau profit margin dan sisi ekspansinya itu sudah kita pikirkan jauh-jauh hari," lanjutnya. 

Menurut Greggina, penting untuk melihat bisnis dari berbagai aspek seperti antisipasi risiko hingga penyelesaian masalahnya karena setiap bisnis memiliki penanganan yang berbeda-beda. 

"Karena itu semua sesuai dengan pilihan saya tadi, apakah ingin menjadi pengusahanya atau investornya dalam proyek tersebut. Ada yang saya berperan sebagai co-founder dimana saya pasti akan ambil posisi dalam management dan ada juga saya berperan sebagai investor saja," imbuhnya. 

Jika disimak dari perspektif co-founder tersebut, karena banyak ketidakpastian dan hal-hal di luar prediksi, Greggina menyarankan untuk memikirkan semua masalah secara taktikal, micro views. Di sisi lain, harus tetap mempertahankan value creation yang biasanya mengakibatkan cashflow jadi berat. 

Di perusahaan di mana Greggina menjadi investor, ia mengambil posisi helicopter view: tidak melakukan micromanaging dan berpikir secara strategis. Memastikan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dari jauh dan melihat usaha dari angle di luar manajemen. 

"Yang akan saya fokuskan itu apakah harus cut atau loss, apakah harus tambahkan investasinya, apakah harus diversifikasi, apakah harus ekspansi?" ungkap Greggina Talumewo.

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN