Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia

DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Gubernur BI Kembali Jelaskan Kondisi Ekonomi Terkini, dari Rupiah yang Menguat hingga Harga yang Terkendali

Nasori/Triyan Pangastuti, Jumat, 10 April 2020 | 16:06 WIB

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo kembali memberi penjelasan mengenai perkembangan terkini perekonomian Indonesia maupun langkah dan kebijakan yang diambil bank sentral dalam menghadapi dampak pandemi virus corona baru atau Covid-19, Kamis (9/4). Dalam paparan selama hampir 42 menit yang disiarkan secara live streaming melalui kanal BI di Youtube itu, Perry setidaknya menyampaikan empat hal terkait perkembangan perekonomian terkini. Empat hal tersebut adalah terkait:

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia

 

#1 Nilai Tukar Rupiah

Hal pertama yang dijelaskan Perry adalah nilai tukar rupiah yang bergerak stabil dan cenderung menguat ke arah Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun. Ia menyebutkan, rupiah yang pada perdagangan Kamis (9/4) pagi dibuka di level Rp 16.200 per dolar AS, sekitar pukul 14.37 WIB, di tengah media briefing itu, ia menyebutkan rupiah ditransaksikan menguat di level Rp 15.930 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah menguat sesuai dengan mekanisme pasar yang dinamis, sehingga tidak terlepas dari peran pelaku pasar dan eksportir yang ikut menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Penguatan tersebut mengurangi kebutuhan Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi nilai tukar," jelas Perry yang juga merupakan ketua umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) itu.

Menurut Perry, nilai tukar rupiah yang bergerak stabil dan cenderung menguat tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah nilai tukar rupiah yang secara fundamental masih undervalued sehingga akan cenderung menguat. Faktor kedua, keyakinan pasar terhadap langkah-langkah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah, BI, OJK dan LPS dalam penanganan Covid–19 dan dampaknya, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun kredit.

 

Faktor ketiga adalah kondisi risiko di pasar keuangan global yang berangsur-ansur membaik, meskipun masih relatif tinggi. Salah satu indikatornya adalah indeks volatilitas pasar keuangan (Volatility Index/VIX) yang membaik. Sebelum adanya pandemi Covid-19, VIX berada pada level 18,8. Namun, sekitar minggu kedua-ketiga Maret 2020, VIX melonjak hingga pada level tertinggi yaitu 82. Menurut Perry, ini dikarenakan terjadi kepanikan pasar keuangan global.

Namun menurut Perry, VIX saat ini sudah kembali turun ke posisi sekitar 43,3. Ini tidak lepas dari langkah-langkah kebijakan dan stimulus fiskal yang dilakukan oleh berbagai negara. Selain itu, pasar juga melihat tingkat kenaikan kasus Covid-19 yang berangsur-angsur turun didukung oleh langkah-langkah berbagai negara untuk menekan penyebaran pandemi Covid-19.

Apalagi, Presiden Joko Widodo telah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mulai diterapkan di Provisni DKI Jakarta dan diperkirakan dapat membantu mencegah penyebaran virus corona. “Kondisi pasar keuangan memang belum pulih, masih relatif tinggi, masih naik turun, tapi kecenderungannya membaik,” jelas Perry.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat melangsungkan video press conference di Jakarta, Kamis (9/4/2020). BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat melangsungkan video press conference di Jakarta, Kamis (9/4/2020). BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

 

#2 Cadangan Devisa.

Sedangkan hal kedua yang dijelaskan Perry adalah perkiraan cadangan devisa yang minggu depan akan kembali meningkat ke posisi US$ 125 miliar, setelah akhir Maret lalu turun cukup tajam hingga di posisi US$ 121 miliar. Perkiraan kenaikan disampaikan menyusul penerbitan global bond bedenominasi dolar AS oleh pemerintah sebesar US$ 4,3 miliar pada Selasa (7/4) lalu.

“Menkeu sudah mengumungkan penerbitan global bond US$ 4,3 miliar. Proses penerbitan ini masih memerlukan penyelesaian administrasi. Tapi, setelah settlement selesai, minggu depan akan masuk dan cadangan devisa menjadi US$ 125 miliar,” ujar Perry.

Dengan penambahan tersebut, Perry menegaskan, posisi cadangan devisa Indonesia akan semakin lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan impor, pembayaran cicilan utang pemerintah, dan stabilisasi nilai tukar untuk beberapa bulan ke depan.

Sebelumnya BI melaporkan, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2020 tercatat sebesar US$ 121 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2020 yang sebesar US$ 130,4 miliar. Itu berarti terjadi penurunan hingga US$ 9,4 miliar hanya dalam sebulan.

Penurunan cadangan devisa pada Maret 2020 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan keperluan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah kondisi extraordinary karena kepanikan di pasar keuangan global yang dipicu pandemi Covid-19 secara cepat dan meluas ke seluruh dunia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia

 

#3 Repo Line dengan The Fed

Hal ketiga yang dijelaskan Perry adalah perkembangan kerja sama repurchase agreement line (repo line) BI dan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) senilai US$ 60 miliar. Menurut dia, proses administrasi kerja sama telah selesai sehingga siap untuk digunakan. Namun, fasilitas pemenuhan kebutuhan dolar ini diperuntukkan sebagai langkah antisipasi dan hanya digunakan jika diperlukan.

"Masalah legal, administrasi, dan teknikal terkait fasilitas repo line sudah selesai. Jadi, sewaktu-waktu bisa digunakan. Ini adalah repo line, bukan swap line, sehingga tidak menambahkan cadangan devisa. Tapi, kami tidak akan menggunakan ini dalam waktu dekat," tegas Perry.

Ia mengeklaim bahwa keberhasilan kerja sama ini menunjukkan tingkat kepercayaan dari bank sentral AS kepada Indonesia, sebab tak banyak negara berkembang (emerging market) yang diberikan fasilitas repo line ini.

Kerja sama ini juga memberikan keyakinan kepada inevestor asing bahwa kondisi ekonomi dalam negeri memiliki fundamnetal yang terjaga. "Ini kepercayaan yang diberikan terhadap kita bagaimana ekonomi dikelola dan bagaimana prospek ekonomi ke depan. Insya Allah akan lebih baik," tutur Perry.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia

 

#4 Harga Terkendali dan Rendah

Hal keempat yang dijelaskan Perry adalah seputar perkembangan harga-harga di pasar yang terkendali dan rendah. BI memperkirakan, inflasi pada April 2020 berada di kisaran 0,2% secara month to month (mtm) dan 2,8% secara year on year (yoy). Perkiraan yang didasarkan pada hasil survei pemantauan harga hingga minggu kedua April 2020 di 46 kota di Indonesia tersebut menunjukkan bahwa inflasi terkendali meskipun wabah Covid-19 tengah mewabah di Tanah Air.

Ia menegaskan, bank sentral pun akan terus berkoordinasi secara erat bersama Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk memantau ketersediaan pasokan.

Ia menyebut, beberapa faktor yang menyebabkan harga tetap terkendali hingga saat ini. Pertama, berbagai faktor yang berpengaruh terhadap inflasi tetap terkendali. Kedua, pertumbuhan ekonomi diproyeksi lebih rendah sehingga kemampuan kapasitas produksi nasional akan mengalami kesenjangan output. "Ini artinya tekanan inflasi dari sisi permintaan terkendali," tegas Perry.

Ketiga, dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kenaikan harga rendah. Dan keempat, terjangkarnya ekspektasi inflasi. "Inflasi terjangkar apakah di masyarakat, konsumen, maupun produsen. Itu tidak lepas dari bagaimana BI menjaga kredibiltas moneter yang selama ini telah dibangun," ujar papar Perry.

Ia meyakini bahwa inflasi akan tetap rendah pada Ramadan mendatang akibat adanya pembatasan sosial. Pada Ramadan memang biasanya meningkat, hal itu tidak akan terjadi karena ada pembatasan sosial. Misalnya, yang biasanya mudik sekarang tidak diperbolehkan mudik agar pewabahan Covid-19 tidak meluas.

"Dampak ke ekonomi bisa dimitigasi. Kenaikannya akan jauh lebih rendah dari dulu. Kebutuhan pasokan bagaiman? Pemerintah terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga distribusi" pungkas Perry.

 

 

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN