Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kurs rupiah.

Kurs rupiah.

Gubernur BI: Nilai Tukar Rupiah Masih Undervalued

Senin, 19 Oktober 2020 | 18:37 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, nilai tukar rupiah masih memiliki potensi untuk menguat, dilihat dari sejumlah indikator penopang nilai mata uang dari dalam negeri.

Hal ini tidak terlepas dari upaya Bank Sentral dalam melakukan intervensi di pasar spot, relaksasi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara dari pasar sekunder.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Senin (19/10) nilai tukar rupiah per dollar sebesar Rp 14.741 per dollar AS. Sebelumnya posisi nilai tukar rupiah pada Jumat (16/10) mencapai Rp 14.766.

“Langkah stabilisasi yang kami lakukan dari nilai tukar Alhamdullilah relatif stabil. Kami masih yakin bahwa nilai tukar ini masih undervalued,” ucap Perry dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2020 di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara virtual, Senin (19/10).

Perry Warjiyo. Foto: IST
Perry Warjiyo. Foto: IST

Ia mengatakan puncak pelemahan nilai tukar rupiah terjadi pada 23 Maret 2020 saat itu pelemahan rupiah mencapai 16,2%. Saat itu nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.608 per dollar AS, Tetapi dari 23 Maret 2020 hingga 12 Oktober 2020 terjadi penguatan nilai tukar mencapai 12,76%

“Ini langkah stabilisasi yang kami lakukan untuk membangun confident maupun melalui intervensi,” ucap Perry.

Cadangan devisa Bank Indonesia pada September 2020 sebesar US$ 135,2 miliar. Jumlah ini diyakini cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar. Di saat yang sama inflasi, bahkan dalam posisi deflasi 0,05% pada September 2020. Pihak Bank Indonesia juga sudah melakukan quantitative easing sebesar Rp 667,6 triliun. Injeksi likuiditas ke perbankan dengan ekspansi moneter Rp 496,8 triliun dan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sekitar Rp 155 triliun

“Apalagi perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri masih sangat tinggi. Karena kedepan berpotensi untuk menguat,” tutur Perry.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN