Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Jumat (05/06/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Jumat (05/06/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Perry Beri Sinyal Belum Naikkan Suku Bunga Acuan Pekan Ini

Rabu, 22 Juni 2022 | 17:14 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberi sinyal tidak ada kenaikan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada pekan ini. Arah kebijakan suku bunga masih tertuju pada upaya untuk mendorong pemulihan perekonomian.

"Kebijakan moneter akan terus pro-stability. Dengan inflasi yang rendah, kita tidak perlu terburu-buru untuk menaikkan suku bunga sampai ada tekanan fundamental pada inflasi," kata Perry dalam acara Peluncuran Laporan Indonesia Economic Prospects June 2022, Rabu (22/6/2022).

Dalam dua hari hingga Kamis (23/6/2022), BI dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (BI) bulanan yang di antaranya mengambill keputusan terkait suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Lebih lanjut ia mengatakan, realisasi inflasi hingga Mei lalu tercatat masih rendah apabila dibandingkan negara lain. Hal ini tercermin dari indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2022 yang mengalami inflasi 0,40% (mtm) ataupun inflasi IHK secara yoy 3,55% dan itu inflasi inti hanya 2,58% (yoy).

Dengan demikian, BI memproyeksikan inflasi sepanjang tahun ini akan mencapai 4,2% (yoy) atau melebihi batas sasaran BI sebesar 3 plus minus 1%.

"Saya yakin, koordinasi dan koordinasi yang kuat antara pemerintah dan bank sentral dapat mengelola stabilitas harga. Tahun ini perkiraan inflasi kami akan berada di atas target kami, 4%, mungkin sekitar 4,2%. Ini masih sangat rendah, dibandingkan negara lain. Tahun depan kami yakin, inflasi kami akan kembali ke level target kami 3% plus minus 1%," ucap dia.

Bank sentral juga akan terus melanjutkan stabilisasi nilai tukar rupiah dan memulai normalisasi likuiditas untuk mengarahkan kebijakan moneter yang mendukung stabilitas perekonomian pada tahun ini.

Normalisasi likuiditas dilakukan melalui peningkatan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 6% pada Juni 2022, kemudian menjadi 7,5% pada Juli 2022, dan September 2022 menjadi 9%.

Kendati demikian, Perry menilai, kondisi likuiditas tersebut masih akan cukup bagi perbankan untuk memberikan kredit, serta berpartisipasi dalam operasi moneter pemerintah.

Di sisi lain, BI terus melakukan digitalisasi sistem pembayaran untuk membangun ekonomi dan keuangan digital nasional guna mencapai inklusi ekonomi dan keuangan guna mendukung UMKM, termasuk untuk wanita dan pemuda.

"Jadi saat kebijakan moneter mendukung stabilitas, kebijakan lainnya seperti makroprudensial dan sistem pembayaran digital masih akan didorong untuk pertumbuhan ekonomi," ungkap dia.

Selain itu ia menegaskan, akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan BI bersama dengan pemerintah untuk memastikan stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, pemulihan ekonomi Indonesia ke depannya akan terus berlanjut dan menuju ke prospek jangka menengah, yaitu pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN