Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

PEMERINTAH DIMINTA TETAPKAN HARGA BATAS ATAS

Harga Batu Bara Menggila, Industri Mulai Oleng

Selasa, 19 Oktober 2021 | 15:57 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Harga batu bara yang tak terkendali mulai mengancam beberapa industri di Tanah Air. Jika tidak ditangani dengan benar, harga batu bara akan membuat efek yang berkesinambungan, mulai dari industri kolaps sampai bermunculan pengangguran.

Pemerintah harus segera melakukan intervensi guna menyelamatkan sejumlah industri di Tanah Air yang menggunakan batu bara dalam kegiatan operasionalnya. Hal ini seiring dengan harga batu bara yang meroket hingga menembus US$ 200 per ton.

Sejumlah industri yang terkena pukulan tingginya harga batu bara dan berakibat parah mengakibatkan kegiatan operasionalnya tidak bisa lagi berjalan maksimal. Bahkan, ada yang menurunkan kapasitas produksinya. Industri tersebut di antaranya semen, tekstil, kertas, pupuk hingga industri pengolahan dan pemurnian serta industri kimia lainnya.

“Pemerintah harus menetapkan selling price, harga maksimum batu bara untuk kebutuhan dalam negeri (DMO batu bara). Persyaratannya juga harus dicantumkan, misalnya, harus bayar tunai atau kredit dengan tenor berapa lama,” ujar Jemmy Kartiwa Sastraatmaja, ketua umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Selasa (19/10/2021).

Sebagai informasi, harga batu bara saat ini masih berada di atas US$ 200 per ton. Harga yang begitu tinggi dikhawatirkan akan membuat pengusaha batu bara nasional jor-joran ekspor ketimbang memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Dari data yang ada, Rabu (6/10/2021), harga batu bara di pasar ICE Newcastle Australia tercatat mencapai US$ 236 per ton, anjlok 15,71% dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai US$ 280 per ton. Meski anjlok, harga itu masih tinggi, karena di atas US$ 200 per ton, tertinggi sejak 2008.

Melihat tingginya harga batu bara, Jemmy khawatir akan semakin banyak industri yang mengurangi kapasitas produksi. Bahkan, ada tanda-tanda sejumlah industri akan menutup usaha. “Kalau ini terjadi, ujung-ujungnya karyawan akan dirumahkan lagi. Kami berharap hal tersebut tidak terjadi,” ujar dia. .

Oleh karena itu, Jemmy meminta produsen batu bara agar juga memperhatikan kebutuhan batu bara dalam negeri. Pasalnya, jika dibandingkan untuk ekspor, kebutuhan DMO batu bara terbilang kecil, hanya 25%. Jika kebutuhan tersebut terpenuhi, industri tekstil dan industri lainnya bisa beroperasi secara maksimal.

“Intervensi pemerintah dengan menetapkan selling price akan membuat pelaku industri mempunyai panduan atau patokan harga untuk DMO batubara, sehingga mereka bisa berhitung untuk keperluan ongkos produksinya,” tandasnya.

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga menyampaikan sinyalemen bahwa kenaikan harga batu bara justru bisa menjadi bumerang bagi industri dalam negeri. Pasalnya, ongkos yang harus dikeluarkan industri untuk sumber energinya akan menjadi lebih besar dari biasanya.

Namun, di sisi lain tren kenaikan harga batu bara ini bisa menjadi berkah bagi Indonesia karena bisa meningkatkan penerimaan negara. "Yang menjadi tantangan bagaimana batu bara di dalam negeri tetap kompetitif. Artinya, jika harganya terlalu tinggi industri dalam negeri akan kesulitan memperoleh energi karena terlalu mahal,” ujarnya.

Karena itu, Airlangga menekankan perlu adanya keseimbangan antar sektor agar industri tidak dirugikan dari lonjakan harga batu bara ini. “Kita harus mendorong keseimbangan antar-sektor tersebut,” tandasnya.

Namun, pernyataan Menko Perekonomian tersebut masih sebatas wacana. Pasalnya, hingga saat ini, pemerintah belum mengambil langkah-langkah strategis guna meredam gejolak kepanikan industri-industri dalam negeri akibat tingginya harga batu bara.

 

 

 

 

 

 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN