Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Harga Minyak Turun

Harga Minyak Turun

Harga Minyak Jeblok, Defisit Anggaran Bertambah Rp 12,2 Triliun

Rabu, 22 April 2020 | 09:36 WIB
Triyan Pangastuti

Jakarta, investor.id-Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan memperkirakan harga minyak dunia yang terus mengalami penurunan bisa menambah defisit anggaran hingga Rp 12,2 triliun. Proyeksi itu terjadi apabila harga ICP minyak lebih rendah dari asumsi harga ICP minyak yang ditetapkan dalam Perpres No 54 Tahun 2020. "Perubahan ICP akan berdampak terhadap APBN mengingat baseline asumsi harga ICP dalam Perpres 54 Tahun 2020 adalah US$ 38 per barel untuk harga rata-rata sepanjang 2020," tulis keterangan BKF di Jakarta, Rabu (22/40).

Dengan demikian, jika harga minyak dunia terus mengalami penurunan sehingga ICP menjadi US$ 30,9 per barel rata-rata setahun maka defisit diperkirakan bertambah Rp 12,2 triliun. Pemerintah terus melakukan pemantauan untuk melakukan kebijakan antisipatif termasuk pengendalian defisit, salah satunya melalui evaluasi atas belanja nonproduktif. Pemerintah juga akan mengambil langkah-langkah mitigasi untuk menjaga kesinambungan fiskal dan pertumbuhan ekonomi.

Dalam kesempatan ini, BKF menyatakan harga minyak mentah dunia menurun sejak awal tahun karena aktivitas ekonomi global terdampak wabah Covid-19 yang eskalatif. Harga terus menurun sejak Senin (13/4), terutama jenis West Texas Intermediate (WTI), yang disebabkan oleh permintaan global yang semakin menurun dan sentimen negatif dari perekonomian global.

Saat ini, harga WTI kontrak Mei berada pada level negatif, sempat minus US$ 37 per barel, sehingga produsen harus segera menyerahkan stok kepada konsumen karena faktor penyimpanan terbatas. Namun, kondisi ini diperkirakan berdampak secara jangka pendek, mengingat harga jual WTI kontrak pada Juni masih berkisar pada US$ 20 per barel. Sementara itu, harga ICP minyak Indonesia sekarang ini masih sedikit di atas harga minyak Brent.

 

 

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN