Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Head of Research JLL Indonesia James Tylor. (Investor Daily/Imam Mudzakir)

Head of Research JLL Indonesia James Tylor. (Investor Daily/Imam Mudzakir)

Harga Sewa Perkantoran CBD Masih Tertekan

Rabu, 29 Januari 2020 | 15:46 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Konsultan properti JLL Indonesia menilai, meski ruang penyerapan perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) tinggi pada 2019, tingkat rental atau harga sewa masih tertekan. Hal ini menyebabkan tingkat hunian (okupansi) ikut tertekan di angka 76%.

“Penyerapan ruang perkantoran cukup tinggi. Tetapi meski tingkat penyerapan yang cukup tinggi dengan tingkat pasokan yang selesai beberapa tahun terakhir menyebabkan tingkat hunian masih tertekan di angka 76% rata rata di kawasan CBD,” ungkap Head of Research JLL Indonesia James Tylor di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Menurut Tylor, penyerapan ruang sewa perkantoran di kawasan CBD Jakarta selama 2019 mencapai 200 ribu meter persegi dan 50% lebih adalah berasal dari perusahaan berbasis teknologi dan juga coworking space. “Harga sewa untuk bangunan kelas grad A masih menglami penurunan sebesar 4% dari tahun 2018,” kata dia.

Catatan JLL Indonesia menyebutkan bahwa suplai ruang perkantoran di CBD Jakarta selama tahun 2019 mencapai 360 ribu meter persegi. Harga rental turun 30% dan tingkat okupansinya di angka 76%. “Diperkirakan tarif rental ruang perkantoran di CBD Jakarta ini turun 4% dan terus tertekan sampai tahun ini dan masuknya suplai baru sebesar 500 ribu meter persegi sampai dengan tahun 2020. Kami perkirakan tahun berikutnya bakal pulih,” kata dia.

Sementara itu, untuk kawasan non-CBD, lanjut dia, okupansi ruang perkantoran di kawasan ini masih cukup stabil. Bahkan, penyerapan ruang perkantoran di kawasan non-CBD mulai meningkat dalam 10 tahun terakhir dengan tingkat penyerapan mencapai 132 ribu meter persegi. “Dibandingkan dengan tahun 2018 tahun 2019 lebih bagus dan tingkat okupansi cukup stabil,” kata dia.

Penyebaran tingkat okupansi terbesar berada di kawasan Jakarta Timur sebesar 93%, kemudian Jakarta Selatan sebesar 82%, Jakarta pusat 80%, kawasan TB Simatupang mencapai 79%, dan kawasan Jakarta Barat 73%.

Pada kesempatan itu, Head of Market JLL Indonesia Angela Wibawa mengatakan, penyerapan ruang sewa perkantoran di CBD pada triwulan IV-2019 sebesar 26 ribu meter persegi, namun tingkat hunian masih menunjukkan penurunan karena tingginya volume pasokan selama beberapa tahun terakhir.

“Penyerapan di CBD di dominasi oleh perusahaan berbasis teknologi yang tidak lepas dari peran operator co-working yang masih aktif melakukan ekspansi di gedung kelas A. Berbeda dengan kondisi CBD. Pada kawasan non-CBD penyerapan triwulan ini hanya sebesar 9.000 meter persegi dikarenakan tidak adanya gedung baru yang selesai dibangun.

Diperkirakan pada 2020 bakal ada tambahan pasokan sebesar 520 ribu meter persegi, sehingga tingkat hunian terus tertekan dan akan mengalami stabilisasi pada tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, Head of Advisory JLL Indonesia Vivin Harsanto menilai, tingginya tingkat okupansi ruang perkantoran di Jakarta Timur sebesar 93% disebabkan pemilik gedung menggunakan sendiri ruangnya perkantorannya, sehingga ruang perkantoran terisi. Selain itu, ruang perkantoran di kawasan Jakarta Timur terbatas dibandingkan kawasan lain seperti di kawasan TB Simatupang dan lainnya.

Vivin menambahkan, meski harga rental tertekan tingkat penyerapan di gedung perkantoran CBD maupun non-CBD, sebenarnya relatif cukup baik. “Ada sedikit peningkatan jika dibandingkan tahun lalu. Hanya karena pasokan yang melimpah, membuat tingkat okupansi dan harga sewa sedikit tertekan,” ujar Vivin.

Dia menambahkan, harga sewa perkantoran Jakarta di tahun lalu terjadi penurunan sebesar 4% dan belum banyak perubahan pada tahun ini. “Kami optimistis dan mengharapkan okupansi gedung perkantoran di wilayah CBD tahun ini naik menjadi 78%, di mana pada tahun sebelumnya masih berada di level 76%,” kata dia.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN