Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Pertamina Pusat. Foto: Pertamina

Gedung Pertamina Pusat. Foto: Pertamina

Hingga 2024, Pertamina Butuh Capex US$ 92 Miliar

Kamis, 4 Maret 2021 | 17:39 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id -- Untuk membangkitkan sektor energi nasional, PT Pertamina (Persero) sepanjang 2020-2024 membutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 92 miliar. Jumlah tersebut untuk mendanai sekitar 300 proyek yang akan dikerjakan Pertamina selama lima tahun.

Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini mengungkapkan, mayoritas kebutuhan belanja tersebut untuk sektor upstream, yaitu sebesar US$ 64 miliar. Lalu untuk sektor downstream US$ 20 miliar, selanjutnya untuk gas, power dan NRE sebesar US$ 8 miliar.

“Dalam lima tahun ke depan hingga 2024, total capex kita kurang lebih US$ 92 miliar. Ini yang tentunya kalau kami melakukan sendiri tentunya balanced kami juga overstretch. Kita akan mengharapkan dari sisi capital financing apakah itu dari commercial bank, apakah dari multilateral, kemudian dari SWF dan juga tentunya dari SMI, dan juga other financier yang lain, kita sangat terbuka," kata Emma Sri Martini dalam webinar “Prospek BUMN Sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund” yang diselenggarakan Universitas Indonesia, Kamis (4/3/2021).

Emma mengungkapkan, dari kebutuhan belanja US$ 92 miliar tersebut, yang bisa dipenuhi dari internal funding sekitar 38%, sedangkan 62% akan mengandalkan partnership dan external funding.

"Jadi selebihnya kurang lebih di 62% itu tentunya kita expect dari partnership dan dari external funding, dari sisi bank loan atau dari sisi unlock value. Ini yang ke depan kita garap dan akan sangat terbuka untuk berpatner," kata Emma.

Untuk kebutuhan belanja per sektor, rinciannya untuk sektor upstream yaitu untuk merger dan akuisisi US$ 45 miliar, business development (BD) organik US$ 14 miliar, dan juga untuk infrastruktur yang sifatnya maintenance sekitar US$ 6 miliar.

Lalu, untuk sektor downstream, rinciannya adalah US$ 18 miliar untuk kilang baru dan upgrade kilang eksisting, serta distribusi dan pemasaran infrastruktur US$ 2 miliar.

Sedangkan untuk sektor gas, power dan NRE, rinciannya pipa T&D US$ 4 miliar, liquefaction and regas unit US$ 300 juta, IPP US$ 3 miliar, dan lain-lain US$ 700 juta.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN