Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Hingga 31 Agustus, BI sudah Beli SBN Rp 137,49 Triliun

Selasa, 14 September 2021 | 14:19 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, BI tetap berkomitmen untuk membantu pendanaan APBN melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana. Hingga 31 Agustus 2021, bank sentral sudah melakukan pembelian SBN di pasar perdana sebesar Rp 137,49 triliun.

“Ini terdiri atas Rp 62,03 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 75,46 triliun melalui mekanisme lelang tambahan atau greenshoe option (GSO),” ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Selasa (14/9). Sementara itu, untuk pembelian SBN di pasar perdana periode Juli hingga akhir Agustus 2021 tercatat Rp 16,65 triliun.

Sebelumnya, pada semester I 2021, BI juga membeli SBN melalui pasar perdana Rp 120,83 triliun dari 26 kali lelang yang dilakukan pemerintah. Rinciannya, pembelian SBN Rp 79,66 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp 41,18 triliun. "BI juga membeli SBN di pasar sekunder Rp 8,6 triliun dalam rangka stabilitas nilai tukar rupiah," terang dia.

Destry menambahkan, bank sentral akan memperkuat dan mempererat koordinasi dan sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk mempercepat stimulus fiskal dan mendorong permintaan di sektor riil.

Selain membeli SBN di pasar perdana, bank sentral juga telah menambah likuiditas atau quantitative easing (QE) di perbankan sebesar Rp 118,4 triliun hingga 31 Agustus 2021. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa kondisi likuiditas tetap longgar karena didorong oleh kebijakan moneter yang akomodatif.

“Sehingga, injeksi likuiditas oleh BI sejak 2020 hingga 31 Agustus 2021 mencapai Rp 844,92 triliun atau setara 5,3% PDB. Injeksi likuiditas ke perbankan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional,” tandas Destry.

Lebih lanjut ia mengatakan, injeksi likuiditas tersebut mendukung likuiditas perekonomian yang tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) yang hingga Juli 2021 tumbuh 14,9% secara year on year (yoy) dan uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat tumbuh 8,9% (yoy).

Selain itu, kondisi likuiditas perbankan yang longgar juga terlihat pada rasio Alat Likuid Terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yaitu 32,51% dan pertumbuhan DPK yang tetap terjaga di 10,43%.

“Ketahanan sistem keuangan tetap terjaga selama semester I  2021 meskipun fungsi intermediasi perbankan masih perlu ditingkatkan. Rasio kecukupan modal di Juni 2021 tetap tinggi yaitu 24,3% dan rasio non-performing loan tetap terjaga di 3,24% (bruto) dan secara neto 1,06%,” tutur dia.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN