Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro

Hingga Akhir Tahun, Ekonom Mandiri Perkirakan BI7DRR Tetap 3,5%

Selasa, 25 Mei 2021 | 18:31 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro telah memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate (7DRRR) pada level 3,5% pada periode Mei 2021. Ke depan, ruang penurunan suku bunga acuan diprediksi terbatas, dan diperkirakan BI tetap menahan suku bunga di posisi 3,5% hingga akhir tahun ini.

"Pandangan kami, ruang untuk penurunan suku bunga kebijakan terbatas. Kami perkirakan, BI tetap mempertahankan BI-7DRRR pada 3,50% hingga akhir tahun 2021, seiring dengan pelaksanaan quantitative easing dan pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk mempercepat pemulihan," ucap Andry dalam keterangannya, Selasa (25/5).

Andry menyebut, bauran kebijakan moneter dan makroprudensial BI yang akomodatif tetap dibutuhkan untuk mendukung pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi Covid-19.

Gubernur BI Perry Warjiyo. Sumber: BSTV
Gubernur BI Perry Warjiyo. Sumber: BSTV

Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter yang akomodatif dan mempercepat digitalisasi sistem pembayaran Indonesia untuk memperkuat upaya pemulihan ekonomi nasional. Untuk itu, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 3,5% dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility dengan masing-masing tetap sebesar 2,75% dan 4,25%.

"Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah, serta upaya untuk menjaga stabilitas nilai rupiah dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional," kata Perry dalam konferensi pers.

Lebih lanjut, Andry menjelaskan, suku bunga kebijakan yang relatif rendah tersebut masih tepat untuk beberapa waktu ke depan untuk memastikan pemulihan ekonomi yang solid, khususnya pemulihan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan akan membaik.

"Namun, ruang BI untuk memangkas lebih jauh suku bunga kebijakan terus menyempit karena pemulihan ekonomi AS semakin cepat dari yang diantisipasi, meningkatkan kekhawatiran atas tekanan inflasi di negara itu yang akibatnya menaikkan imbal hasil US Treasury 10 tahun," urai Andry.

Terlebih lagi, The Fed telah memberikan sinyal untuk melakukan pembicaraan tapering. Oleh karena itu, BI diharapkan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan agar suku bunga diferensial mendatang tetap menarik.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN