Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
obligasi Surat Utang Negara (SUN)

obligasi Surat Utang Negara (SUN)

Hingga Juli, Aliran Modal Asing Masuk Capai Rp 192,5 Triliun

Minggu, 28 Juli 2019 | 12:43 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) mencatat, aliran modal asing masuk (capital inflow) ke Indonesia hingga pekan keempat Juli 2019 mencapai Rp 192,5 triliun. Modal asing itu masuk melalui sejumlah instrumen, terutama Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 119,3 triliun dan saham sebesar Rp 72,2 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, aliran modal asing yang masuk itu mengonfirmasi bahwa perekonomian nasional memiliki prospek yang baik dan investasi memiliki imbal hasil yang menarik. "Itu juga merupakan repsons positif atas berbagai kebijakan yang telah ditempuh bank sentral, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemerintah," ujar dia di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (26/7).

Di samping itu, ia menilai, pergerakan nilai tukar rupiah masih akan tetap stabil. Hal ini pula yang akan mendorong terus masuknya aliran modal asing yang ditunjukkan melalui premi risiko yang kian menurun. "Imbal hasil dari premi risiko masih menarik. Kalau sekarang ada pergerakan naik atau turun itu karena faktor teknikal, bukan faktor fundamental," kata Perry.

Kendati demikian, Bank Indonesia tetap mewaspadai adanya sentimen negatif dari keputusan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menahan suku bunga dan memberi sinyal acuan serta isu Brexit yang kembali meningkat .

Baru-baru ini, ECB di luar perkiraan menahan suku bunga acuannya. Padahal, pasar sebelumnya berekspektasi akan terjadi penurunan. ECB pernah memperkirakan nilau tukar euro menurun, tetapi yang terjadi euro justru menguat.

“Di satu sisi, ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi (Eropa), tapi di sisi lain meningkatkan imbal hasil di Eropa sehingga itu kenapa euro menguat terhadap dolar AS. Ini pergerakan mata uang, waktu ke waktu yang bersifat teknikal,” ujar Perry,

Kendati demikian, Perry meyakini bahwa mekanisme pasar saat ini tetap berjalan dan BI akan selalu berada di pasar. “Sejauh ini kami bantu mekanisme pasar itu berjalan sangat baik. Terima kasih juga sudah terus menyuplai dari pasar valas pada perbankan. Ini juga menjalankan mekanisme pasar yang baik. Sehingga, para importir atau yang butuh dolar juga tidak nubruk-nubruk karena memang yakin bahwa nilai tukarnya itu stabil. Insyallah akan terus kita jaga stabil,” pungkas dia.

Jika mengacu data Bloomberg, Jumat (26/7) pukul 14.45 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,18% ke level Rp 14.001 per dolar Amerika Serikat (AS). Padahal, pada pertengahan Juli, kurs rupiah sempat berada di bawah Rp 14.000 per dolar AS.

 

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN