Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Febrio Kacaribu. (Foto: Beritasatu/Herman)

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Febrio Kacaribu. (Foto: Beritasatu/Herman)

Hingga Juli, APBN Masih Surplus Rp 106,1 Triliun

Senin, 8 Agustus 2022 | 13:51 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah mencatat realisasi APBN hingga akhir Juli 2022 masih surplus sebesar Rp 106,1 triliun. Angka tersebut setara 0,57% dari produk domestik bruto (PDB).

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, surplus itu terjadi karena pendapatan negara masih mengalami pertumbuhan yang baik dengan rincian pendapatan negara Rp 1.551 triliun atau tumbuh 21,2% (yoy), sedangkan belanja negara hanya tumbuh 13,7% (yoy) atau setara Rp 1.444,8 triliun.

"Sampai dengan akhir bulan Juli, tren yang kita dapatkan sekarang adalah dengan pendapatan negara yang tumbuh cukup tinggi, sehingga sampai akhir Juli 2022 kita masih hadapi surplus, bukan defisit untuk APBN-nya," ujarnya dalam Taklimat Media, Senin (8/8/2022).

Baca juga: INDEF Beberkan Tantangan Ekonomi Kuartal III-IV, Jangan Euforia Dulu!

Febrio mengatakan, surplus APBN ini melanjutkan tren dari yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya. Surplus hingga Juli 2022 tersebut bahkan lebih tinggi ketimbang posisi akhir Juni 2022 yang senilai Rp 73,6 triliun.

Lebih rinci penerimaan negara yang tumbuh signifikan meliputi, penerimaan perpajakan tercatat senilai Rp 1.213,5 triliun atau tumbuh 24,4% (yoy) yang terdiri atas penerimaan pajak Rp 1,028,5 triliun atau tumbuh 25,8% (yoy), serta kepabeanan dan cukai Rp 185,1 triliun dengan pertumbuhan 17,7% (yoy). Kemudian, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), realisasinya Rp 337,1 triliun dengan pertumbuhan 11,4 (yoy).

Sementara dari sisi belanja, realisasinya yang senilai Rp 1.444,8 triliun atau tumbuh 13,7% yang meliputi belanja pemerintah pusat senilai Rp 1.031,2 triliun atau tumbuh 18,5% (yoy), belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) tercatat Rp 513,6 triliun atau turun 11,4% (yoy), dan belanja non Kementerian dan Lembaga sebesar Rp 517,6 triliun atau tumbuh 62,3% (yoy).

Baca juga: Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat, Berikut Sejumlah Saham Pilihan

Untuk subsidi hingga Juli, realisasinya Rp 116,2 triliun atau tumbuh 17,5% (yoy), sedangkan kompensasi BBM dan listrik tercatat Rp 104,8 triliun atau tumbuh signifikan hingga 512,7% (yoy).

Terakhir untuk belanja transfer ke daerah dan dana desa Rp 413,6 triliun atau hanya tumbuh 1,7%. Dengan demikian keseimbangan primer hingga akhir Juli tercatat Rp 316,1 triliun atau turun 23,9% (yoy), sehingga pembiayaan anggaran juga ikut turun 16% (yoy) atau setara Rp 196,7 triliun.

"Pembayaran subsidi dan kompensasi masih akan terus berjalan hingga akhir tahun, jadi outlook defisit APBN hingga akhir tahun akan tetap ke arah 3,92% terhadap PDB atau lebih baik. Ini semua akan kami pantau apakah kita bisa tetap menjaga pendapatan negara tetap tumbuh kuat dan belanja harus kami pastikan digunakan seefisien mungkin dengan spending better," tegasnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com