Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Investor Daily/DOk

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Investor Daily/DOk

IEI: 2020, Ekonomi Indonesia akan Tumbuh 5-5,2%

Triyan Pangastuti, Jumat, 6 Desember 2019 | 19:57 WIB

JAKARTA, investor.id - Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intteligence (IEI), Sunarsip memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 berada di kisaran 5,0% hingga 5,2%, optimismnya untuk pertumbuhan tahun depan dikarenakan indikator inflasi dan nilai tukar yang masih terkendali.

"Kalau inflasi bisa di bawah 4%, artinya pemerintah masih bisa mempertahannkan daya beli. Siapa yang ada di situ? Middle class yang di situ jumlahnya 60% dari populasi," katanya dalam diskusi di kawasan Tendean, Jakarta, Jumat (6/12).

Kemudian ia memprediksi inflasi tahun 2020 berada di kisaran plus minus 3,3%, sejalan dengan langkah pemerintah dan BI untuk mengendalikan harga dan menjaga ketersediaan bahan pangan melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Di samping itu program pemerintah untuk meluncurkan kartu pra kerja yang diperuntukkan untuk lulusan baru yang ingin mencari pekerjaan dan yang terkena PHK dapat mengikuti pendalaman dan meningkatkan keahlian atau re- skilling . Hal ini dinilai Sunarsip akan menjaga daya beli kelas menengah yang menganggur.

"Ekonomi awalnya karena demand. Jangan sepelekan konsumsi. Kalau nggak ada konsumsi, enggak ada produksi," ujarnya.

 Selain itu ia mengatakan dalam kurun waktu 10 tahun terkahir, pertumbuhan ekonomi cenderung stagnan di level 5%, namun perbedannya di sisi kualitas

Jika pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tengah mengalami peningkatan komoditas (commodity boom) sehingga peningkatan ekspor komoditas dapat ditransmisikan pada pertumbuhan ekonomi.

Dia mencontohkan komoditas kelapa sawit yang saat ini mengalami lonjakan harga sehingga hasil yang diterima para perusahaan kelapa sawit maupun masyarakat petani sangat menguntungkan. Begitu juga dengan harga minyak mentah dan batu bara yang sangat tinggi.

"Pada waktu itu, banyak orang kaya baru karena booming komoditas. Pertumbuhan ekonomi diikuti dengan peningkatan daya beli bagi mereka yang menikmati. Intinya, masyarakat kita baik di Jawa maupun luar Jawa hidup dari komoditas," ujarnya.

Kemudian pada era pemerintahan Joko Widodo pertumbuhan ekonomi masih relatif sama diksiaran 5% dengan indikator harga komoditas mulai mengalami penurunan. Hal ini seiring dengan ketidakpastian global yang meningkat yang juga mempengaruhi volume perdagangan global ikut menurun. Hal ini menyebabkan kinerja ekspor berorientasi komoditas tidak bisa diandalkan.

"Sekarang, sumber pertumbuhan ekonomi masih bertahan di 5% bukan dari pelaku ekonomi sektor komoditas. Tapi ini disebabkan karena dorongan proyek infrastruktur pemerintah. Baik yang dibiayai lewat APBN maupun investasi BUMN. Itulah yang jadi motor ekonomi," tambahnya.

Sebenarnya berbagai pembangunan proyek infrastruktur belum memiliki nilai tambah yang cukup signfikan memnyebabkan daya beli yang cenderung menurun.

Pasalnya proyek infrastruktur yang dibangun lebih mengarah ke padat modal yang minim tenaga kerja. Berbeda dengan geliat ekonomi berbasis komoditas yang lebih condong ke padat karya, sehingga terdapat perbedaan kualitas pertumbuhan ekonomi jika dilihat dari sudut manfaat.

Dengan demikian, ia mengatakan bahwa pemerintah harus menyiapkan sebuah kebijakan untuk mendorong kelompok masyarakat yang tidak menikmati pertumbuhan ekonomi saat ini agar bisa meningkatkan daya belinya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA