Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perrry Warjiyo. Sumber: BSTV

Gubernur BI Perrry Warjiyo. Sumber: BSTV

Imbal Hasil SBN 10 Tahun Terus Turun

Triyan Pangastuti/Nasori, Kamis, 28 Mei 2020 | 14:46 WIB

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun di pasar sekunder terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Yield SBN 10 tahun yang pada minggu kedua April 2020 sempat mencapai 8%, pada 15 Mei turun menjadi 7,78% dan pada 26 Mei kembali turun ke posisi 7,22%.

“Jadi, (yield SBN 10 tahun) terus mengalami penurunan karena memang meredanya kepanikan global dan masih menariknya imbal hasil (surat berharga) Indonesia. Ini kemudian (memicu) inflow sehingga membawa yield SBN itu menurun,” ujar Perry dalam acara media briefing secara virtual, Kamis (28/5).

Menurut dia, imbal hasil SBN yang masih menarik itu terlihat dari selisih yield SBN 10 tahun dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat 10 tahun yang masih sekitar 6,7%. “Itu menarik dan lebih menarik dari sejumlah negara lain, sehingga insya Allah akan membawa masuknya aliran modal masuk ke depan,” tandas dia.

Dalam pantauan Bank Indonesia, total arus modal asing yang masuk (capital inflow) neto ke SBN selama minggu kedua Mei 2020 tercatat sebesar Rp 6,15 triliun. Nilai ini meningkat bila dibandingkan capital inflow neto ke SBN selama minggu pertama yang sebesar Rp 2,97 triliun.

“(Peningkatan inflow ke SBN) ini membuktikan semakin meredanya kepanikan global dan juga (respons) atas langkah-langkah penanganan terhadap Covid-19 di Indonesia,” kata Perry.

Sedangkan aliran modal asing di pasar saham, menurut Perry, tercatat masih mengalami nett outflow meskipun mengalami penurunan “Minggu kedua Mei outflow Rp 2,72 triliun, sedangkan pada minggu pertama Rp 3,19 triliun. Itu memang juga berkaitan dengan kondisi pasar saham global,” pungkas dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN