Menu
Sign in
@ Contact
Search
Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Imbas Kenaikan Harga BBM, ADB Proyeksi Inflasi Tembus 4,6%

Rabu, 21 September 2022 | 14:07 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Asian Development Bank (ADB) memproyeksi laju inflasi Indonesia tahun ini akan melebar dari semula 3,6% (year on year/yoy) menjadi 4,6% (yoy). Inflasi yang meningkat ini disebabkan imbas kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis subsidi dan non subsidi yang diberlakukan sejak 3 September 2022.

"Tingkat inflasi akan melonjak pada bulan September dan tetap tinggi hingga Desember, karena kenaikan harga. Sehingga perkiraan inflasi tahun 2022 direvisi menjadi 4,6% dari semula 3,6% (proyeksi April)," ucap Ekonom Senior ADB, Henry Ma dalam Media Briefing terkait Update Outlook Ekonomi Indonesia, Rabu (21/9/2022).

Baca juga: ADB Kerek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,4%

Selain itu, inflasi yang lebih tinggi juga disebabkan oleh efek pembanding inflasi (base year effect) hingga paruh pertama di tahun 2022 cukup terkendali. Bahkan proyeksi inflasi tahun depan pun dikerek naik menjadi 5,1% dari semula 3%.

"Perekonomian terkena shock dari sisi bahan bakar, sehingga akan mendorong (peningkatan) inflasi. Yang menjadi perhatian disaat inflasi naik maka akan berdampak kepada sektor-sektor lainnya," ucapnya.

Baca juga: ADB: Negara Berkembang Asia di Peringkat Terbawah Lingkungan Digital Pengusaha

Adapun proyeksi inflasi berdasarkan sub regional Asia Tenggara diperkirakan naik menjadi 5,3% dari sebelumnya 3,7%.

"Kenaikan inflasi di negara kawasan ini dampak dari harga pangan dan energi yang lebih tinggi, khususnya di Indonesia, Thailand, dan Filipina, serta ekonomi sub kawasan lainnya yang lebih besar," ucapnya.

Baca juga: Luncurkan Fixed Broadband HiFi, Begini Dampaknya bagi Indosat (ISAT)

Lebih lanjut, pemulihan negara berkembang di Asia terus berlanjut, tetapi diperlambat oleh tantangan global. Invasi Rusia Ukraina terus mempengaruhi ekonomi di kawasan itu. Alhasil, berbagai kondisi ini telah mengganggu rantai pasokan dan meningkatkan harga makanan dan energi sehingga menekan inflasi.

Untuk meredam peningkatan inflasi, berbagai negara mengarahkan kebijakan moneter yang lebih ketat di negara-negara maju melemahkan global permintaan dan mengguncang pasar keuangan, dan ini menambah dampak ekonomi dari perang di Ukraina

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com