Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Incar Kepemilikan Data Ekonomi

Selasa, 26 Februari 2019 | 15:44 WIB

Secara terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, banyak investor global yang ingin memiliki saham perusahaan teknologi rintisan Indonesia skala besar (unicorn) karena mereka mengincar kepemilikan data kegiatan ekonomi masyarakat yang kemudian dapat diolah menjadi produk menguntungkan.

"Dalam era revolusi industri 4.0 saat ini, muncul fenomena bisnis model baru yang berbasis customer centric. Data jadi sangat penting, kalau ingin tahu siapa yang kita layani, feedback pakai survei. Sekarang mereka tak perlu isi kuisioner, di internet semuanya ter-capture. Banyak transaksi dilakukan lewat jalur digital," kata Sri Mulyani di Kantor BPJS Kesehatan di Jakarta, Senin (25/2).

Menkeu menjelaskan, nilai kepemilikan data ekonomi masyarakat saat ini sama dengan nilai komoditas tambang di Indonesia yang dulu selalu menjadi incaran perusahaan-perusahaan global. Saat ini, data ekonomi masyarakat adalah komoditas paling berharga.

Itu sebabnya, menurut Menkeu, data sekarang menjadi tambang baru. Kenapa data is a new mining, jadi tambang baru. Kalau dulu tambang mas timah, batu bara, berlian, sekarang siapa manusia terkaya semuanya tidak berhubungan dengan sumber daya alam, tetapi ada hubungannya dengan data dan teknologi," papar Sri Mulyani.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro mengatakan, pemerintah harus mengetahui rantai pasok (supply chain) perusahaan unicorn. Jika barang yang dijual merupakan produk domestik, itu akan mendorong pengembangan industri dalam negeri. Namun jika yang dijual adalah produk luar negeri maka hal itu akan meningkatkan jumlah impor.

Ketua Asosiasi E-commerce Indonesia (IdEA) Ignatius Untung mengatakan, investasi yang masuk ke start-up belum ada yang ditarik keluar. Dana tersebut baru akan keluar bila sudah menghasilkan deviden. Dalam model bisnis start-up justru modal yang dikeluarkan lebih besar dari deviden. “Kehadiran e-commerce justru memberi dampak yang baik kepada ekonomi, sebab terjadi perputaran uang yang besar,” kata dia. (ark/az)

BAGIKAN