Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bhima Yudhistira

Bhima Yudhistira

INDEF: Belanja Pemerintah Diandalkan

Selasa, 16 Februari 2021 | 11:17 WIB
Triyan Pangastuti ,Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -  Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, revisi PC-PEN yang terus dinaikkan anggarannya oleh pemerintah tersebut merupakan langkah positif. Sebab, anggaran PEN dapat dijadikan sebagai katalis utama untuk pemulihan ekonomi nasional.

Bhima mengatakan hal itu menanggapi langkah pemerintah yang untuk kelimakalinya kembali mengubah anggaran program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) 2021 menjadi Rp 688,33 triliun, meningkat 18,7% dibanding realisasi anggaran PC-PEN 2020 sebesar Rp 579,83 triliun. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi tahun 2020 masih minus 2,07% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pemerintah memperkirakan, tahun ini, ekonomi bisakembali tumbuh positif 4,5-5,5%.

Bhima mengatakan lebih lanjut, tahun ini belanja pemerintah diandalkan untuk mendorong perekonomian, di tengah kondisi masih lemahnya konsumsi rumah tangga.

“Di saat pandemi ini, motor belanja pemerintah memang sangat diharapkan, karena sisi konsumsi rumah tangga masih lemah. Kenaikan PCPEN merupakan keputusan yang tepat,” tuturnya kepada Investor Daily, Senin (15/2).

Anggaran program PC-PEN 2020-2021
Anggaran program PC-PEN 2020-2021

Menurut Bhima, seharusnya anggaran perlindungan sosial juga dinaikkan dibanding 2020. Apalagi penduduk miskin bertambah dan terjadi jutaan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Angka penduduk miskin terus bertambah selama pandemi. Jadi, bansos juga diharapkan menyentuh kelas menengah yang rentan,” ujarnya. Namun demikian, Bhima mengingatkan agar pemerintah me-manage berbagai implikasi kenaikan dana PC-PEN terhadap pelebaran defisit anggaran. Apa lagi kalau dana PC-PEN ditargetkan terserap 100% dan lebih cepat terserap dibanding pola 2020, yang akan berdampak ke serapan belanja pemerintah lebih besar 

Di sisi lain, lanjut dia, agar realisasi PC-PEN dapat terserap optimal tahun ini, pemerintah perlu memberikan punishment terhadap kepala daerah yang lambat menyerap anggaran PCPEN. “(Punishment) perlu. Kepala daerah yang lambat menyerap anggaran sebaiknya diberi hukuman, seperti tunjangan diundur selama 4 bulan. Sejauh ini, hukuman untuk menahan DAU dan DAK belum efektif,” ujarnya.

Bhima menambahkan, defisit anggaran tahun ini diperkirakan akan melebar dari target yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 5,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) atau setara Rp 1.006,4 triliun.

“Perkiraan defisit kembali ke level 6% bahkan 7% PDB sangat mungkin tahun ini. Pemerintah akan menerbitkan utang dalam nominal yang lebih besar. Ini juga bisa ada kekhawatiran terjadi perebutan likuiditas di pasar dengan pelaku swasta. Crowding out effect perlu dihindari,” imbuhnya.  (ns/ark/az/en)

Baca juga

https://investor.id/business/pcpen-dinaikkan-jadi-rp-688-triliun

https://investor.id/business/dukungan-untuk-umkm-dan-korporasi-naik-8

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN