Menu
Sign in
@ Contact
Search
Suasana di terminal bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)

Suasana di terminal bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)

INDEF: Pemerintah Harus Waspadai Penurunan Ekspor

Selasa, 16 Agustus 2022 | 04:30 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan pemerintah harus mewaspadai terjadinya perlambatan ekspor dalam neraca perdagangan Indonesia. Sebab, meskipun neraca perdagangan sudah surplus 27 kali berturut-turut, tren secara year on year (yoy) pada Juli 2022 terjadi perlambatan menjadi 32,03% setelah di Juni 2022 tumbuh 40,99%.

Sementara untuk pertumbuhan impor (yoy) relatif tinggi yaitu 39,86% pada Juli 2022. Angka ini meningkat dari posisi Juni 2022 yang sebesar 21,98%

Baca juga: Pemerintah Jangan Terlena, Ekonomi Masih Tiga Tantangan Berat 

“Mulai terjadi perlambatan ekspor padahal impor mulai meningkat. Saya kira ini menjadi catatan bahwa hati-hati tren impor mulai meningkat. Meskipun pada Juli 2022 masih terjadi surplus,” ucap Direktur INDEF Tauhid Ahmad saat dihubungi Investor Daily pada Senin (15/8/2022).

Dia mengatakan untuk kedepannya ada potensi terjadi penurunan, saat impor khususnya impor bahan baku mulai menggeliat. Harga komoditas sudah mulai menurun artinya pertumbuhan ekspor relatif melambat. Ketika harga komoditas mulai menunjukkan penurunan seperti minyak kelapa sawit mulai menurun, windfall akan relatif terbatas, termasuk komoditas lain yang menunjukan gejala penurunan.

“Hati-hati beberapa komoditas sehingga windfall dari sisi ekspor pertumbuhanya menurun sementara impor relatif tinggi. Meskipun neraca perdagangan masih surplus,” kata Tauhid.

Baca juga: Pemerintah Naikkan Harga BBM untuk Kendalikan Subsidi Bengkak

Guna mempertahankan tren neraca perdagangan berada di posisi surplus pemerintah harus mencari pasar ekspor dengan perekonomian relatif stabil. Pemerintah juga harus menggalakan substitusi produk bahan baku. Misalnya dengan hilirisasi, terutama untuk menghasilkan bahan baku penolong yang dibutuhkan industri dalam negeri.

“Untuk mempertahankan surplus lebih tinggi, kita mengurangi ketergantungan pada produk impor komoditas yang bergejolak seperti gandum dan kedelai, dan bahan baku lain yang harganya sensitif. Kalau sensitif, otomatis akan terjadi perubahan nilai yang signifikan,” tandas Tauhid.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com