Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Indef: Proporsi Biaya Avtur Sangat Kecil

Gora Kunjana, Jumat, 15 Februari 2019 | 16:37 WIB

JAKARTA - Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Drajad Wibowo mengatakan bahwa proporsi biaya avtur sangat kecil dari keseluruhan harga tiket pesawat yaitu hanya sekitar 3,6%.

Oleh karena itu, Drajad dalam keterangan tertulis menyatakan, harga avtur yang tinggi bukan menjadi satu-satunya pemicu terjadinya kenaikan harga tiket pesawat.

"Secara umum saya sependapat dengan data telegraph.co.uk bahwa alokasi per tiket untuk bahan bakar hanya sekitar 3,63%. Terbesar adalah biaya perawatan, airport cost seperti landing fee, dan bahkan pajak dan charges, yang masing-masing berkisar antara 19,62-22,67%," katanya seperti dikutip dari Antara hari ini.

Meski demikian, terdapat pengecualian bagi maskapai yang menerapkan bisnis low cost carrier (LCC), karena untuk LCC terdapat peningkatan komponen bahan bakar dalam alokasi harga tiket sebagai akibat penekanan berbagai biaya.

Namun, lanjut Drajad, peningkatan tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap tingginya harga tiket. "Jadi kalau yang diutak-atik (bahwa penyebab tingginya harga tiket) adalah avtur, jelas salah tembak. Salah sasaran," katanya.

Sebelumnya, Indonesia National Air Carriers Assosiation (INACA) mengakui bahwa avtur tidak berpengaruh langsung terhadap kenaikan harga tiket pesawat.

Menurut Ketua Umum INACA IGN Askhara Danadiputra, beban biaya operasional penerbangan lain, seperti sewa pesawat dan perawatan pesawat yang sangat berpengaruh terhadap harga tiket.

Selain berbagai komponen tadi, Drajad menambahkan, bahwa beban pengadaan pesawat, baik yang dilakukan melalui pembelian maupun mekanisme lain seperti sewa juga sangat tinggi.

Dengan kondisi ini, maka untuk menurunkan tiket maskapai, yang pertama kali harus dilakukan adalah membersihkan dahulu utang-utangnya, karena setelah beban utang dikeluarkan, tiket maskapai akan jadi lebih murah.

Begitu juga dengan airport cost, seperti harga parkir pesawat, biaya landing, garbarata dan check in yang naik sebesar 15-20% pada Oktober 2018, yang ikut berpengaruh terhadap kenaikan harga tiket pesawat.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Forum Ekonomi Konstitusi Defiyan Cori menyatakan pengaruh avtur terhadap kenaikan harga tiket pesawat sangat kecil karena komponen terbesar adalah biaya pemeliharaan pesawat, termasuk biaya pembelian pesawat.

"Sementara Avtur hanya 3,4% dari komponen besarnya harga pokok penjualan tiket. Kalau pun jarak tempuhnya paling jauh, untuk tujuan Indonesia bagian timur, maksimal hanya 24%," katanya.

Untuk itu, dia meminta agar avtur tidak dijadikan sebagai kambing hitam terkait kenaikan harga tiket. (is)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA