Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lahan yang dijadikan food estate di Kalteng. Foto: PUPR

Lahan yang dijadikan food estate di Kalteng. Foto: PUPR

Indeks Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rendah

Jumat, 18 September 2020 | 22:29 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Meskipun sektor pertanian Indonesia tumbuh selama pandemi dan berkontribusi cukup besar terhadap PDB nasional namun Indeks Ketahanan Pangan Indonesia masih berada di bawah Singapura.

Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan Global, Singapura menduduki peringkat pertama sementara Indonesia berada di peringkat ke 62 dari 113 negara.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Dwi Andreas Santosa mengatakan, sebagian besar produk pangan dari Singapura berasal dari impor karena Singapura bukan negara agriculture tetapi Singapura pintar mengelola manajemen pangannya. Sementara Indonesia yang merupakan negara agriculture masih mempunyai mimpi ingin mewujudkan ketahanan pangan.

“90% pangan yang dikonsumsi Singapura merupakan impor tetapi mereka bisa maju dengan ketahanan pangannya sehingga bisa disimpulkan bahwa ketahanan pangan tidak ada kaitannya dengan kapasitas produksi dalam negeri yang melimpah,” ujar dia dalam Webminar Pataka, di Jakarta, belum lama ini.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB yang juga Ketua Umum AB- 2TI Dwi Andreas Santosa. Foto: bloombergindonesia.tv
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB yang juga Ketua Umum AB- 2TI Dwi Andreas Santosa. Foto: bloombergindonesia.tv

Jika dilihat berdasarkan tren, indeks ketahanan pangan Indonesia memang terus mengalami perbaikan, pada tahun 2015, indeks ketahanan pangan Indonesia berada pada peringkat 73 dan naik menjadi peringkat ke 62 pada tahun 2019.

“Positifnya ada peringkat terus naik tetapi masih berada di bawah urutan 50 dan Indonesia perlu memperbaiki tata kelola pangan,” ujar dia.

Sejumlah faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan suatu negara adalah ketersediaan pangan yang mencukupi dan kapasitas masyarakat dalam mengaksesnya.

Kalau bicara masalah ketersediaan, Indonesia merupakan gudang atau pusat produksi mulai dari beras, jagung tetapi persoalan utama yang dihadapi adalah mafia pangan yang masih bermain.

Mafia pangan inilah yang menyebabkan ketahanan pangan Indonesia tidak jalan atau stagnan, setiap tahun ada saja bermunculan mafia pangan yang baru. Ia mengatakan untuk menciptakan ketahanan pangan maka dibutuhkan lintas sektor dan satu pemikiran, ia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang membangun food estate di Kalimantan Tengah.

Food estate bisa dijadikan solusi atau jawaban dari masalah ketahanan pangan di Indonesia yang masih belum terwujud dan Indonesia belum ada kata terlambat untuk mengejar ketertinggalan.

Kunci keberhasilan dari Food Estate adalah koordinasi dan tidak bermain belakang dan Food Estate ini menjadi harapan satu satunya bagi Indonesia untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Jika ketahanan pangan sudah terwujud maka Indonesia akan menjadi negara sejahtera dan tidak perlu lagi impor. Impor tidak dilarang namun bisa dijadikan sebagai opsi kedua jika kondisi negara sudah darurat.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN