Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu lahan pertanian di Jawa Timur. Foto ilustrasi: Investor Daily/gora kunjana

Salah satu lahan pertanian di Jawa Timur. Foto ilustrasi: Investor Daily/gora kunjana

Indonesia Harus Mulai Bangun Sektor Pertanian 4.0

Ridho Syukra, Kamis, 12 Desember 2019 | 23:44 WIB

JAKARTA, investor.id - Indonesia harus membangun sektor pertanian yang berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sektor pertanian yang dibangun harus mulai mengarah pada pembangunan sektor pertanian 4.0.

Membangun sektor pertanian 4.0 memang tidak mudah karena banyak tantangan yang dihadapi mulai dari perubahan lingkungan dan sumber daya alam pertanian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketahanan, keamanan dan diversifikasi pangan, regulasi, sistem pertanian dan luasan lahan pertanian, semua aspek tersebut harus dalam good management.

Chairman Institute For Food and Agriculture Development Studies (IFADS) Iskandar Andi Nuhung mengatakan, untuk menjawab semua tantangan tersebut, maka semua stakeholders harus saling berkoordinasi, tidak hanya pemerintah saja yang bekerja tetapi pelaku usaha, konsumen dan petani juga harus berkontribusi.

Menurut Iskandar, populasi Indonesia yang diperkirakan akan mencapai 300 juta pada tahun 2030 membuat pemerintah harus mengantisipasi langkah-langkah tepat untuk menyediakan pangan yang memadai, aman dan berkualitas.

Berbagai upaya, lanjut dia, harus terus dilakukan seperti meningkatkan produksi pertanian yang sejalan dengan program berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) ditambah pemerintah telah mempunyai roadmap SDGs hingga 2030.

“Selain itu, sektor pertanian Indonesia harus naik kelas dan tidak boleh tradisional dan sudah menuju pertanian 4.0 dengan penggunaan sistem teknologi pertanian yang sudah digital,” katanya.

Saat ini, sambung dia, banyak alat-alat pertanian yang dioperasikan secara digital dan petani harus mulai diajarkan dan disosialisasikan tentang penggunaan alat pertanian tersebut.

“Sebagian besar petani Indonesia berusia 45 tahun ke atas, tetapi tidak ada kata terlambat untuk belajar mengenai perkembangan teknologi dalam industri pertanian,” tandas Iskandar.

Generasi petani, masih kata Iskandar, juga harus mulai dibangun dan rantai petani tidak boleh putus dan pemerintah harus mulai mendorong generasi milenial menjadi petani atau pelaku usaha yang bergerak di sektor pertanian.

“Jika SDM petani berkurang maka akan berdampak pada penurunan sektor pertanian dan generasi petani harus dibangun sekuat mungkin,” ujar  di Jakarta, Kamis (12/12).

Ia menilai, bagi generasi milenial menjadi petani sudah identik dengan kotor dan berpenghasilan rendah padahal makna petani bukanlah orang yang bekerja di lapangan atau sawah melainkan bisa menjadi pebisnis.

“Gernasi milenial harus mulai diberi pencerahan bahwa menjadi petani merupakan pekerjaan yang hebat dan bisa membawa perubahan bagi ekonomi Indonesia,” ucapnya.

Di samping itu, sambung dia, tanpa adanya sektor pertanian, masyarakat tidak akan makan sebab sektor pertanian sudah menyangkut perut dan urusan makan.

Pendiri Habibi Garden yang merupakan perusahaan start up di bidang pertanian Irsan Rajamin mengatakan penggunaan teknologi dalam sektor pertanian akan membawa dampak yang positif bagi perkembangan ekonomi Indonesia.

Secara perlahan, katanya, sudah banyak petani Indonesia yang mengerti dalam menggunakan teknologi pertanian, seperti yang terjadi di Lampung.

Ia mencontohkan, seorang petani cabe di Lampung telah berhasil meningkatkan produksi hingga 8 juta ton per hektar setelah memanfaatkan teknologi digital dari Habibi Garden.

Ia yakin penggunaan teknologi digital dalam sektor pertanian bisa membawa pertanian Indonesia menuju 4.0 .

Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Dadang mengatakan, potensi sektor pertanian Indonesia sangat luar biasa karena Indonesia merupakan salah satu pusat mega diversity tanaman pangan dan beriklim tropis.

“Pembangunan sektor pertanian juga tidak terlepas dari industri pestisida karena banyak hama yang menyerang,” ujarnya.

Saat ini perkembangan industri pestisida cukup pesat dan tumbuh seiring dengan produksi panen di Indonesia.

“ Industri pestisida juga bagian dari sektor  pertanian dan turut berkontribusi memajukan perekonomian,” ujar dia.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA