Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lahan Gambut

Lahan Gambut

Indonesia Kejar Target Penurunan Emisi Karbon

Ridho Syukra, Minggu, 19 Januari 2020 | 10:03 WIB

JAKARTA, investor.id – Indonesia terus berupaya memenuhi target pengurangan emisi karbon sebesar 29% pada 2030. Selain melakukan restorasi lahan gambut dan menghambat konversi hutan alam primer, pemerintah juga membuka akses hutan bagi masyarakat melalui program perhutanan sosial sehingga masyarakat ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian hutan. Hingga 2030, pemerintah mengalokasikan 11,70 juta hektare (ha) hutan untuk program perhutanan sosial.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengatakan, Indonesia berkomitmen mengurangi emisi karbon sebesar 29% pada 2030. Komitmen tersebut sudah disepakati dalam Perjanjian Paris (Paris Agreement). Untuk mencapai target tersebut, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, seperti restorasi gambut dan menghentikan konversi hutan primer.

Di samping itu, pengelolaan hutan juga diserahkan kepada masyarakat, tujuannya agar masyarakat bisa menjaga kelestarian hutan dan tidak merusaknya.

“Rencananya, pada 2030 sebanyak 11,70 juta ha hutan akan dialokasikan sebagai perhutanan sosial. Masyarakat akan terlibat aktif dalam pengelolaan hutan dan ini bukan hanya tugas pemerintah saja,” ujar dia saat berbicara di ajang Indonesia Millennial Summit 2020 di Jakarta, Jumat (17/1).

Lebih jauh Alue Dohong menjelaskan, pengembangkan kebijakan lingkungan hidup dan kehutanan juga tidak bisa dilepaskan dari dukungan ilmu pengetahuan. Pengambilan keputusan diambil dari beragam sumber, baik dari aspek legal, politik, praktik, dan tradisi. Ilmu pengetahuan juga membutukan pendekatan sosial baru yang berkaitan dengan perubahan iklim, manajemen risiko bencana, minyak, gas, dan pertambangan. Karena itu, penurunan emisi karbon secara tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan manusia.

Peran Indonesia untuk menurunkan emisi karbon sangat diperhitungkan karena Indonesia negara besar dan masih banyak hutan. Dohong menuturkan, target penurunan emisi karbon sebesar 29% pada 2030 bukanlah sesuatu yang mustahil dan bisa dicapai asalkan dengan komitmen bersama. Keseriusan Indonesia dalam menurunkan emisi karbon dapat dibuktikan melalui Paris Agreement. Saat ini, Kementerian LHK juga akan melibatkan pemerintah daerah dengan meminta mereka berdiskusi dan memberikan pandangan tentang perbaikan lingkungan.

“Bagaimanapun daerah masih banyak mempunyai kawasa hutan dan pemerintah daerahnya yang lebih mengetahui. Masalah perubahan iklim merupakan isu global dan Indonesia juga menjadi bagian dari isu tersebut dan harus berperan dan terlibat aktif melalui upaya penurunan emisi karbon tersebut,” jelas dia.

Perubahan Paradigma

Menurut Dohong, perubahan paradigm merupakan faktor terpenting dalam upaya penanganan masalah lingkungan hidup, termasuk upaya penurunan emisi karbon. Masalah lingkungan hidup bukan hanya masalah aktor-aktor pemerintah, tapi masalah seluruh warga karena pada dasarnya setiap warga punya kontribusi bagi permasalahan lingkungan.

“Yang paling penting bagi saya adalah karena 95% masalah lingkungan, termasuk hutan, adalah antropogenik, karena manusia. Maka manusianya dulu yang harus sadar,” kata Dohong.

Masalah lingkungan hidup juga bukan hanya masalah bagi mereka yang berada di dekat titik masalah. Hal ini mengingat lingkungan adalah pinjaman dari generasi tua yang akan diberikan kepada generasi berikutnya yang harus dijaga agar generasi penerus tidak mewarisi kualitas lingkungan yang tidak baik.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA