Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bisnis sawit. Foto: PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

Bisnis sawit. Foto: PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

Indonesia Mampu Kuasai Ekonomi Global Melalui Sawit

Eva Fitriani, Senin, 29 Juli 2019 | 13:17 WIB

JAKARTA – Indonesia akan mampu menguasai perekonomian global melalui minyak sawit, karena komoditas ini dapat menggantikan peran minyak bumi atau bahan bakar fosil. Dengan luas lahan sawit yang mencapai 15 juta hektare, dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk memanfaatkan peluang ini.

"Kelapa sawit sangat strategis karena dapat digunakan sebagai pengganti minyak bumi, sudah ada teknologinya. Kemungkinan nanti bisa diubah menjadi bahan bakar kendaraan seperti premium dan lainnya, maka ketergantungan pada minyak bumi nanti akan berkurang, harga diri bangsa akan semakin tinggi dan akan disegani oleh negara-negara lain," kata Dekan Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo Kendari M Tufaila Hemon di Kendari, Senin (29/7).

Dia menjelaskan saat ini cadangan minyak dunia yang berasal dari fosil sudah semakin menipis, sementara fosil tidak dapat diperbaharui, maka akan terjadi perang perebutan minyak nantinya. "Kalau cadangan minyak sudah habis maka akan perang perebutan sumber daya alam, jadi kalau minyak bumi sudah habis, satu-satunya negara yang menyimpan stok minyak yang dapat diperbaharui dalam jumlah yang banyak hanya Indonesia dan Malaysia lewat minyak kelapa sawit," ungkap dia.

Jika itu terjadi, lanjut Tufaila, berarti yang mengendalikan dunia adalah Indonesia dan Malaysia, karena sudah memiliki kemampuan untuk merubah minyak sawit menjadi pengganti minyak dari fosil yang bisa digunakan bagi kendaraan. Selain itu, nilai ekonomis kelapa sawit tidak hanya terletak pada buahnya saja, hasil samping dari pengolahan buah itu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, biogas, arang aktif, serta sebagai pembangkit listrik.

"Kelapa sawit adalah aset bagi bangsa Indonesia yang perlu dijaga bersama, maka perlu sinergitas baik itu petani sendiri, perusahaan kelapa sawit, pemerintah, termasuk perguruan tinggi, agar tercipta keharmonisan perkebunan kelapa sawit, sehingga dapat menyejahterakan masyarakat," terang dia.

Dia menekankan agar kelapa sawit terus dijaga, karena sudah menyangkut kestabilan negara. Jika kelapa sawit diganggu, kestabilan perekonomian Indonesia akan terganggu karena pendapatan devisa negara dari sawit terkena dampaknya.

"Maka produksinya harus ditingkatkan, namun harus patuh terhadap budidaya yang baik, mulai dari pemupukan, pemeliharaan, seleksi bibit, teknik budidaya panennya, sampai pasca panen dan pembibitannya secara keseluruhan diperbaiki, agar produksi kelapa sawit bisa meningkat," kata dia.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, luas wilayah perkebunan kelapa sawit di Indonesia yaitu 14.677.560 hektare, tersebar di 27 provinsi. Perkebunan kelapa sawit terluas terletak di Provinsi Riau yaitu 2.806.349 hektare. Selanjutnya di Provinsi Sumatera Utara yaitu 1.773.049 ha, ketiga di Kalimantan Barat seluas 1.570.675 hektare. Sementara di Sulawesi Tenggara sendiri hanya seluas 74.900 hektare yang terletak di Kabupaten Konawe Utara, Konawe dan Konawe Selatan.

Sumber : ANTARA

BAGIKAN