Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pemerintah Indonesia dan Inggris sepakat akan mengintensifkan kerja sama perdagangan dan investasi untuk meningkatkan kegiatan ekspor impor kedua negara. Foto: Ist

Pemerintah Indonesia dan Inggris sepakat akan mengintensifkan kerja sama perdagangan dan investasi untuk meningkatkan kegiatan ekspor impor kedua negara. Foto: Ist

Indonesia-Inggris Intensifkan Kerja sama Perdagangan dan Investasi

Eva Fitriani, Senin, 4 November 2019 | 10:51 WIB

JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Inggris sepakat akan mengintensifkan kerja sama perdagangan dan investasi untuk meningkatkan kegiatan ekspor impor kedua negara. Upaya peningkatan kerja sama tersebut dibahas Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto dan Komisioner Perdagangan Inggris untuk Asia Pasifik Natalie Black di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean ke-35 di Bangkok, Thailand, pada 2 November 2019.

Pertemuan Mendag dengan Komisioner Inggris ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan Terms of Reference (ToR) Trade Review pada saat TEI di Tangerang, 16 Oktober 2019. Kedua pihak mendorong agar pertemuan Trade Review pertama dapat dilakukan di London pada 9 Desember 2019 lebih produktif untuk membahas kajian perdagangan dan investasi kedua negara.

Indonesia merupakan negara Asean pertama yang menandatangani Trade Review dengan Inggris. Hal ini menunjukkan arti penting Indonesia sebagai negara mitra ekonomi Inggris. Salah satu bidang yang menjadi concern Inggris adalah penguatan kerja sama dengan Indonesia di bidang perdagangan jasa finansial, yang saat ini telah berkembang dengan baik di negara-negara Asean lainnya.

“Saya melihat Indonesia dan Inggris masih perlu dilakukan peningkatan komunikasi dan kerja

sama yang lebih intentsif, khususnya untuk meningkatkan perdagangan antara Indonesia-Inggris, baik di sektor barang maupun jasa,” kata Agus dalam keterangan resminya, Senin (4/11).

Dia juga menyampaikan concern Indonesia terkait hambatan akses pasar kelapa sawit di pasar Uni Eropa melalui RED II, dan di Inggris dengan banyaknya kampanye negatif yang dilakukan beberapa Supermarket yang anti kelapa sawit.

“Indonesia sangat berharap agar Inggris tidak melakukan hambatan akses pasar terhadap kelapa sawit maupun produk ekspor lainnya namun justru mengedepankan pentingnya bekerjasama dengan Indonesia untuk membantu perdagangan sawit yang berkelanjutan. Kelapa sawit ini sangat penting bukan hanya bagi Indonesia namun juga Inggris dan negara-negara Eropa,” tambah Agus.

“Perlu solusi yang tepat dalam menyelesaikan berbagai hambatan perdagangan. Perlu terobosan yang cepat untuk penyelesaian masalah perdagangan bagi kepentingan kedua negara”, tegas Agus.

Menanggapi hal tersebut, Inggris menyampaikan akan terus menjalin dialog terbuka dengan Indonesia guna membahas perkembangan isu sawit dan setuju menawarkan fasilitasi peningkatan kapasitas di bidang penelitian, edukasi, dan teknologi atas isu sustainability, khususnya bagi petani dan pelaku UKM sawit di Indonesia.

Pada tahun 2018, Inggris merupakan negara peringkat ke-21 tujuan ekspor dan sumber impor nonmigas bagi Indonesia. Dibanding negara Asean lainnya, Indonesia merupakan trading partner terbesar ke-5 untuk Inggris (2018) setelah Singapura (US$ 8,5 miliar), Vietnam (US$ 6,8 miliar), Malaysia (US$ 5,8 miliar), dan Thailand (US$ 4,1 miliar). Total perdagangan kedua negara pada tahun 2018 adalah sebesar US$ 2,7 miliar. Ekspor Indonesia tercatat US$ 1,5 miliar, impor sebesar US$ 1,2 juta. Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 0,3 miliar.

Ekspor utama Indonesia ke Inggris pada tahun 2018 yaitu alas kaki dari kulit (US$ 154,0 juta); builders' joinery and carpentry of wood (US$ 89,9 juta); footwear with uppers of textile materials (US$ 71,5 juta); electric accummulators (US$ 51,2 juta); plywood (US$ 49,0 juta). Impor utama Indonesia dari Inggris pada tahun 2018 adalah ferrous waste and scrap (US$ 134,6 juta); kendaraan bermotor (US$ 60,1 juta); Recovered waste and scrap (US$ 56,9 juta); medicaments (US$ 54,8 juta); dan perangkat telepon (US$ 53,7 juta).

Investasi Inggris di Indonesia tahun 2018 sebesar US$ 271,1 juta dengan 483 proyek. Hingga III-2019, investasi Inggris di Indonesia tercatat US$ 65,3 juta dengan 577 proyek.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN