Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik baja. Foto ilustrasi: Investor Daily/Defrizal

Salah satu pabrik baja. Foto ilustrasi: Investor Daily/Defrizal

Industri Butuh 600 Ribu Tenaga Kerja per Tahun

Leonard AL Cahyoputra, Selasa, 2 Juli 2019 | 20:05 WIB

JAKARTA - Industri manufaktur nasional membutuhkan 600 ribu tenaga kerja baru setiap tahun, dengan asumsi pertumbuhan industri rata-rata 5-6%.

Seiring dengan itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor industri melalui pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan vokasi. Langkah strategis ini untuk menyediakan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan dunia industri saat ini, terutama dalam kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0.

“Upaya tersebut merupakan salah satu implementasi dari program prioritas yang terdapat di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Dengan ketersediaan SDM industri yang kompeten, kami meyakini sektor manufaktur nasional akan mampu lebih berdaya saing global di era digital,” kata Tenaga Ahli Kementerian Perindustrian Bidang Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Industri Mujiyono di Jakarta, Selasa (2/7).

Menurut dia, pemerintahan Presiden Joko Widodo fokus pada agenda pembangunan di periode keduanya. Pemerintah akan lebih fokus terhadap pengembangan kualitas SDM termasuk di sektor industri.

“Oleh karena itu, dibutuhkan revitalisasi program vokasi, khususnya di pendidikan tinggi seperti politeknik secara terstruktur dan sistematis. Tujuannya agar SDM industri kita bisa langsung siap terjun di lapangan sesuai kebutuhan perusahaan-perusahaan sekarang,” papar dia.

Menurut Mujiyono, kompetensi dari lulusan program pendidikan vokasi seperti politeknik, memiliki pengetahuan dan wawasan yang lengkap, termasuk pula keahlian maupun perilakunya. “Itu yang sebenarnya dibutuhkan oleh industri saat ini. Kami optimistis, berdasarkan aspirasi besar peta jalan Making Indonesia 4.0, Indonesia bisa masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030,” imbuh dia.

Guna mencapai sasaran tersebut, dia menuturkan, Kemenperin sudah menyiapkan tiga jurus jitu agar pendidikan tinggi semacam politeknik mampu berkontribusi secara optimal dalam pengembangan SDM industri yang unggul. Strategi pertama, Kemenperin memacu pembangunan politeknik di kawasan industri, karena saat ini pemerintah sedang giat mendorong pertumbuhan manufaktur di kawasan industri.

“Kami mendorong pembangunan politeknik di kawasan industri untuk menyuplai tenaga kerja terampil di sana. Kemudian, kurikulum juga disesuaikan dengan kebutuhan industri yang ada di kawasan itu sendiri,” terang dia.

Dalam dua tahun terakhir ini, dia mengungkapkan, Kemenperin sudah merealisasikan pembangunan empat politeknik di kawasan industri, yaitu Politeknik Industri Logam di Morowali, Sulawesi Tengah, Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah, Akademi Komunitas Tekstil di Solo, Jawa Tengah, serta Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Strategi kedua, dia menegaskan, Kemenperin mendorong perusahaan-perusahaan holding maupun industri skala besar untuk bisa membangun politeknik sesuai kebutuhan sektornya. Dengan demikian, diharapkan para lulusan dari politeknik yang didirikan perusahaan tersebut, mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja di seluruh anak perusahaannya.

“Melalui strategi itu, Kemenperin mendorong pihak swasta agar melakukan replikasi pembangunan politeknik yang telah dilakukan pemerintah,” ujar dia.

Bagi perusahaan yang membangun politeknik, demikian Mujiyono, pemerintah akan memfasilitasi keringanan pajak atau memberikan insentif super deductible tax atas kontribusinya dalam penciptaan tenaga kerja terampil melalui pelaksanaan program vokasi.

Sementara itu, strategi ketiga, kata dia, Kemenperin akan melakukan revitalisasi seluruh politeknik yang ada di Tanah Air dan menyesuaikan dengan kebutuhan industri. “Politeknik dan industri harus link and match. Jadi, kami meminta agar industri juga ikut membina politeknik. Satu politeknik dapat dibina oleh lima perusahaan industri. Ini harus kita lakukan secara terintegrasi, antara industri dengan politeknik,” tutur dia.

Mujiyono menambahkan, konsep link and match antara politeknik dengan industri meliputi kegiatan magang industri, penyusunan kurikulum politeknik yang sesuai kebutuhan industri, penyediaan alat-alat praktikum di politeknik yang sesuai standar industri, serta proses pembelajaran yang berbasis kompetensi. ”Kami akan terus mendorong implementasi strategi ini, karena tugas kami memang menyiapkan SDM yang terampil dan tepat sasaran untuk industri,” tandas dia.

Apabila strategi Kemenperin tersebut terimplementasi dengan baik, Mujiyono meyakini, lulusan dari politeknik akan cepat terserap oleh dunia industri. “Seperti di politeknik milik Kemenperin, masa tunggunya dari lulus sampai mendapat pekerjaan hanya tiga sampai enam bulan sudah terserap di perusahaan industri, karena juga sudah bermitra dengan industri,” ungkap dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA