Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Plastik kemasan minuman. Foto ilustrasi: IST

Plastik kemasan minuman. Foto ilustrasi: IST

Industri Plastik Masih Temui Banyak Tantangan

Leonard AL Cahyoputra, Jumat, 23 Agustus 2019 | 17:03 WIB

JAKARTA, investor.id - Saat ini impor bahan baku plastik masih sangat tinggi. Untuk menguranginya, pemerintah mendorong pengembangan industri daur ulang plastik. Sayangnya dalam hal pengembangan dalam hal pengembangan industri tersebut, banyak sekali tantangan yang dihadapi.

Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Taufiek Bawazier menerangkan tingkat daur ulang produk plastik di Indonesia masih cukup rendah. Padahal potensi ekspor dari produk hasil daur ulang mencapai US$ 441,3 juta. Selain itu, tingkat daur ulang plastik sebagian sampah rumah tangga masih berada di level 15,22%. Ini artinya masih ada jenis plastik yang belum dilakukan daur ulang.

"Pemerintah menargetkan, limbah plastik yang didaur ulang pada 2019 ini bisa menyentuh hingga angka 25%," ujar dia di Jakarta, Jumat (23/8).

Permasalahan lain yang juga dihadapi oleh pelaku industri daur ulang adalah dalam hal pemenuhan bahan baku berupa plastik daur ulang, dimana tidak hanya disuplai dari dalam negeri tetapi juga diimpor dari negara lain.

Taufiek mengatakan hal ini disebabkan karena plastik yang dihasilkan di Indonesia adalah berupa sampah yang sulit untuk dipisahkan menjadi bahan baku Industri.

Selain itu, bahan baku plastik daur ulang impor juga mengalami hambatan dimana ada regulasi yang mewajibkan bahan baku skrap plastik yang diimpor dengan kriteria 100% homogen atau tidak ada campuran atau bahan pengotor lainnya.

"Ketentuan tersebut dirasa sulit untuk dipenuhi oleh pelaku industri daur ulang," ucap dia.

Untuk mengatasi hal tersebut, terang Taufiek, Kemenperin menawarkan solusi dimana sisa produksi yang berasal dari bahan pengotor bahan baku dapat diolah dengan menggunakan mesin insenerator. "Sehingga menghasilkan buangan yang lebih ramah lingkungan," pungkas dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA