Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Industri Sawit Berpotensi Kurangi Jam Operasi Pabrik

Harso Kurniawan, Rabu, 8 April 2020 | 20:13 WIB

JAKARTA, Investor.id – Industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berpotensi mengurangi jam operasional pabrik dalam 1-2 bulan ke depan guna bertahan dari pandemi virus korona (Covid-19). Hal ini terjadi jika arus kas tertekan dan tangki penimbunan sudah tidak dapat menampung lagi produksi baru. 

“Hingga kini, penutupan pabrik sawit belum ada, Tetapi, jika tangka timbun tak mampu lagi tamping produksi, perusahaan bisa mengurangi pembelian buah dari luar dan hanya mengolah hasil internal saja, bahkan bisa mengurangi jam operasional pabrik,” ujar Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta di Jakarta, belum lama ini.  

Menurut dia, selain terus menjalankan protokol melawan Covid-19 di semua lini, industri sawit melakukan efisiensi besar-besaran, mengatur kembali rencana cash flow, termasuk merealokasi peruntukan dengan merevisi prioritas bujet untuk dapat bertahan dalam kondisi seperti saat ini. Industri ini juga menyiapkan beberapa skenario alternatif krisis (stress test) dan solusinya sekaligus meninjau ulang mana yang tetap harus berjalan dan mana yang bisa ditunda. 

Kanya memastikan, hingga kini, industri sawit belum melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. Sebaliknya, Gapki memperjuangkan agar para pekerja, baik yang di kebun dan di pabrik mendapatkan tunjangan tambahan untuk kelompok yang dipandang lemah dan rentan terhadap krisis. 

“Prinsipnya, PHK adalah pilihan terakhir. Saya tidak mendengar teman-teman industri yang berencana melakukan PHK,” tegas dia. 

Dia mengapresiasi stimulus pemerintah yang bertujuan meringankan beban karyawan. Namun, dia merasa stimulus ini tidak merata. Contohnya, tunjangan PPh 21 perusahaan yang biasanya disetorkan kepada negara disarankan untuk dibayarkan ke karyawan pabrik saja. 

Praktiknya, perusahaan sawit memiliki bentuk manajemen beragam. Ada perusahaan yang satu atap, yakni pabrik dan kebun, sedangkan ada juga yang terpisah antara kebun dan pabrik. Jika insentif itu diberlakukan, akan terdapat pembedaan perlakuan terhadap sesama karyawan dalam satu grup perusahaan. Hal ini dapat memicu permasalahan baru di lapangan. 

Insentif lain yang diharapkan, kata dia, adalah bantuan strategi dan solusi mengatasi berkurang drastisnya ekspor CPO akibat berkurangnya permintaan sawit global, seiring pandemin Covid-19. Saat ini, 70% CPO nasional diekspor, sedangkan sisanya di dalam negeri. Di saat yang sama, industri CPO nasional tidak boleh berhenti.  

Dia menilai, pemerintah perlu memberikan sejumlah kemudahan pelaksanaan penyerapan lebih besar CPO di dalam negeri di luar biodiesel, seperti untuk energi terbarukan lain. Contohnya, untuk pembangkit listrik yang saat ini belum dapat dijalankan. Jika ini bisa menjadi alternatif solusi, birokrasi bisa dipersingkat dengan alasan keadaan darurat. 

Dalam kasus ekspor, dia menegaskan, peningkatan biaya transportasi dan ekspedisi kapal kini melonjak signifikan. Pemerintah bisa membantu menurunkan biaya itu dengan memberikan kompensasi sebelum dan pada masa wabah Covid-19. 

Di sisi lain, dia memprediksi harga CPO tahun ini stabil.  Sebab, permintaan tetap tinggi. Apalagi, sebentar lagi akan Lebaran, yang mendongkrak kebutuhan minyak goreng dan produk pangan dari sawit. 

Adapun produksi diprediksi menurun. Ini disebabkan oleh perkiraan iklim yang kering dalam beberapa bulan ke depan. 

Tahun lalu, produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) mencapai 51,8 juta ton. Penjualan domestik naik 24% menjadi 16,7 juta ton, sedangkan ekspor mencapai 35,7 juta ton, naik 4% dari tahun sebelumnya 34,7 juta ton. Sementara itu, berdasarkan data Market Insider, harga CPO sepanjang tahun ini turun 23% menjadi 2.333 ringgit per ton. 
 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN