Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ASDP. Foto ilustrasi: IST

ASDP. Foto ilustrasi: IST

INFA Dukung Kebijakan Bebas Truk Odol di Lintasan Penyeberangan

Thresa Sandra Desfika, Selasa, 25 Februari 2020 | 15:16 WIB

JAKARTA, investor.id - Indonesian National Ferryowners Association (INFA) mendukung pengimplementasian kebijakan bebas truk overdimension overload (odol) di lintasan penyeberangan yang aktif berlaku per 1 Mei 2020.

Ketua Umum INFA Eddy Oetomo menyampaikan, lintasan penyeberangan Merak -Bakauheni menjadi lintasan pertama akan menerapkan pengaturan dan pelarangan kendaraan odol.

Rencana uji coba dan sosialisasi sudah dikoordinasikan antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), PT ASDP Indonesia Ferry, serta para stakeholders lain.

“Insyaallah mulai 1 Mei 2020, pelabuhan penyeberangan Merak dan Bakauheni siap untuk tidak akan melayani kendaraan odol masuk ke pelabuhan dan kapal-kapal ferry yang ada tidak akan menyeberangkan kendaraan tersebut dari Merak ke Bakauheni maupun sebaliknya,” kata Eddy di Jakarta, Selasa (25/2).

Lebih lanjut, Eddy menjelaskan, pemberian pelayanan terhadap kendaraan odol dapat merugikan operator penyeberangan karena truk-truk odol bisa merusak rampdoor dan mobile bridge yang berujung pada ketidaklancaran proses embarkasi dan debarkasi muatan kendaraan dari dan ke kapal ferry.

Eddy menambahkan, banyak kasus di mana sering kendaraan odol mengakibatkan rampdoor pada kapal ferry atau mobile bridge pada dermaga itu rusak atau patah. Kelancaran terganggu dan kerugian biaya serta waktu operasi yang dialami pihak penyelenggara kapal ferry sangat tidak sedikit.

“Bila rampdoor kapal patah, biayanya dapat mencapai miliaran rupiah. Ini harus ditanggung pengusaha kapal ferry. Belum lagi bila untuk memperbaiki kerusakan tersebut harus mengorbankan waktu operasi kapal ferry yang bersangkutan," jelas Eddy.

Selain itu, kendaraan odol juga mengganggu keselamatan penyeberangan, mengingat penempatan kendaraan odol dapat mengganggu keseimbangan pelayaran kapal ferry itu sendiri.

Menurut Eddy, INFA menganggap tepat pelaksanaan bebas odol bila dikonsentrasikan di pelabuhan penyeberangan karena pelabuhan penyeberangan sebagai simpul transportasi yang dapat menjaring pelanggaran odol untuk tidak melanjutkan perjalanan sehingga memutus mata rantai kendaraan odol.

"Yang paling penting di pelabuhan penyeberangan itu sudah dilengkapi peralatan seperti portal dan jembatan timbang serta sumber daya manusia yang memadai dan standar operasional prosedur yang baku dan disiplin dalam pelaksanaannya," tutur Eddy.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN