Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

CABAI MERAH MASIH MENJADI PENYUMBANG UTAMA

Inflasi Agustus Diperkirakan 0,2%

Triyan Pangastuti, Senin, 26 Agustus 2019 | 08:12 WIB

JAKARTA, investor.id – Survei pemantauan harga Bank Indonesia (BI) hingga minggu ketiga Agustus 2019, inflasi pada bulan ini diperkirakan mencapai 0,2% secara bulanan atau 3,52% secara tahunan (yoy). Inflasi ini masih dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan, terutama cabai merah.

Perkiraan BI itu lebih rendah dari lajut inflasi pada Juli 2019 yang sebesar 0,31%. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, bulan lalu cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,2%, sedangkan cabai rawit menyumbang inflasi 0,06%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, kenaikan harga cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar hingga minggu ketiga Agustus, yakni sebesar 0,15%. Penyumbang inflasi utama selanjutnya adalah harga emas perhiasan dengan inflasi 0,07%, cabai rawit 0,05%, dan air minum PDAM sekitar 0,01%.

Sedangkan komoditas yang mengalami deflasi yakni angkutan udara 0,09% dan bawang merah 0,06%. Namun, kenaikan harga beberapa komoditas itu dinilai bersifat temporer karena musiman. “Kami melihat memang kenaikan harga khsusunya untuk cabai lebih lebih bersifat temporer, karena pengaruh musim,” ujar Perry di Gedung BI, Jakarta, Jumat (23/8).

Ia memperkirkan, dalam dua bulan mendatang akan ada kenaikan produksi cabai merah, khususnya di daerah Sumatera Utara, sebagai salah satu produsen terbesar komoditas itu di Tanah Air. “Secara keseluruhan, kami masih meyakini, ini pengaruhnya lebih berisfat temporer,” tandas Perry.

Di samping itu, untuk mengantisipasi adanya musim kemarau panjang, BI terus melakukan koordinasi dengan kementerian terkait seperti Kemenko Perekonomian maupun Perum Bulog.

Menurut Perry, stok Bulog masih memadai, jadi cukup untuk mengantisipasi kecukupan pasokan beras dan sejumlah komoditas lain. "Kami masih meyakini inflasi di akhir tahun akan di bawah 3,5%," kata dia.

Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (22/8), ia mengaku optimistis inflasi hingga akhir 2019 berada di bawah titik tengah kisaran sasaran 3,5%. Proyeksi tersebut telah memperhitungkan potensi kemarau panjang yang melanda di sebagian besar wilayah Indonesia.

"Dulu kami bilang inflasi ini akan menuju ke batas bawah sekitar 3,1%. Sekarang mungkin sekitar 3,2% atau menuju 3,3% karena ada dampak kemarau panjang. Tapi masih di bawah 3,5%," jelas dia.

Menurut Perry, pemerintah sudah mengantisipasi dampak kemarau panjang yang bisa berimbas pada kenaikan harga bahan-bahan pokok. "Koordinasi menjadi langkah utama pemerintah dalam mengendalikan harga-harga pangan," pungkas dia.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN