Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo. Foto: Istana

Presiden Joko Widodo. Foto: Istana

Inflasi Rendah Karena Pangan Membaik

Jumat, 23 Oktober 2020 | 13:20 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id --  Laju inflasi tercatat rendah setahun terakhir, September 2020, y-o-y, yang hanya 1,42%. Dalam tiga bulan terakhir, Indonesia bahkan terkena deflasi.

Rendahnya inflasi selain disebabkan daya beli masyarakat yang turun juga dinilai dikarenakan pasokan pangan di dalam negeri membaik. Meski demikian, tetap harus waspada agar tidak terjadi krisis pangan.

Untuk itu, Presiden Joko Widodo mengatakan, pemerintah daerah juga harus memperhatikan kesesuaian data yang ada. Sebab, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) sudah menyampaikan bahwa pandemic Covid-19 dapat menyebabkan terjadinya krisis pangan.

Dalam hal ini dibutuhkan peran dari gubernur, bupati dan walikota untuk memperhatikan ketersediaan pangan di masing-masing daerah.

“Dalam hal ketersedian pangan saya minta bupati dan walikota berhati-hati, ketersedian

 data yang valid sangat penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat. Segera perkuat data informasi pangan,” ucap Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi Tahun 2020, secara virtual, Kamis (22/10).

Rakornas tersebut dikuti pula oleh Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, menteri-menteri yang lain dalam Kabinet Indonesia Maju, serta para gubernur dan bupati/walikota. Selain itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Jokowi mengatakan pemerintah pusat sudah memiliki pusat informasi harga strategis. Sedangkan untuk daerah diharapkan ada pengembangan jenis data dan informasi penting lain.

“Harus ada sinergi data di daerah. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat neraca pangan daerah secara akurat. Sehingga, saat terjadi persoalan kekurangan pangan, bisa dengan cepat diatasi. Data produksi dan konsumsi yang akurat sangat penting, karena berdasarkan data tersebut bisa diketahui dengan cepat provinsi yang sedang kekurangan dan yang kelebihan pangan, perdagangan antardaerah bisa didorong, dan kerja sama antardaerah diperkuat,” ucap Jokowi.

Joko Widodo juga meminta kepala daerah untuk menghadirkan ekspektasi positif di masyarakat. Perkembangan kebijakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan langkah penanganan pandemic Covid-19 harus disampaikan secara transparan.

“Realisasi program PEN yang telah dilakukan pemerintah pusat dan daerah termasuk stimulus yang diberikan juga harus disampaikan ke masyarakat. Bahkan, perlu melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk membangun optimism dan mengajak masyarakat bekerja sama mengantisipasi dampak pandemi Covid-19,” paparnya. (nas/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN