Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
BRI Micro & SME Index. Direktur Utama BRI Sunarso saat press conference virtual BRI Micro & SME Index, di Jakarta, Kamis  (18/2/2021). BRI Micro & SME Index (BMSI) turun dari 84,2 pada kuartal III menjadi 81,5 di kuartal IV-2020. Walaupun begitu, pelaku UMKM masih tetap optimis menyongsong Kuartal I-2021 yang ditunjukkan oleh ekspektasi BMSI yang tetap di atas ambang batas 100. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

BRI Micro & SME Index. Direktur Utama BRI Sunarso saat press conference virtual BRI Micro & SME Index, di Jakarta, Kamis (18/2/2021). BRI Micro & SME Index (BMSI) turun dari 84,2 pada kuartal III menjadi 81,5 di kuartal IV-2020. Walaupun begitu, pelaku UMKM masih tetap optimis menyongsong Kuartal I-2021 yang ditunjukkan oleh ekspektasi BMSI yang tetap di atas ambang batas 100. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ini Reaksi Bankir atas Penurunan Suku Bunga Acuan BI

Jumat, 19 Februari 2021 | 10:24 WIB
Triyan Pangastuti ,Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Menanggapi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI7DRR) ke level 3,5%, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sunarso berharap kebijakan tersebut dapat segera ditransmisikan ke sektor riil dalam bentuk penurunan suku bunga kredit, sehingga harapannya dapat pendorong ekonomi nasional.

Menurut Sunarso, tinggi-rendahnya suku bunga acuan BI memang bisa berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan kredit. Jika suku bunga kredit turun, kondisi tersebut diharapkan bakal mendongkrak pertumbuhan kredit.

Perkembangan outstanding kredit perbankan umum
Perkembangan outstanding kredit perbankan umum

Sunarso menambahkan, saat ini tantangan perbankan bukan lagi soal likuiditas, karena justru cenderung berlebih.

“Tantangan perbankan adalah mengoptimalkan penyaluran likuiditas yang ada dalam bentuk kredit, supaya LDR-nya mencapai 90%,” ujarnya.

Dirut BRI Sunarso
Dirut BRI Sunarso

Namun Sunarso menegaskan, suku bunga yang rendah tidak serta merta bisa meningkatkan pertumbuhan kredit. Dari semua variabel yang diamati, dia menilai yang paling elastis terhadap pertumbuhan kredit ada dua, yaitu konsumsi rumah tangga dan daya beli. Dua faktor inilah yang harus dikolaborasikan dengan kebijakan bank sentral.

“Jadi hal-hal seperti ini yang harus kita padukan, kita sinkronkan dan kemudian kita kolaborasikan menjadi suatu bauran kebijakan yang memang benar-benar bisa menggerakkan sektor riil,” tutur Sunarso.

Kredit properti dan kredit konsumsi
Kredit properti dan kredit konsumsi

Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha menyatakan siap mendukung penurunan suku bunga acuan BI.

“Sejauh ini respons Bank Mandiri atas arahan BI telah dilakukan melalui penurunan suku bunga (dasar) kredit sebanyak 7 kali pada tahun lalu. Penurunan ini dilakukan baik pada segmen corporate, ritel, mikro, maupun konsumsi dengan rentang penurunan sebesar 10 hingga 600 basis poin,” papar Rudi kepada Investor Daily, Kamis (18/2).

Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha
Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha

Bank Mandiri melihat masih ada ruang untuk penurunan suku bunga kredit ke depan. Terlebih, BI mencatat sepanjang tahun lalu, perbankan baru menurunkan suku bunga kredit 83 bps, sedangkan suku bunga acuan sudah turun 125 bps sepanjang 2020.

“Ke depan, suku bunga kredit Bank Mandiri masih mungkin diturunkan kembali mengikuti perkembangan pasar. Inisiatif ini merupakan komitmen perseroan untuk mendukung pemerintah dan otoritas moneter mengimplementasikan bauran kebijakan finansial dalam rangka ikut memulihkan perekonomian nasional dari dampak pandemi Covid-19,” jelas Rudi.

Suku bunga acuan bulanan BI
Suku bunga acuan bulanan BI

Pihaknya mengaku, perseroan juga telah menurunkan suku bunga deposito. Hal tersebut diharapkan dapat mempercepat transmisi ke penurunan suku bunga kredit.

“Sebelum penurunan suku bunga acuan oleh BI hari ini, Bank Mandiri telah berinisiatif menurunkan kembali suku bunga simpanannya sampai dengan 25 basis poin,” imbuh dia.

Secara terpisah, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan, ruang penurunan suku bunga acuan ke depan akan terbatas. Proyeksi ini mempertimbangkan kinerja eksternal dan internal untuk beberapa bulan ke depan.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro

“Kami melihat bahwa BI kemungkinan besar akan mempertahankan BI-7DRR sebesar 3,50% di tahun 2021 sambil terus melaksanakan quantitative easing (QE),” tuturnya.

Untuk saat ini, Andry menilai ruang untuk BI menaikkan suku bunga acuan juga sempit dan juga ruang penurunan suku bunga BI semakin terbatas.

Suku bunga kredit modal kerja dan kredit investasi
Suku bunga kredit modal kerja dan kredit investasi

Dia berpendapat, kebijakan suku bunga acuan yang rendah masih dibutuhkan untuk membantu pemulihan ekonomi khususnya bagi perekonomian Indonesia yang diproyeksikan akan mengalami pemulihan secara bertahap.

“Agenda BI untuk mendukung perekonomian ke depan akan lebih fokus untuk kebijakan QE dan pelonggaran kebijakan makroprudensial,” jelasnya. (hg)

Baca juga

https://investor.id/business/suku-bunga-acuan-35-terendah-dalam-sejarah

https://investor.id/business/bi-revisi-pertumbuhan-kredit

https://investor.id/business/bi-perlonggar-kredit-properti-dan-kendaraan-bermotor

https://investor.id/business/stimulus-ojk-perkuat-relaksasi-bi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN