Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu armada Garuda Indonesia. Foto: IST

Salah satu armada Garuda Indonesia. Foto: IST

Ini Upaya Garuda Mendongkrak Penumpang

Rabu, 29 Juli 2020 | 10:44 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com) ,Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Garuda Indonesia Tbk saat ini tengah berupaya menaikkan kembali jumlah penumpang yang anjlok akibat pandemi Covid-19.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, mula-mula Garuda mengalami kehilangan potensi pasar karena penutupan sementara penerbangan dari Indonesia ke Tiongkok dan sebaliknya oleh pemerintah, guna mencegah penyebaran Covid-19 yang merebak pertama kali dari negara itu.

Setelah itu, kata Irfan saat virtual meeting bersama BeritaSatu Media Holdings di Jakarta, Selasa (28/7), Garuda kembali kehilangan pasar karena kunjungan umrah ditutup sementara oleh pemerintah Arab Saudi.

Padahal, sebelumnya, Garuda Indonesia melayani delapan penerbangan pergi-pulang Indonesia-Arab Saudi setiap harinya.

“Kalau umrah tetap dilarang sampai akhir tahun ini, mungkin kami kehilangan potensi penumpang sekitar 400.000 penumpang. Padahal, penerbangan umrah ini cukup menguntungkan,” tandas Irfan.

Irfan Setiaputra, Dirut Garuda. Sumber: BSTV
Irfan Setiaputra, Dirut Garuda. Sumber: BSTV

Pukulan lebih besar, ujar Irfan, terjadi setelah diumumkannya kasus Covid-19 per tama di Indonesia. Sejak saat itu, penurunannya sangat drastic sehingga penerbangan Garuda anjlok hingga 90%.

“Ini memukul sekali dan semua maskapai kena, lebihlebih yang orientasinya hub turunnya 100%. Kami masih diuntungkan ada penerbangan domestik walau dengan keterbatasan,” ujar Irfan. Kemudian, pandemi memupus harapan Garuda akan angkutan mudik yang biasanya menjadi ladang pendapatan yang besar.

Lalu, Garuda kehilangan momentum untuk angkutan liburan sekolah dan terakhir angkutan haji.

“Haji ini sebuah bisnis yang dengan mudah kami bisa memperoleh pendapatan US$ 250 juta atau Rp 3,5 triliun. Ini semua hilang. Ini yang saya katakana pendapatan kami menurun tinggal 10% di Mei lalu. Kami berharap Mei itu bulan terburuk di penerbangan. Kami berharap tidak ada pandemi kedua yang bisa memukul lebih dalam lagi,” papar Irfan.

Dia menjelaskan, penurunan industri penerbangan terjadi karena fundamentalnya adalah mobilitas. Ketika ada anjuran bekerja dari rumah, larangan mudik, penerapan pembatasan sosial berskala besar, hingga penerapan protokol kesehatan yang ketat saat di bandara serta di pesawat, maka keinginan masyarakat untuk bepergian menurun. Namun demikian, ungkap Irfan, Garuda Indonesia mulai mencatatkan kenaikan jumlah penumpang bulan ini.

Sepanjang Juli 2020, volume penumpang Garuda merangkak ke angka 20% dari kondisi normal. Kini, Garuda gencar melakukan sosialisasi agar penumpang kembali mau terbang bersama Garuda. Garuda ingin meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa terbang dengan Garuda aman dan nyaman. Pesawat juga sudah menerapkan sirkulasi udara vertikal yang disaring dengan high efficiency particulate air (HEPA), sehingga udaranya hampir 99% bersih.

Efisiensi Biaya SDM

Langkah Garuda pulihkan kinerja
Langkah Garuda pulihkan kinerja

Irfan juga menjelaskan, beban biaya sumber daya manusia (SDM) yang ditanggung oleh Garuda Indonesia cukup besar. Ini karena operator penerbangan selalu menyiapkan kru jauhjauh hari sebelum kedatangan pesawat. Apalagi, sebelumnya, ada pertumbuhan penumpang yang signifikan selama beberapa tahun terakhir.

Garuda memiliki 8.000 pegawai, yang terdiri atas 1.400 pilot, 3.000 awak kabin, dan sisanya ground staff.

“Dari pendapatan, kami turun 90% karena pandemi, tapi dari sisi biaya, kami tidak bisa turun secepat itu. Jadi, kami ingin fokus manage biaya ini menjadi serendah-rendahnya,” imbuhnya.

Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. Sumber: BSTV
Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. Sumber: BSTV

Guna efisiensi biaya personil, Garuda Indonesia menyiapkan beberapa program, antara lain pemotongan gaji untuk semua level personil, mulai dari komisaris, direksi, hingga karyawan sejak April 2020. Pemotongan ini bersifat penundaan, yang sisa kekurangan atau pemotongan bakal dibayar di kemudian hari.

Menurut Irfan, besaran pemotongan gaji berlaku proporsional, untuk yang bergaji besar maka dipotong dengan persentase yang lebih besar dan semakin kecil gajinya semakin kecil pemotongannya. Di jajaran komisaris dan direksi pemotongannya mencapai 50%.

Selain itu, Garuda mempercepat kontrak sejumlah pegawai tidak tetap karena saat ini perusahaan sedang minim produksi. Perusahaan juga menawarkan program pensiun dini bagi karyawan berusia 45 tahun ke atas secara sukarela.

“Ada 500 karyawan gabungan dari semua tipe pekerjaan sudah mengajukan atau sudah setuju pensiun dini secara sukarela. Juga ada 135 pilot pegawai kontrak yang dipercepat kontraknya. Lalu sekitar 800-an awak kabin dan ground staff kami minta untuk sementara dirumahkan,” papar Irfan. (en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN