Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua INSA Surabaya Stenvens Handry Lesawengen, para pengusaha pelayaran dan Ketua Kadin Jatim Adik Dwiputranto saat diskusi tentang tol laut di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Jumat (3/7/2020) .Foto:Amrozi Amenan

Ketua INSA Surabaya Stenvens Handry Lesawengen, para pengusaha pelayaran dan Ketua Kadin Jatim Adik Dwiputranto saat diskusi tentang tol laut di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Jumat (3/7/2020) .Foto:Amrozi Amenan

INSA Surabaya Usulkan Perubahan Konsep Tol Laut

Jumat, 3 Juli 2020 | 23:08 WIB
Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com)

SURABAYA- investor.id - Pengusaha pelayaran yang tergabung dalam Indonesia Nasional Shipowners' Association (INSA) Surabaya mengusulkan perubahan konsep tol laut. Pemuatan barang tidak seharusnya hanya dilakukan dengan kontainer atau serba kontainer (containerize) seperti sekarang, melainkan juga dengan curah dengan kapal-kapal perintis untuk meningkatkan keterisian atau okupansi kapal.

Usulan INSA Surabaya itu disampaikan dalam diskusi dengan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim di Graha Kadin di Surabaya, Jumat (3/7/2020).

Ketua INSA Surabaya, Stenvens Handry Lesawengen mengungkapkan bahwa ide tol laut sejatinya sangat brilliant untuk kemanfaatan masyarakat, yakni menghilangkan disparitas harga komoditas di daerah. Sayangnya, konsep tol laut yang sekarang diterapkan kurang tepat. Sehingga, kebijakan tol laut yang sudah berjalan selama hampir lima tahun itu masih jauh dari harapan pemerintah. Harga harga komoditas tak berubah, disparitas harga masih terjadi.

Di sisi lain, kebijakan tol laut membawa dampak juga kepada perusahaan pelayaran dengan kapal-kapal kecil mereka, yang nasibnya kembang kempis karena harus bersaing dengan kapal tol laut yang tarifnya bersubsidi. “Konsep tol laut sekarang pun harus diubah,” ungkap Stenvens.

Ketua INSA Surabaya Stenvens Handry Lesawengen, para pengusaha pelayaran dan Ketua Kadin Jatim Adik Dwiputranto saat diskusi tentang tol laut di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Jumat (3/7/2020) .Foto:Amrozi Amenan
Ketua INSA Surabaya Stenvens Handry Lesawengen, para pengusaha pelayaran dan Ketua Kadin Jatim Adik Dwiputranto saat diskusi tentang tol laut di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Jumat (3/7/2020) .Foto:Amrozi Amenan

Menurutnya, konsep tol laut saat ini adalah konsep containerized, padahal jalur tol laut tidak perlu harus dengan kontainer, tetapi bisa juga dilakukan dengan curah karena kebutuhannya tidak selalu banyak.

“Analoginya begini, saya punya angkutan yang akan dibawa ke desa di Gresik atau Lamongan, yang tidak perlu bus yang besar dan hanya butuh bemo karena kebutuhannnya juga tidak besar. Ketika saya menyiapkan bus yang besar yang akan mengangkut ke sana, itu menjadi salah besar,” terang Stenvens.

Karena pemuatan barang harus dengan kontainer, tingkat keterisian kapal yang disediakan oleh pemerintah pun menjadi rendah. Dan untuk meningkatkan tingkat ketererisian tersebut, Menteri Perdagangan telah mengeluarkan peraturan baru melalui Permendag nomor 50/2020. Peraturan itu menjadikan jenis barang yang bisa dimuat oleh kapal tol laut menjadi sangat banyak.

“Sekarang semua barang hingga sandal jepit pun bisa diangkut dengan kapal tol laut,” tandasnya.

Dampak lain dari kebijakan itu adalah pengusaha pelayaran swasta dengan kapal perintis yang sebelumnya sudah kesulitan kini semakin tidak bisa bergerak dan susah bernapas karena harus bersaing dengan kapal tol laut yang mendapat subsidi pemerintah, bahkan untuk barang non-sembako.

"Kalau mematikan kami pengusaha pelayaran dengan fair itu masih bisa diterima, tetapi kalau dengan subsidi ya pasti kami akan mati," timpal salah satu pemilik kapal, Suwito Hartanto.

Karena itu, Stenvens berharap pemerintah mau meninjau kembali konsep tol laut tersebut dan mengubahnya dengan melibatkan swasta. Apalagi sejauh ini, dengan alokasi anggaran cukup besar yang sudah dikeluarkan, ternyata harga barang di daerah tujuan ternyata tidak berubah.

"Padahal tujuan konsep tol laut awalnya adalah untuk mengurangi disparitas harga di daerah-daerah terpencil, dan tidak terjangkau, dan yang seharusnya tidak membutuhkan kapal besar, cukup dengan kapasitas 1.000 GT," jelas Stenvens.

Menurut Suwito, jumlah kapal perintis dengan rata-rata kapasitas 1.000 GT di Pelabuhan Kalimas Surabaya ada sebanyak 100 unit, dari jumlah itu hanya sekitar 50% yang beroperasi secara rutin. Secara total di Jatim jumlah kapal perintis mencapai ribuan kapal.

Karena tak mampu bersaing dengan kapal tol laut yang disubsidi, kapal-kapal perintis itu banyak tidak dapat menghasilkan apa-apa.

“Padahal mereka harus mengeluarkan biaya operasional seperti biaya sewa parker, termasuk juga biaya pengurusan 22 sertifikasi kapal setiap 6 bulannya,” katanya.

Stenvens menambahkan, jika pengusaha pelayaran dilibatkan dalam program tol laut, pihaknya tidak meminta subsidi.

“Kami hanya ingin regulasi pelayaran yang sangat banyak sekarang seharusnya bisa disederhanakan," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Kadin Jatim Adik Dwiputranto mengatakan bahwa menindaklanjuti aspirasi para pengusaha pelarayaran tersebut. “Kami akan melakukan mediasi dengan seluruh stakehorder terkait,“ tandasnya.

“Akan kami evalusai dan mendiskusikan masalah tol laut ini. Selanjutnya, kami akan berkirim surat kepada Kementerian Perhubungan dan Kementerian Perdagangan,” timpal Dedy Suhajadi bahwa Kadin Jatim akan mendiskusikannya. “ tandas Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Organisasi Dedy Suhajadi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN