Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhdori. Foto: IST

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhdori. Foto: IST

Investasi Hulu Dongkrak Pertumbuhan TPT

LEO, Senin, 13 Mei 2019 | 09:47 WIB

JAKARTA – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mencatatkan pertumbuhan 18,98% pada kuartal I-2019, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yaitu 7,46%. Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhdori mengatakan, pencapaian gemilang ini karena adanya investasi yang cukup besar di sector hulu, khususnya produsen rayon.

Muhdori menyebut, salah satu bentuk investasi besar itu adalah beroperasinya PT Asia Pacific Rayon (APR) di Riau pada akhir 2018, dengan investasi Rp 11 triliun. Pabrik ini menambah kapasitas produksi sebesar 240 ribu ton per tahun, yang setengahnya diorientasikan untuk keperluan pasar ekspor.

“Itu yang menyebabkan peningkatan dari sisi ekspor. Selain itu, supply dari hulu yang meningkat, juga mendorong kinerja ke industri hilir dan antara, sehingga secara kumulatif industrinya semakin bergairah. Ini ditandai dengan ekspor TPT yang naik 1,1% pada kuartal I tahun ini,” kata Muhdori di Jakarta, Minggu (12/5).

Dia menambahkan, adanya kebijakan pengendalian terhadap impor yang dilakukan oleh pemerintah sejak Februari 2017 juga berdampak positif terhadap penurunan impor yang mencapai 2,1% pada kuartal I-2019. “Penurunan impor berdampak pada

surplus neraca perdagangan yang ikut naik,” ungkap dia.

Peningkatan produktivitas industri TPT, lanjut Muhdori, juga ditunjang melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi yang dilakukan oleh Kemenperin.

Program ini menciptakan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten dan produktif. Bahkan, didorong pula adanya momentum pemilihan umum beberapa waktu lalu, yang sebagian pelaku industri TPT memproduksi atribut untuk kampanye.

Muhdori meyakini, konsumsi TPT akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perubahan gaya hidup. “Dalam memanfaatkan peluang ini, pelaku industri TPT nasional harus bekerja keras meningkatkan produktivitas, kualitas, dan efisiensi melalui penerapan teknologi yang lebih modern sesuai dengan era digital,” ujar dia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebelumnya menilai, industri TPT dalam negeri mampu kompetitif di kancah global karena telah memiliki daya saing tinggi. Hal ini lantaran struktur industrinya yang sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir, dan

produknya juga dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.

“Dengan pertumbuhan ekonomi dan pergeseran permintaan dari pakaian sehari-hari (basic clothing) menjadi pakaian fungsional seperti baju olahraga, industri TPT nasional perlu membangun kemampuan produksi dan meningkatkan skala ekonomi agar

dapat memenuhi permintaan di pasar domestik maupun ekspor,” terang dia.

Menperin mengungkapkan, kemampuan industri TPT yang semakin kompetitif terlihat pada laju pertumbuhannya yang mencapai 8,73% sepanjang 2018, jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,17%. “Pada 2018, industri TPT menjadi penghasil devisa yang cukup signifikan dengan nilai ekspor US$ 13,22 miliar atau naik 5,55% dibanding tahun lalu. Selain itu, industri TPT telah menyerap tenaga kerja sebanyak 3,6 juta orang. Ini yang menjadikan industri TPT sebagai sektor padat karya dan berorientasi ekspor,” pungkas Airlangga.  

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN