Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penjual daging sapi melayani pembeli di Pasar Modern BSD City, di Tangerang Selatan, Selasa (19/1/2021). Foto ilustrasi

Penjual daging sapi melayani pembeli di Pasar Modern BSD City, di Tangerang Selatan, Selasa (19/1/2021). Foto ilustrasi" BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Jabodetabek Bisa Alami Krisis Daging Sapi

Minggu, 24 Januari 2021 | 09:45 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Wilayah Jabodetabek bisa mengalami krisis daging sapi jika tidak diatasi dengan serius, perlu sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah agar harga daging sapi bisa normal dan tidak mengalami lonjakan yang cukup tinggi.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Muladno mengatakan peningkatan harga daging sapi hanya terjadi di wilayah Jabodetabek dan banyak para pedagang yang melakukan aksi mogok nasional.

Harga yang melonjak tinggi tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan Indonesia terhadap impor daging terutama dari Australia.

Di samping impor yang tinggi, produksi sapi bakalan di Indonesia tidak mencukupi dan produksinya hanya diperbanyak oleh peternak mendekati Hari Raya Idul Adha.

Pedagang sapi di pasar Kebayoran Lama masih mogok berjualan di hari ke-2, Jakarta, Kamis (21/1/2021). Pedagang daging sapi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menggelar aksi mogok jualan selama tiga hari. Memasuki hari kedua, Pemprov DKI Jakarta memasok stok daging beku di 5 pasar. Foto: SP/Joanito De Saojoao
Pedagang sapi di pasar Kebayoran Lama masih mogok berjualan di hari ke-2, Jakarta, Kamis (21/1/2021). Pedagang daging sapi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menggelar aksi mogok jualan selama tiga hari. Memasuki hari kedua, Pemprov DKI Jakarta memasok stok daging beku di 5 pasar. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Jabodetabek sendiri merupakan wilayah konsumen daging ternak tertinggi sementara hanya ada 8 provinsi yang bisa memasok daging ke Jabodetabek yaitu Jawa Timur dengan 1 juta ekor kemudian diikuti Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Sumatera Utara, Lampung dan Bali.

“8 provinsi tersebut juga tidak bisa memenuhi kebutuhan nasional mau tidak mau, Indonesia juga tetap melakukan impor dan siklus ini akan terus terjadi berulang ulang,” ujar dia dalam acara Diskusi Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), di Jakarta, belum lama ini.

Jika harga sapi bakalan di Australia naik maka harga daging di Jabodetabek juga terkatrol naik.

Solusi untuk mengatasi masalah sapi ini adalah pertama, serahkan ke pebisnis secara total, pemerintah hanya menerbitkan regulasi yang  kondusif bagi pebisnis.

Kedua, Perankan peternak kecil dimana 98% pemilik sapi indukan di Indonesia lebih nyata melalui pendampingan untuk dikonsolidasikan menjadi pengusaha kolektif profesional.

Ketiga, Perketat aturan impor daging beku hanya untuk bahan baku industri, awasi secara ketat mengalirnya daging beku ke wilayah di luar Jabodetabek untuk kebutuhan konsumsi.

Perlonggar aturan impor sapi bakalan untuk kebutuhan Jabodetabek, sinergi dan kolaborasi memperbanyak sapi indukan lokal yang dimiliki komunitas peternak rakyat.

Kemudian keempat, bangun kerjasama bisnis antara importir daging dan komunitas peternak rakyat untuk membangun perah pembiakan sapi kolektif berjamaah.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN