Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memantau perkembangan pembangunan sirkuit Formula E di Ancol, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Jakarta E-Prix akan menjadi tonggak bersejarah bagi Indonesia dalam rangka transisi menuju penggunaan energi bersih

Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memantau perkembangan pembangunan sirkuit Formula E di Ancol, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Jakarta E-Prix akan menjadi tonggak bersejarah bagi Indonesia dalam rangka transisi menuju penggunaan energi bersih

Jakarta E-Prix, Tonggak Penggunaan Energi Bersih yang Berkelanjutan

Jumat, 20 Mei 2022 | 23:36 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Perhelatan ajang balap mobil listrik Jakarta E-Prix di sirkuit Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC), Ancol, Jakarta Utara akan digelar 4 Juni 2022 mendatang. Para pekerja tampak hilir mudik merangkai besi-besi yang dijadikan tiang penyangga tribun atau grand stand untuk penonton. Agus, salah satu pekerja di JIEC mengaku para pekerja dibagi ke dalam beberapa shift. Pekerjaan konstruksi dikebut siang malam, sehingga sepekan sebelum kejuaraan, sirkuit sudah selesai total.

“Saya  mengerjakan podium dan paddock,” ucapnya saat ditemui di kawasan JIEC, Kamis (19/5).

Di kawasan sirkuit, tampak dua warga negara asing berboncengan menggunakan rompi warna biru muda hilir mudik memantau kegiatan konstruksi yang dilakukan para pekerja. “Mereka dari panitia (The Federation Internationale de l'Automobile/FIA) yang mengawasi setiap hari. Karena sirkuit ini harus sesuai dengan standar (internasional),” ucapnya. Agus pun mengaku bangga menjadi bagian dari sejarah baru Indonesia yang menjadi tuan rumah perhelatan kejuaraan balap mobil listrik dunia.

Hari itu, Organizing Committee (OC) Formula E atau Jakarta E-Prix mengunjungi sirkuit untuk memantau langsung perkembangan pembangunannya. Kunjungan tersebut dipimpin oleh Chairman OC Jakarta E-Prix Ahmad Sahroni yang didampingi oleh beberapa pejabat yang bertanggung jawab langsung dalam ajang balapan itu.

Roni, begitu sebutan akrab Ahmad Sahroni, menegaskan, penyelenggara masih terus melaksanakan pembangunan dan perkembangannya bisa dilihat dari hari ke hari. “Proses persiapan dan pembangunan masih berjalan terus. Sirkuit dan sarana penunjangnya sudah makin terlihat dan inilah bentuk konkrit pembangunan yang dilakukan para ahli di Formula E,’’ujarnya.

Roni menambahkan, JIEC tidak hanya menjadi kebanggan Jakarta, tetapi juga Indonesia. “Perlu juga ditegaskan bahwa Formula E ini bukan event politik, melainkan event olahraga kecintaan Indonesia yang bisa membuat kita bisa sejajar dengan negara lain,” ujarnya.

Jakarta E-Prix membentang sepanjang 2,4 kilometer dengan lebar rata-rata 14 meter. Track ini juga memiliki 18 tikungan searah jarum jam. “Kalau kita lihat dari Februari, perkembangannya sudah jauh sekali. Untuk track sudah selesai 100%, dan saat ini kita masuk ke tahap construction yang tidak permanen. Ini adalah rekor, kita membangun track yang dilakukan selama dua bulan. Kalau ada yang mengatakan ini adalah pembangunan track yang tercepat pembangunannya untuk event dunia, itu betul,” ujar Vice President Infrastructure and General Affairs OC Jakarta ePrix 2022 Irawan Sucahyono.

Sedangkan Managing Director Formula E Gunung Kartiko menyebut, sejauh ini tiket untuk kategori VIP sudah terjual habis. Sementara tiket kategori Grand Stand, penjualannya sudah mencapai 70%, dan penjualan tiket kategori Festival sudah mencapai 15%.

“Ini yang membeli tiket tak hanya orang Indonesia, tetapi banyak juga warga asing yang turut antusias untuk menonton event ini. Jadi kita harapkan kedatangan mereka akan membawa devisa bagi Indonesia,”tegasnya.

Tonggak Penggunaan Energi Bersih

Jakarta E-Prix bukanlah sekadar ajang balap mobil semata. Tetapi lebih dari itu, kehadirannya ditargetkan menjadi tonggak bagi Indonesia untuk mulai menggunakan dan memanfaatkan energi bersih melalui energi baru terbarukan.

“Ajang Jakarta E-Prix menjadi momentum untuk mendorong masyarakat beralih menggunakan energi bersih dan ramah lingkungan,’’ujar Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan.

Terlebih, di Indonesia, sektor transportasi atau kendaraan bermotor menyumbang 27% emisi karbon (157 juta ton CO2). Terbesar kedua setelah sektor industri yang menyumbang 37% atau 215 juta ton CO2. Penggunaan kendaraan listrik roda dua maupun roda empat berpotensi menurunkan emisi karbon atau gas rumah kaca. “Kendaraan listrik sudah jelas ramah lingkungan dan tentu akan sangat baik bagi keberlanjutan lingkungan,’’paparnya.

Pemerintah sudah memasang target yang cukup ambisius untuk kendaraan listrik yakni 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta kendaraan listrik roda-2 akan beredar di Tanah Air pada 2030 mendatang.

Sehingga, lanjut Mamit, ajang Jakarta E-Prix akan menjadi tonggak sejarah tak hanya bagi Jakarta, tetapi juga bagi Indonesia. “Masyarakat akan semakin tahu kelebihan energi baru terbarukan,’’ucapnya.

CEO Formula E, Jamie Reigie pun menegaskan, Formula E merupakan seri balap mobil listrik kelas dunia yang didukung oleh inspirasi pendirinya untuk melawan perubahan iklim dengan mempercepat adopsi kendaraan listrik untuk masa depan yang lebih baik.

“Kejuaraan Formula E ABB FIA bertujuan untuk memberikan masa depan yang lebih baik melalui balap. Kami berkomitmen untuk menjadi pemeran utama dalam menangkal efek dari perubahan iklim,’’tegasnya.

Formula E, lanjut dia, memiliki tanggung jawab untuk meminimalkan dampak lingkungan dan mengembangkan praktik berkelanjutan. “Kami berharap dapat menginspirasi orang lain untuk bergabung dengan kami,”imbuhnya.

Jakarta E-Prix menjadi inspirasi dan tonggak untuk melakukan transisi menuju energi bersih. Bersamaan dengan momentum Jakarta E-Prix, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meresmikan uji coba autonomous electric vehicles (AV) atau kendaraan listrik tanpa awak.

Kendaraan listrik otonom ini berasal dari Prancis dengan nama Navya Arma. “Kehadiran AV menjawab solusi akan kendaraan yang rendah emisi karbon, mengurangi kemacetan, dan tepat waktu. Semoga teknologi inipun bisa kita tunjukan saat G20 Summit sehingga mata dunia tau bahwa Indonesia punya visi masa depan dan membuat terobosan,’’tegas Menhub Jumat (20/5).

Navya Arma memiliki penggerak listrik dan battery pack berkapasitas 33 kWh yang dapat bertahan selama 9 jam. Kendaraan listrik itu berdimensi 4,7 m x 2,1 m dengan kapasitas penumpang 15 orang, dengan formasi 11 tempat duduk dan 4 berdiri. Arma dilengkapi dengan beragam sensor mulai dari pemanfaatan GPS (Global Positioning System), sensor LIDAR (Light Radar) yang digabungkan dengan kamera resolusi tinggi untuk big data analysis, kemudian akan diproses oleh komputer yang memiliki spesifikasi tinggi tertanam di dalam mobil.

Transportasi listrik tanpa awak ini mempunyai kemampuan akselerasi, navigasi, hingga dapat mendeteksi kondisi lingkungan di sekitarnya, termasuk menghindari halangan dan melakukan pemberhentian secara otonom.

Penggunaan kendaraan listrik secara massal merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendorong dan mempercepat transisi menuju penggunaan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan.

Menurut Menhub, inovasi pengembangan transportasi listrik di dalam negeri terus dilakukan sebagaimana telah tertuang dalam Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan. “Pemerintah concern terhadap pengembangan kendaraan listrik,” ungkap Menhub.

Di tengah tren mobilitas global menunjukkan pergeseran secara eksponensial dari kendaraan konvensional menuju elektrifikasi, Indonesia memiliki potensi dalam memproduksi kendaraan listrik.

Sejumlah negara maju telah menargetkan pada tahun 2030 semua kendaraan sudah berbasis Battery Electric Vehicle (BEV). Untuk mempercepatnya, sejumlah insentif pun dikeluarkan pemerintah seperti pemberian subsidi untuk pembelian BEV, zero road tax, zero registration tax for zero emission car, sampai ke pemberian diskon khusus kepada pembeli BEV.

Indonesia perlu melakukan upaya percepatan transisi energi ke EBT. Dukungan penyediaan (supply) dari sisi pembangkitan yang disiapkan oleh PLN menjadi pendorong dan modal penting bagi percepatan tumbuhnya ekosistem elektromobilitas, karena nanti diharapkan sudah tidak ada kendala lagi di sisi suplai listriknya.

Sementara itu, PT PLN (Persero) menegaskan komitmennya untuk memasok listrik hijau ramah lingkungan. Termasuk untuk mendukung penyelenggaraan ajang balap mobil listrik Formula E.

Khusus untuk mendukung Formula E, BUMN kelistrikan itu menggelontorkan investasi Rp 7 miliar. PLN telah mempersiapkan Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) yang telah digelar sepanjang 6.8 Kilo Meter Square (KMS). Pembangunan gardu yang sudah mencapai 80% dan direncanakan selesai pada 25 Mei 2022.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Doddy B Pangaribuan mengatakan, dari daya listrik yang dibutuhkan dalam ajang balap mobil listrik tersebut sebesar 7 MVA nantinya akan dipenuhi PLN dari energi bersih yang terjamin dalam produk Renewable Energy Certificate (REC).

“Melalui REC, PLN memastikan energi yang digunakan berasal dari pembangkit listrik berbasis energi terbarukan (EBT) yang diaudit oleh sistem tracking internasional, APX TIGRs yang berlokasi di California, Amerika Serikat,”katanya.

Dengan semikian, Formula E Jakarta dapat membuktikan eksistensinya dalam berkontribusi mengurangi emisi karbon dengan menggunakan energi yang berasal dari pembangkit EBT di Indonesia.

Hal ini juga sejalan dengan program Pemprov DKI Jakarta yakni “Jakarta Langit Biru” yang diproyeksikan menghadirkan udara bersih di Jakarta yang dimulai dari transportasi bebas emisi, dengan penyelenggaraan Formula E sebagai momentumnya. "Kami siap mendukung penyelenggaraan Formula E dengan energi ramah lingkungan, bebas polusi yang berasal dari energi terbarukan," tegas Doddy.

Memopulerkan Energi Bersih Melalui Kendaraan Listrik

Pemerintah Indonesia sendiri menegaskan komitmennya untuk mencapai net zero emissions (NXE) atau nol emisi karbon pada 2060 mendatang. NZE merupakan kondisi dimana jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer tidak melebihi jumlah emisi yang mampu diserap oleh bumi. Diperlukan transisi dari sistem energi yang digunakan sekarang ke sistem energi bersih untuk mencapai kondisi seimbang antara aktivitas manusia dengan keseimbangan alam.

Untuk mengurangi jejak karbon dan mencapai kondisi net zero emissions, pemerintah menerapkan lima prinsip utama. Diantaranya peningkatkan pemanfaatan enerrgi baru terbarukan (EBT), pengurangan energi fosil, penggunaan kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri, serta pemanfaatan Carbon Capture and Storage (CCS).

Data dari Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, Indonesia berhasil menurunkan emisi sebesar 69,5 juta ton CO2 ekuivalen (CO2e) pada 2021, melebihi target Nationally Determined Contributions (NDC) yang sebesar 67 juta ton CO2e untuk 2021.

Implementasi energi baru dan terbarukan (EBT) berkontribusi terbesar dengan penurunan sebesar 30,34 juta ton CO2e. Bahan bakar rendah karbon ikut membantu mengurangi 12,01 juta ton CO2e dan penggunaan teknologi pembangkit bersih menurunkan 9,36 juta ton CO2e. Pada 2022, pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan emisi karbon dapat mencapai 91 juta ton CO2e. Sektor transportasi, merupakan sektor yang diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon secara masif melalui penggunaan kendaraan listrik.

Jakarta menjadi salah satu kota yang menyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia. Data dari Komite Penghapusan Bensin Bertimbal menyebutkan, sebelum pandemic Covid-19 melanda Indonesia, emisi karbon dari bus menyumbang CO2 terbanyak di Jakarta, yakni sebesar 145.778 ton per hari atau setara dengan 46% dari total 318.840 ton CO2 yang dihasilkan per harinya. Sedangkantu, emisi dari truk berada di peringkat kedua dengan 106.057 ton atau 33%, kemudian sepeda motor dengan 49.271 ton atau 16%. Emisi dari mobil pribadi menyumbang 9.934 ton atau 3%, dan mobil berbahan bakar diesel menghasilkan 7.765 ton atau 2% emisi karbon.

Karenanya, Pemprov DKI Jakarta terus menggalakkan kampanye penggunaan energi bersih bagi warganya. Salah satu langkah strategis yang dilakukan yakni mengoperasiakan transportasi umum dengan armada kendaraan listrik. Seperti yang dilakukan oleh PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

Transjakarta telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Bloomberg New Energy Finance (BNEF), di London, Inggris, Jumat (13/5) lalu. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan, Jakarta memiliki target untuk mencapai nett zero emission pada 2050. Oleh karenanya perlu dibuat berbagai kebijakan, salah satunya dalam aspek mobilitas perkotaan yang berkelanjutan.

“Ini satu diskusi yang menarik tentang sustainable mobility, pengembangan transportasi publik yang berkelanjutan. Kami bertukar pikiran terkait langkah-langkah mitigasi perubahan iklim. Tentu ini jadi kesempatan menjelaskan yang sedang dan akan dikerjakan di Jakarta,” ujar Anies dalam keterangan resminya.

Transjakarta, lanjut Anie, mematok target elektrifikasi 50% armada pada 2025 dan elektrifikasi seluruh armada Transjakarta pada tahun 2030 termasuk kebijakan terkait sustainable mobility tersebut.

Kerja sama ini diharapkan dapat membantu mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon .dan target capaian nett zero emission melalui elektrifikasi bus Transjakarta

Direktur Utama PT Transjakarta M. Yana Aditya menambahkan, langkah strategis tersebut merupakan bentuk pelaksanaan komitmen Pemprov DKI untuk berpartisipasi pada pencapaian peta jalan bebas bahan bakar fosil yang diinisiasi C40 Cities. ‘’Transjakarta berkomitmen untuk melakukan transisi bus konvensional menjadi bus listrik dengan target secara menyeluruh pada 2030,”imbuhnya.

“Kerja sama Transjakarta dengan BNEF untuk mengelola data dan riset untuk mendukung adaptasi transisi energi dalam bentuk bus listrik ini,” katanya. Tahun ini, Transjakarta mematok target 100 bus listrik akan beroperasi, Hingga saat ini sudah ada 30 bus listrik yang dioperasikan sejak Februari 2022.

Secara bertahap, pengadaan bus listrik diharapkan bisa terus meningkat tiap tahunnya. Pada 2023 kami harap mencapai 10% dari total armada yang dioperasikan Transjakarta, 2024 sebesar 35%, 2025 sebanyak 51%, dan mencapai 100% pada 2030. Untuk spesifikasinya, bus listrik Transjakarta dibekali kapasitas baterai 324 kWh, dengan jarak tempuh 196 kilometer dalam kondisi terisi daya penuh.

Pemprov DKI Jakarta menargetkan pengurangan emisi karbon 30%-50% di 2030 dan net zero emission pada 2050. Saat ini emisi karbon baru berkurang sebanyak 26%. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) No 20 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jakarta Bebas Karbon. Bagi jutaan orang yang setiap hari melakukan mobilitas di di Jakarta dan sekitarnya, tingginya emisi pada sistem transportasi memberikan dampak signifikan bagi lingkungan. Karenanya, Pemprov DKI Jakarta menjadikan dekarbonisasi menjadi prioritas. Jakarta berusaha menjadi kota yang memiliki komitmen kuat dalam menangani krisis iklim global.

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN