Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan dengan latar gedung  apartemen dan perkantoran di Jakarta,   Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan dengan latar gedung apartemen dan perkantoran di Jakarta, Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Jelang Akhir 2021, Sinyal Pemulihan Properti Menguat

Minggu, 10 Oktober 2021 | 08:20 WIB
Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

SINYAL pemulihan sektor properti dinilai kian menguat memasuki akhir 2021.

Konsultan properti Colliers International Indonesia memperkirakan bahwa kinerja sektor properti meningkat pada kuartal IV-2021 asalkan tidak ada kemunculan gelombang ketiga dari pandemi Covid-19 di Tanah Air.

Di sisi lain, pengembang menilai bahwa stimulus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ikut menggairahkan sektor properti. Stimulus itu bergulir hingga akhir 2021.

“Diperkirakan tingkat permintaan meningkat kuartal IV-2021, asal tidak ada gelombang ketiga Covid-19,” kata_Head Research Department Colliers Indonesia, Ferry Salanto, dalam paparan properti virtual di Jakarta, Rabu (6/10).

Head of Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto
Head of Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto

Menurut Ferry, munculnya gelombang kedua Covid-19 pada periode Juli 2021 merupakan kejadian yang dapat dinilai luar biasa karena terjadi peningkatan kasus cukup tinggi, sehingga pemerintah juga terpaksa melaksanakan kebijakan PPKM darurat.

Dia mengungkapkan, gelombang kedua Covid-19 tersebut berdampak signifikan kepada menurunnya kinerja properti pada kuartal III-2021.

“(Gelombang kedua) itu mewarnai atau memberikan nuansa kepada temuan-temuan kita di kuartal-III, karena sektor properti betul- betul terpukul,” dia seperti dikutip Antara.

Ferry memaparkan, untuk pasar apartemen di Jakarta pada kuartal III-2021 tidak ada proyek baru yang diperkenalkan di Jakarta, sedangkan pada periode yang sama hanya ada 2.107 unit baru dari empat proyek yang diserahterimakan, sedangkan total unit di apartemen di Jakarta ada sebanyak 217.085 unit.

Meski demikian, lanjutnya, tingkat serapan sedikit meningkat walaupun hanya 0,09% secara kuartalan, sedangkan untuk tingkat harga jual terungkap rata-rata tidak ada kenaikan harga jual, yaitu masih ada di kisaran harga sekitar Rp 35 juta per meter persegi.

Menurut Ferry, penjualan rumah tapak sedikit lebih baik daripada unit apartemen, hal tersebut antara lain karena jualan di apartemen banyak yang konstruksinya belum selesai, sedangkan untuk rumah tapak banyak yang_ready stock.

Selain itu, ujar dia, karena tingkat PPKM di Ibu Kota sudah diturunkan hingga ke level 3 dan kegiatan konstruksi diizinkan, maka diperkirakan semakin banyak pengembang yang mengebut untuk menyelesaikan proyek mereka.

Panangian Simanungkalit. Foto: sp.beritasatu.com
Panangian Simanungkalit. Foto: beritasatu.com

Sementara itu, pengamat bisnis properti Panangian Simanungkalit menilai bahwa pada triwulan IV-2021 seharusnya penjualan properti meningkat kembali, seiring dengan pemulihan perekonomian.

Dia menjelaskan, tren penjualan property pada triwulan II-2021, pertama kali membaik sejak resesi pada tahu 2020. Kemudian, triwulan ketiga penjualan properti menurun signifikan sekitar 25% dibandingkan dengan triwulan kedua 2021 disebabkan oleh kebijakan PPKM.

“Kinerja triwulan IV-2021 diperkirakan kembali pulih seperti kinerja triwulan kedua tahun ini,” papar Panangian, kepada Investor Daily, belum lama ini.

Dia menambahkan, kebijakan perpanjangan masa pembebasan_Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi sektor properti_ikut berpengaruh positif bagi pemulihan perekonomian. Dan, harus diingat bukan hanya bisnis para pemgembang saja yang menerima manfaatnya, tapi juga para konsumen ataupun investor yang cerdas yang membeli pada saat seperti sekarang ini.

Stimulus PPN

Sektor properti. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Sektor properti. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sementara itu, kebijakan pemerintah membebaskan PPN bagi sektor property dinilai mampu membangkitkan semangat pengembang membangun rumah. Semangat itu terutama bagi pengembang yang membangun rumah di atas Rp 1 miliar.

“Tentu kebijakan pemerintah ini kami sambut gembira, dan upaya-upaya serta terobosan ini seharusnya dilakukan terus agar properti bisa bangkit kembali ditengah pandemi,” kata Ketua Umum_Apersi, Junaidi Abdillah, kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Menurut Junaidi, meski anggota Apersi mayoritas membangun rumah subsidi untuk membantu pemerintah, tetapi Apersi_juga bisa membangun rumah komersial.

“Harga rumah komersial tentu yang terjangkau masih di bawah Rp1 miliar,” kata dia.

Ketum Apersi Junaidi Abdillah
Ketum Apersi Junaidi Abdillah

Dia menambahkan, harga rumah di bawah Rp1 miliar ini masih banyak peminatnya, terutama pasangan muda dan sekitar 80% dari mereka adalah pembeli rumah pertama.

“Kami berharap program PPN ini bisa terapkan pada tahun depan juga,” ujarnya.

Seperti diberitakan bahwa pemerintah menanggung PPN sebesar 100% untuk rumah tapak dan rumah susun dengan harga jual tertinggi senilai Rp2 miliar.

Sementara itu, PPN ditanggung pemerintah sebesar 50% dikenakan untuk pembelian rumah tapak atau susun di atas Rp2 miliar sampai maksimal Rp5 miliar. Stimulus ini berlaku hingga akhir Desember 2021. Sementara itu, terkait pelaksanaan UU Cipta Kerja, kata Junaidi, masih banyak kendala di daerah. Karena masih banyak pemerintah daerah yang belum melaksanakan program Cipta kerja tersebut.

“Di daerah masih sulit terlaksana dari UU Ciptakerja, karena di daerah aturannya tidak mengikuti yang ada di pusat, “ ujarnya. Karena itu, kata Junaidi, pihaknya berharap perlu ada sosialisasi yang tegas mengenai aturan di dalam UU Cipta kerja ini. “Terutama sektor perizinan masih menggunakan aturan lama, jadi belum terasa dampaknya bagi sektor properti, terutama hunian,” kata Junaidi.

Pasokan Perkantoran

Suasana perkantoran di pusat bisnis di Jakarta, Rabu (7/4/2021). Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Suasana perkantoran di pusat bisnis di Jakarta . Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sementara itu, beberapa pembangunan proyek gedung perkantoran yang mengalami pengunduran penyelesaian konstruksi pada kuartal III-2021 akan bergeser ke 2022. Karena itu, tahun depan pasokan cukup besar, yakni mencapai 435 meter persegi (m2).

“Jumlah pasokan baru tahun 2022 akan cukup besar akibat banyaknya penyelesaian gedung yang tertunda di tahun ini,” kata Ferry.

Menurut Ferry, tahun 2022 pasokan baru diperkirakan mencapai 435 ribu m2 dan 78% akan berada di pusat kawasan bisnis (central business district/CBD) Jakarta.

“Setelah itu pertumbuhan pasokan kantor baru akan cenderung terbatas di 2024-2025,” katanya. Ferry menjelaskan bahwa, pada kuartal III-2021, beberapa pembangunan gedung perkantoran akan mengalami pengunduran penyelesaian konstruksi._

“Tidak ada penambahan pasokan baru di CBD maupun juga di Non CBD. Pasokan kumulatif_ tetap berada di angka 6,96 juta meter persegi untuk CBD dan 3,63 juta meter persegi di luar CBD,” ujarnya.

Suasana gedung perkantoran di kawasan CBD, Jakarta, beberapa waktu lalu.  Foto: Investor Daily/DAVID
Suasana gedung perkantoran di kawasan CBD, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Investor Daily/DAVID

Sementara itu, kinerja di kuartal III-2021, rata=rata tingkat hunian di CBD tercatat 78,7% atau turun 0.5% QoQ. Sedangkan Rata rata tingkat hunian di luar CBD tercatat 77,8% atau turun 0,6 % QoQ.

“Di CBD rerata tingkat hunian kantor tertinggi adalah kantor kelas B dan premium yang masih berada di angka 80.1% dan 79.9%.

Untuk di luar CBD, rerata tingkat hunian kantor tertinggi adalah kantor kelas C yakni mencapai 85.6%,” ujar Ferry. Menurut dia, terbatasnya jumlah pasokan baru di CBD akan mengangkat rerata tingkat hunian kantor pada akhir tahun 2021.

Sementara itu, di luar CBD rerata tingkat hunian diperkirakan akan mengalami penurunan dikarenakan besarnya jumlah pasokan baru dan belum terlihat tingginya komitmen penyewa pada gedung gedung baru yang akan segera beroperasi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN