Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi.

Jokowi: Defisit RAPBN 2021 di Kisaran 5,5% PDB

Jumat, 14 Agustus 2020 | 14:42 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

 JAKARTA, Investor.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan,  pemerintah menargetkan defisit sebesar 5,5% dari produk domestik bruto (PDB) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2021 atau sebesar Rp 971,2 triliun. Pelebaran defisit dilakukan mengingat kebutuhan belanja negara difokuskan untuk penanganan kesehatan dan perekonomian saat pendapatan negara mengalami penurunan.

“Defisit ini lebih rendah dibandingkan defisit anggaran di tahun 2020 sekitar 6,34% dari PDB atau sebesar Rp 1.039,2 triliun," kata Presiden Jokowi pada Penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2021 Beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2020).

Adapun untuk asumsi indikator ekonomi makro, kata Presiden Jokowi, pertumbuhan ekonomi dipatok pada kisaran 4,5-5,5%. “Tingkat pertumbuhan ekonomi ini diharapkan didukung oleh peningkatan konsumsi domestik dan investasi sebagai motor penggerak utama," ujar dia.

Inflasi, menurut Presiden, akan tetap terjaga pada level 3% untuk mendukung daya beli masyarakat. Sedangkan rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 14.600 per dolar AS.

Selain itu, kata Presiden Jokowi, suku bunga surat berhaga negara (SBN) 10 tahun diperkirakan sekitar 7,29%, harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 45 per barel, dan produksi (lifting) minyak dan gas bumi (migas) diperkirakan masing-masing mencapai 705 ribu barel per hari (bph) dan 1,007 juta barel setara minyak per hari (bsmph).

Menurut Presiden Jokowi, pandemi Covid-19 telah menjadi bencana kesehatan dan kemanusiaan di abad ini yang berimbas pada semua lini kehidupan manusia. Berawal dari masalah kesehatan, dampak pandemi Covid-19 telah meluas ke masalah sosial, ekonomi, bahkan ke sektor keuangan.

Dia mengungkapkan, penanganan yang luar biasa telah dilakukan banyak negara, terutama melalui stimulus fiskal. Jerman mengalokasikan stimulus fiskal sebesar 24,8% terhadap PDB-nya, namun pertumbuhannya terkontraksi minus 11,7% pada kuartal II - 2020. Amerika Serikat (AS) mengalokasikan stimulus sebesar 13,6% PDB, namun pertumbuhan ekonominya minus 9,5%.

Presiden menambahkan, Tiongkok juga mengalokasikan stimulus 6,2% dari PDB-nya. Ekonomi Tiongkok telah kembali tumbuh positif 3,2% pada kuartal II- 2020, namun tumbuh minus 6,8% pada kuartal I-2020.

“Kita pun melakukan langkah yang luar biasa. Undang-undang Nomor 2 Tahun 2020 antara lain memberi relaksasi defisit APBN dapat diperlebar di atas 3% terhadap PDB selama tiga tahun. Tahun 2020, APBN telah diubah dengan defisit sebesar 5,07% PDB dan kemudian meningkat lagi menjadi 6,34% PDB,” papar Presiden Jokowi.

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN