Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pada sidang bersama DPR/DPD, Jumat, 16 Agustus 2019, di Gedung Parlemen, Jakarta. Pada kesempatan itu presiden sempat menyinggung bahwa smartphone bisa dimanfaatkan oleh lembaga pemerintah untuk mengali informasi tanpa harus melakukan studi banding bahkan hingg ke luar negeri. Presiden juga sempat menyentil dengan mengatakan bahwa hal serupa juga bisa dilakukan oleh DPR RI. ( Foto: B1TV )

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pada sidang bersama DPR/DPD, Jumat, 16 Agustus 2019, di Gedung Parlemen, Jakarta. Pada kesempatan itu presiden sempat menyinggung bahwa smartphone bisa dimanfaatkan oleh lembaga pemerintah untuk mengali informasi tanpa harus melakukan studi banding bahkan hingg ke luar negeri. Presiden juga sempat menyentil dengan mengatakan bahwa hal serupa juga bisa dilakukan oleh DPR RI. ( Foto: B1TV )

RI MILIKI DAYA TAHAN HADAPI PELEMAHAN GLOBAL

Jokowi: Investasi Kunci Antisipasi Resesi Ekonomi

Arnoldus Kristianus dan Nasori, Kamis, 5 September 2019 | 09:14 WIB

JAKARTA, investor,id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, perekonomian Indonesia perlu menyiapkan “payung” untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi global yang telah mengalami perlambatan dan kemungkinan terjadinya resesi yang semakin besar. Jalan yang dinilai paling cepat dan menjadi kunci untuk menghadapi perlambatan ekonomi global adalah investasi.

"Kalau hujannya besar, kita nggak kehujanan. Kalau gerimis kita ya nggak kehujanan. Syukur nggak ada hujan dan nggak ada gerimis. Tapi, angka-angka menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi global sudah mengalami perlambatan dan kemungkinan resesi akan semakin besar," kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas (ratas) membahas antisipasi perkembangan perekonomian dunia di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (4/9).

Kepala Negara mencontohkan depresiasi mata uang yuan Tiongkok dan peso Philipina sudah terjadi akibat perlambatan ekonomi global. "Tantangan itu harus kita antisipasi, kita hadapi, dan kita harapkan langkah-langkah antisipatif sudah benar-benar secara konkret," kata dia.

Presiden berharap, pertumbuhan ekonomi Indonesia terhindar dari resesi yang potensinya semakin besar ini. Presiden Jokowi mengatakan, jalan yang paling cepat menghadapi perlambatan ekonomi global adalah investasi. "Kuncinya hanya ada di situ nggak ada yang lain," kata dia.

Untuk itu, Jokowi minta seluruh kementerian yang berkaitan dengan ekonomi, menginventarisir regulasi-regulasi yang menghambat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. "Regulasi-regulasi yang membuat kita lamban itu betul-betul mulai diinventarisir dan nanti seminggu lagi kita akan bicara mengenai masalah bagaimana segera menyederhanakan peraturan-peraturan yang menghambat dan memperlambat itu," kata dia.

Presiden mengungkapkan bahwa informasi dari investor-investor yang ditemui dan catatan yang disampaikan oleh Bank Dunia ada masalah internal dalam negeri yang menghambat investasi Indonesia. Presiden mencontohkan pada dua bulan yang lalu ada 33 perusahaan di Tiongkok keluar dan 23 memilih di Vietnam dan 10 lainnya perginya ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

"Nggak ada yang ke kita. Tolong ini digarisbawahi. Ini berarti kita memiliki persoalan yang harus kita selesaikan," kata dia seperti dikutip Antara. Jokowi mengungkapkan, kekalahan dari Vietnam karena negara tersebut hanya butuh dua bulan untuk mengurus investasi yang masuk dan ini berbeda dengan di Indonesia yang butuh waktu bertahun-tahun.

 

Kredibel

Secara terpisah, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti berpendapat bahwa perekonomian Indonesia memiliki daya tahan untuk menghadapi pelemahan ekonomi global yang kini terjadi. Dengan fiskal dan meneter yang dikelola secara kredibel, ia berkeyakinan, perekonomian Indonesia tidak akan masuk dalam resesi seperti yang kini dialami Turki, Argentina, dan Singapura.

Hingga kini, menurut Destry, pasar masih sangat respek terhadap kebijakan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah maupun moneter yang dilakukan oleh bank sentral. “Kredibilitas ini sangat penting saat ini. Tapi mereka memang masih menunggu kebijakan struktural terkait dengan manufaktur. Itu harus diperbaiki dan kita tidak perlu lagi mengandalkan ekspor komoditas,” tandas dia.

Destry juga tidak menlihat adanya resesi global yang masif seperti terjadi pada 2008. Pasalnya, karena kondisi perekonomian global sekarang sudah mengalami deleveraging atau mengalami penurunan leverage aset. “Ini beda dengan 2008 saat suprime mortgage nilainya bisa berlipat 10 kali dari nilai portofolio induknya. Apakah akan ada perlambatan? Iya. Tapi, apakah akan terjadi resesi secara masif? Saya tidak melihat,” pungkas dia

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA