Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo. Foto: YouTube

Presiden Joko Widodo. Foto: YouTube

Jokowi: Manfaatkan Teknologi untuk Pengelolaan Hutan

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 07:56 WIB
Tri Listyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id –Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa pengelolaan hutan di Tanah Air sudah saatnya memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Dengan upaya tersebut diharapkan pengelolaan kawasan hutan untuk kepentingan ekonomi bisa berjalan beriringan dengan kepentingan konservasi.

Kepala Negara mengatakan, saat ini, Indonesia memasuki era tarik -menarik yang berkepanjangan antara hutan dalam konsep agraris, konsep industrial, dan konsep pascaindustri.

Dalam kenyataannya, agrarisasi dan industrialisasi berbasis hutan masih merupakan sektor ekonomi yang paling penting. Namun demikian, konsep agrarisasi dan industrialisasi tersebut sering dikontradiksikan dengan konsep pascaindustri yang cenderung konservasi dan konservatif.

“Salah satu solusi yang patut diperhitungkan adalah pemanfaatan teknologi digital dengan mengembangkan precision forestry,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan hal tersebut saat Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-57 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berlangsung secara daring.

Jokowi merupakan salah satu alumnus Fakultas Kehutanan UGM. Menurut Presiden Jokowi, precision forestry adalah teknologi yang mampu menghitung secara cermat dan tepat dengan penggunaan teknologi digital dan komputasi serta memanfaatkan data analitik dan pengembangan kecerdasan buatan.

“Dengan bantuan teknologi tersebut maka diharapkan semangat gabungan antara penggunaan hutan dalam konsep agraris dan industri tanpa mengorbankan pascaindustri bisa kita kembangkan,” jelas Presiden Jokowi.

Secara khusus, Jokowi berharap Fakultas Kehutanan UGM mampu mengembangkan inovasi di era disrupsi untuk memajukan sektor kehutanan di Indonesia. Jokowi yakin Fakultas Kehutanan UGM mampu mengembangkan inovasi-inovasi di era disrupsi sekarang ini dan membajak disrupsi untuk lompatan kemajuan kehutanan Indonesia.

Menurut Presiden, ilmu kehutanan selalu menempati posisi sentral dalam mengelola hubungan masyarakat dengan alam, khususnya antara masyarakat dan hutan.

“Dalam kaitan ini saya mengharapkan Fakultas Kehutanan UGM untuk mencarikan titik temu mencarikan jembatan ini tugas untuk dipelajari dan dikembangkan konsep baru ala UGM,” kata Jokowi seperti dilansir Antara.

Lapangan Kerja

Prabowo Subianto. Foto: IST
Prabowo Subianto. Foto: IST

Di acara yang sama, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berharap sektor kehutanan di Indonesia mampu menjadi sumber terobosan bisnis serta menciptakan lowongan pekerjaan yang luas di tengah persaingan ekonomi global.

“Ke depan, kehutanan Indonesia harus mampu menciptakan peluang-peluang dan terobosan -terobosan bisnis serta mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang luas, baik untuk rimbawan maupun masyarakat yang hidup di sekitar hutan,” kata Prabowo.

Prabowo menuturkan, Indonesia saat ini memiliki potensi 12,70 juta hektare (ha) program perhutanan sosial dalam kawasan hutan yang dapat dikembangkan menjadi areal kedaulatan pangan dan produksi material hutan kayu yang baik. Dari potensi itu, sekitar 4,20 juta ha di antaranya telah diberikan izin perhutanan sosial kepada kelompok tani, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Sebagian areal tersebut atau sekitar 2 juta ha dapat digunakan untuk areal tanaman pangan dari dalam kawasan hutan.

“Hal itu menunjukkan sektor kehutanan dapat memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar hutan,” kata dia.

Untuk mengembangkan program ekonomi di kawasan hutan dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan, pemerintah harus berani mengambil langkah-langkah yang berpihak pada program tersebut. Salah satunya dengan memberikan alokasi kredit kepada sektor kehutanan. Dengan keberpihakan itu maka pertanian pangan modern diharapkan dapat dikembangkan.

Menhan juga berharap Indonesia mampu melahirkan para rimbawan baru yang tangguh, cerdas dan professional yang dapat berdayakan untuk bekerja dalam program kedaulatan pangan di kawasan hutan, misalnya sebagai wirausaha muda (petani milenial) atau manajer koperasi di bidang pangan. Hal ini merupakan antisipasi untuk memanfaatkan bonus demografi ke depan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN