Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Dewan Gubernur Bank Indonesia dan para penerima Bank Indonesia Award 2019, saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2019 yang bertemakan Sinergi Transformasi Inovasi
Menuju Indonesia Maju, di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Kegiatan ini dihadiri Presiden Joko Widodo dan para pelaku industri keuangan. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Dewan Gubernur Bank Indonesia dan para penerima Bank Indonesia Award 2019, saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2019 yang bertemakan Sinergi Transformasi Inovasi Menuju Indonesia Maju, di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Kegiatan ini dihadiri Presiden Joko Widodo dan para pelaku industri keuangan. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

GUBERNUR BI: PERCEPAT PENURUNAN BUNGA KREDIT

Jokowi Minta Pelaku Usaha Optimistis

Nida Sahara/Triyan Pangastuti, Jumat, 29 November 2019 | 10:29 WIB

JAKARTA, investor.id – Laju pertumbuhan ekonomi 5% menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga negara dengan kondisi ekonomi terbaik di dunia selama 2019 setelah RRT dan India. Karena itu, pelaku usaha harus optimistis menghadapi tahun 2020. Selain menjaga kesehatan fiskal, pemerintah akan fokus mendorong ekspor, melakukan substitusi impor, meneruskan pembangunan infrastruktur, mereformasi hukum dan menyederhanakan birokrasi, menarik investasi, dan meningkatkan penerimaan devisa.

“Saya pernah meramalkan, the winter is coming,” kata Presiden Jokowi pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019 yang digelar di Hotel Raffles, Kuningan CBD, Kamis (28/11/2019).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, sebagai tuan rumah, juga menyampaikan imbauan yang sama. Para bankir diminta optimistis dengan menurunkan suku bunga, sedang para pengusaha diharapkan lebih berani ekspansi. Peringatan Presiden Jokowi pada Pertemuan IMF di Bali, Oktober 2018, kini menemui kenyataan. Perkembangan ekonomi dunia kian tidak menentu.

Perry Warjiyo. Foto: IST
Perry Warjiyo. Foto: IST

Bukan hanya perang dagang AS vs Tiongkok. Berbagai stimulus ekonomi yang dilakukan berbagai Negara belum mengangkat kinerja ekonomi. Sedangkan di dalam negeri, Indonesia menghadap peningkatan ekspansi bisnis digital. Bank Dunia, kata Perry, sudah merevisi turun prediksi pertumbuhan ekonomi 2019 dan 2020.

Pertumbuhan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia, Inflasi Indonesia, dan suku bunga kredit.
Pertumbuhan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia, Inflasi Indonesia, dan suku bunga kredit.

Bank Indonesia memperkirakan, laju pertumbuhan ekonomi dunia 2019 sebesar 3% dan 2020 sekitar 3,1%, turun dari 3,6% tahun 2018. Sedang laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 sekitar 5,1- 5,5% tahun 2020, tak banyak beda dengan perkiraan laju pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,1%.

Sesuai tema Pertemuan Bank Indonesia 2019 “Sinergi, Transformasi, dan Inovasi Menuju Indonesia Maju”, demikian Perry, dalam menghadapi masa sulit, semua pihak harus memperhatikan sinergi, transformasi, dan inovasi. “Ini adalah tiga kata kunci untuk memperkuat ketahanan dan pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia maju,” ungkap Gubernur BI pada acara yang dihadiri para menteri, para mantan gubernur, gubernur kepala daerah, bankir, pengusaha, dan pemimpin media massa.

Harus Optimistis

Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Berkaca pada film pertualangan romantis “Cast Away” tahun 2000, Presiden mengatakan, setiap kesulitan selalu ada tiga pesan moral. Pertama, manusia harus mampu bertahan di tengah kesulitan. Kedua, manusia harus mampu mencari sumber penghasilan baru yang dapat mendukung upayanya untuk tetap ber tahan. Ketiga, manusia harus tetap optimistis dalam menghadapi tekanan.

Berbagai perkiraan menyatakan, dunia, tak terkecuali Indonesia, tengah memasuki masa sulit. Dalam menghadapi kondisi seperti ini, semua pihak harus optimistis. Apalagi ekonomi Indonesia saat ini masih bertumbuh 5%. Sedang laju pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara tetangga sudah mendekati nol persen. “Jika pertumbuhan 5% tidak kita syukuri, itu namanya kufur nikmat,” kata Presiden.

Bidang moneter, keuangan, dan fiskal, kata Presiden, sudah ada otoritas yang mengurusnya. Ada BI yang menangani moneter, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk jasa keuangan, dan Menteri Keuangan yang mengurus fiskal. “Saya berkonsentrasi menangani bidang di luar yang tiga itu,” ujar Jokowi.

Yang hendak ditangani langsung oleh pihaknya dalam lima tahun ke depan adalah pertama, kata Jokowi, adalah pembangunan kualitas manusia. Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur, khususnya akses jalan dari pelabuhan menuju sentra produksi.

Ketiga, penyederhanaan regulasi. UU omnibus law sedang dikerjakan. Direncanakan, pada Desember 2019, sudah ada RUU omnibus law yang diajukan ke DPR. Omnibus Law tahap kedua direncanakan akan diajukan Januari 2020.

Keempat, pemerintah akan menyederhanakan birokrasi. Eselon tiga dan empat akan dipangkas guna mempercepat pelayanan. Tidak boleh lagi ada banyak meja. “Jangan khawatir, pendapatan tidak akan dipangkas,” ungkap Presiden.

Kelima, transformasi ekonomi. Ekspor bahan mentah akan digeser ke ekspor produk jadi. “Transformasi ekonomi adalah pekerjaan besar karena ini menyangkut perubahan struktur ekonomi,” kata Jokowi. Selain mempercepat hilirisasi dan pembangunan industri manufaktur, pemerintah mempercepat implementasi B-30, B-40, dan seterusnya hingga B-100. Dengan solusi ini, hambatan ekspor sawit tidak lagi masalah. Karena konsumsi CPO di pasar domestik untuk biofuel akan meningkat.

Di bidang energi, kata Jokowi, pemerintah akan membangun PLTA di Kalimantan dan Papua. Harga energi listrik dari PLTA jauh lebih murah dibanding energi mana pun. Berbagai langkah ini akan mengurangi defisit neraca perdagangan.

Defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), demikian Jokowi, akan dikurangi dengan berbagai cara, antara lain, peningkatan devisa dari turisme. Dalam dua tahun ke depan, pemerintah akan fokus pada lima destinasi prioritas, yakni Labuan Bajo, Mandalika, Manado, Toba, dan Borobudur.

“Pemerintah akan mendukung dengan pembangunan berbagai jenis infrastruktur,” ungkap Jokowi.

Bandara, pelabuhan, tol akan dibangun. Agar memberikan kenyamanan kepada para turis, destinasi wisata premium harus dibedakan dari destinasi biasa. Komodo, Labuan Bajo, adalah destinasi premium.

Peran Swasta

Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Pemerintah, kata Jokowi, akan memberikan peran besar kepada swasta. Tidak seperti lima tahun pertama, ke depan, pembangunan infrastruktur tidak saja diberikan kepada BUMN. Prioritas pertama proyek infrastruktur diberikan kepada swasta. Jika swasta tidak mampu, BUMN ambil alih.

Paling akhir baru pemerintah jika BUMN juga tidak mampu. Dengan pelibatan swasta lebih luas, pembangunan infrastruktur akan lebih cepat. Karena BUMN dan pemerintah akan konsentrasi pada proyek yang tak bisa dikerjakan swasta.

Dari sisi permintaan, demikian Jokowi, porsi belanja pemerintah terhadap PDB hanya sekitar 14-16%. Selebihnya adalah peran swasta. Karena itu, ke depan, swasta akan diberikan peran lebih besar dalam mengerjakan berbagai proyek.

Turunkan Bunga Kredit

Outstanding penyaluran kredit
Outstanding penyaluran kredit

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengimbau industri perbankan untuk segera menurunkan suku bunga kredit. Sebab, transmisi penurunan suku bunga kredit cenderung masih lebih landai dibandingkan dengan suku bunga deposito. Dengan penurunan suku bunga kredit, korporasi juga diminta untuk meningkatkan produksi dan investasinya.

Perry mengungkapkan, pertumbuhan kredit tahun depan akan meningkat dibandingkan dengan terbatasnya peningkatan kredit tahun ini. Tahun 2020 kredit ditargetkan tumbuh antara 10-12% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari tahun ini yang hanya 8% (yoy), dengan dorongan dari penurunan suku bunga kredit.

“Kredit tahun ini terbatas, tapi akan meningkat tahun 2020 dengan suku bunga kredit yang turun dan prospek ekonomi akan semakin baik. Kami ajak bank turunkan bunga kredit,” kata Perry.

Menurut dia, dengan perbankan menurunkan suku bunga kredit, pihaknya juga mendorong korporasi untuk meningkatkan produksi dan investasinya. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan lebih baik lagi tahun depan.

Perry menjelaskan, BI pada tahun 2018 telah melakukan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas moneter guna mencegah risiko gejolak ekonomi. Tahun ini, bank sentral telah menurunkan suku bunga acuannya empat kali sebanyak 100 basis poin (bps) ke posisi 5% dan menurunkan giro wajib minimum (GWM) dua kali sebanyak 100 bps menjadi 5,5%. Penurunan tersebut dilakukan bank sentral untuk menambah pasokan likuiditas perbankan. Penurunan GWM 100 bps sepanjang tahun ini akan menambah likuiditas ke industry perbankan sebanyak Rp 51 triliun.

Selain itu, BI juga melonggarkan kebijakan makroprudensial melalui loan to value (LTV) untuk mendorong permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Kemudian, rasio intermediasi makroprudensial (RIM) juga diperlonggar untuk fleksibilitas menambah likuiditas dan memperluas pendanaan perbankan.

Tahun 2020 pihaknya juga akan memperluas kebijakan makro untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan sektor prioritas lainnya, termasuk di dalamnya ekspor. “Kami ajak bank dan dunia usaha mulai ekspansi. Bank meningkatkan kredit, korporasi mendorong produksi dan investasi,” ucap dia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Perry menambahkan, dalam jangka menengah, prospek ekonomi Indonesia akan semakin baik. Transformasi ekonomi akan mendorong pertumbuhan lebih tinggi lagi, dengan defisit transaksi berjalan menurun dan inflasi rendah, untuk mendukung Indonesia maju berpendapatan tinggi pada 2045.

“Transformasi ekonomi kita tingkatkan agar pertumbuhan lebih tinggi. Sumber pertumbuhan kita kembangkan seperti manufaktur, pariwisata maritime pertanian, dan UMKM, serta iklim investasi pembangunan infrastruktur dan SDM dipercepat” ujarnya.

Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dunia menurun drastic pada 2019, dikarenakan kondisi perlambatan ekonomi global. Meski demikian, ia mengapresiasi prospek ekonomi Indonesia yang masih baik, dengan stabilitas inflasi rendah, serta nilai tukar stabil di tengah situasi sejumlah negara mengalami resesi atau bahkan memasuki krisis.

Lima Karakteristik

Perry menegaskan, perkembangan makro ekonomi tahun 2020 masih mengalami tekanan dari kondisi perlambatan ekonomi global, yakni berlanjutnya perang dagang sehingga patut diwaspadai. Sebab, kebijakan moneter sendiri belum tentu selalu efektif dalam mengatasi dampak buruk perang dagang.

Sementara itu, digitalisasi ekonomi dan keuangan semakin semarak, dengan segala manfaat dan risikonya. Merasuk ke berbagai segmen ekonomi, dan semakin dikuasai oleh sekelompok perusahaan besar dunia. Fenomena menurunnya globalisasi dan meningkatnya digitalisasi seperti ini kemungkinan akan berlanjut pada tahun 2020 dan tahun-tahun berikutnya.

“Karena itu, kita perlu memperkuat ketahanan dan pertumbuhan ekonomi nasional, menuju negara maju berpendapatan tinggi pada tahun 2045,” kata dia.

Dalam konteks itu, Perry mengingatkan setidaknya ada lima karakteristik penting yang patut dicermati. Pertama, pertumbuhan ekonomi dunia menurun drastis pada tahun 2019 dan kemungkinan belum pulih pada 2020.

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski

Dampak perang dagang terbukti sungguh buruk terhadap perekonomian, tidak saja kepada negara-negara yang terlibat perang dagang, tetapi juga kepada seluruh negara di dunia. Revisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dan berbagai Negara oleh IMF dan sejumlah lembaga internasional berkali-kali terjadi.

Kedua, kebijakan moneter sendiri belum tentu selalu efektif mengatasi dampak buruk perang dagang. Penurunan suku bunga dan injeksi likuiditas di banyak negara belum mampu menyelamatkan ekonomi dunia.

“Bank sentral tidak bisa menjadi the only game in town dalam menghadapi dampak buruk perang dagang. Perlu sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional, baik melalui stimulus fiscal maupun reformasi ekonomi di sektor riil, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.

Ketiga, volatilitas arus modal asing dan nilai tukar di pasar keuangan global berlanjut. Injeksi likuiditas dan rendahnya suku bunga di negara-negara maju mendorong investor global mencari imbal hasil yang lebih menarik di negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia, dalam bentuk investasi portofolio ke saham, obligasi, dan surat-surat berharga lainnya.

Keempat, digitalisasi ekonomi dan keuangan meningkat pesat. Cepatnya perkembangan teknologi digital sungguh luar biasa. Teknologi digital telah merombak secara mendasar proses produksi dalam era industri 4.0, perdagangan ritel melalui e-commerce, hingga di bidang pendidikan, kesehatan, dan berbagai segmen kehidupan.

Di dunia keuangan, inovasi teknologi digital telah memunculkan pesatnya perkembangan financial technology (fintech). Bisnis jasa keuangan seperti ini yang biasanya dilakukan oleh bank dan lembaga keuangan lainnya semakin dikembangkan dan diambil alih oleh fintech, memunculkan risiko shadow banking.

Lebih dari itu, besarnya investasi dalam teknologi digital mendorong konsentrasi usaha dan memunculkan sejumlah perusahaan raksasa dunia, atau big tech. “Konsentrasi penguasaan usaha oleh big tech juga perlu diwaspadai karena dapat mengganggu persaingan usaha yang sehat dan menghambat inovasi,” kata Perry.

Kelima, teknologi digital juga merubah perilaku manusia, baik sebagai konsumen maupun tenaga kerja.

Enam Fokus

Suku bunga deposito dan kurs rupiah
Suku bunga deposito dan kurs rupiah

Di lain sisi, dalam kondisi perekonomian global yang belum kondusif, bauran kebijakan BI yang telah ditempuh pada 2019 akan semakin diperkuat pada tahun 2020 mendatang melalui enam fokus area kebijakan dalam menjaga stabilitas dan mendorong momentum pertumbuhan.

Pertama, kebijakan moneter tetap akomodatif. Kedua, kebijakan makroprudensial yang akomodatif akan ditempuh untuk mendorong pembiayaan ekonomi. Ketiga, kebijakan sistem pembayaran difokuskan pada penguatan instrumen dan infrastruktur publik berbasis digital. Keempat, kebijakan pendalaman pasar uang diperkuat untuk mendukung efektivitas kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif.

Kelima, kebijakan pemberdayaan ekonomi syariah dan UMKM terus didorong agar menjadi sumber pertumbuhan baru ekonomi Indonesia.

Keenam, memperkuat sinergi dengan fokus pada sinergi kebijakan makroekonomi dan sistem keuangan untuk menjaga stabilitas, sinergi transformasi ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat struktur ekonomi, dan sinergi dalam inovasi digital untuk mendukung integrasi ekonomi dan keuangan digital secara nasional. (pd/hg)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA