Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato RUU Tentang APBN tahun anggaran 2023 disertai nota keuangan dan dokumen pendukungnya, di gedung Parlemen DPR RI, di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. (Youtube BPMI Setpres)

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato RUU Tentang APBN tahun anggaran 2023 disertai nota keuangan dan dokumen pendukungnya, di gedung Parlemen DPR RI, di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. (Youtube BPMI Setpres)

Jokowi Optimistis Ekonomi 2023 Tumbuh 5,3%

Selasa, 16 Agustus 2022 | 15:27 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada 2013 mencapai 5,3% seiring pulihnya  perekonomian nasional yang lebih cepat dan meningkatnya ekspansi produksi  yang dapat membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya di Tanah Air.

“Pertumbuhan ekonomi 2023 diperkirakan sebesar 5,3 %. Kita akan berupaya maksimal dalam menjaga keberlanjutan penguatan ekonomi nasional,” kata Presiden Jokowi pada pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2023 beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Selasa (16/8/2022).

Presiden Jokowi menyampaikan, angka pertumbuhan tersebut didasarkan pada pertimbangan dinamika perekonomian nasional terkini, agenda pembangunan yang akan dicapai, serta potensi risiko dan tantangan yang dihadapi.

Untuk memenuhi target pertumbuhan ekonomi tersebut, Kepala Negara melanjutkan, pemerintah akan terus mendorong ekspansi produksi yang konsisten untuk membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya.

“Berbagai sumber pertumbuhan baru harus segera diwujudkan. Pelaksanaan berbagai agenda reformasi struktural terus diakselerasi untuk transformasi perekonomian. Investasi harus dipacu serta daya saing produk manufaktur nasional di pasar global, harus ditingkatkan,” kata Presiden Jokowi.

Dengan semakin kuatnya sektor swasta sebagai motor pertumbuhan, menurut Jokowi, manajemen kebijakan fiskal harus dapat lebih diarahkan untuk menciptakan keseimbangan antara perbaikan produktivitas dan daya saing. Hal itu dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan dan keberlanjutan fiskal untuk menghadapi risiko dan gejolak di masa depan.

“Bauran kebijakan yang tepat, serta sinergi dan koordinasi yang semakin erat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor keuangan akan menjadi modal yang kuat dalam rangka akselerasi pemulihan ekonomi nasional serta penguatan stabilitas sistem keuangan,” kata dia.

Terkait inflasi, Kepala Negara mengungkapkan, inflasi akan tetap dijaga pada kisaran 3,3 %. Kebijakan APBN akan tetap diarahkan untuk mengantisipasi tekanan inflasi dari eksternal, terutama inflasi energi dan pangan.

“Asumsi inflasi pada level ini juga menggambarkan keberlanjutan pemulihan sisi permintaan, terutama akibat perbaikan daya beli masyarakat,” ujar dia.

Selanjutnya, rata-rata nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di sekitar Rp 14.750 per dolar AS dan rata-rata suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun diprediksi pada level 7,85 %.

“Harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan berkisar pada US$ 90 per barel. Di sisi lain, lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 660 ribu barel per hari dan 1,05 juta barel setara minyak per hari,” papar dia.

Pulih Lebih Cepat

Presiden Jokowi mengungkapkan, Indonesia mendapatkan apresiasi sebagai salah satu negara yang berhasil mengatasi pandemi dan memulihkan ekonominya dengan cepat.

“Pemulihan ekonomi Indonesia dalam tren yang terus menguat, tumbuh 5,01% pada triwulan I dan menguat signifikan menjadi 5,44 % pada triwulan II-2022,” ungkap Presiden.

Jokowi menambahkan, sektor-sektor strategis seperti manufaktur dan perdagangan tumbuh ekspansif, didukung oleh konsumsi masyarakat yang mulai pulih serta solidnya kinerja ekspor. Sementara neraca perdagangan telah mengalami surplus selama 27 bulan berturut-turut.

Sektor manufaktur yang mengalami pemulihan kuat, kata Presiden, berperan menopang tingginya kinerja ekspor nasional. “Hal ini mencerminkan keberhasilan strategi hilirisasi industri yang kita jalankan sejak 2015. Tingginya kinerja ekspor juga didukung oleh sektor pertambangan seiring meningkatnya harga komoditas global,” kata dia.

Menurut Presiden, sektor transportasi dan akomodasi yang paling terdampak pandemi juga mulai mengalami pemulihan. Masing-masing tumbuh 21,3 % dan 9,8 % pada triwulan II-2022.

“Pada Juli 2022, indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) meningkat menjadi 51,3 %, mencerminkan arah pemulihan yang semakin kuat pada Semester II,” kata Presiden Jokowi.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com