Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ignasius Jonan. Foto: IST

Ignasius Jonan. Foto: IST

Jonan: Pertamina Jangan Hanya Tunggu Blok Migas Terminasi

Retno Ayuningtyas, Rabu, 4 September 2019 | 15:37 WIB

JAKARTA, investor.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mendorong PT Pertamina (Persero) untuk tidak hanya mengambil alih pengelolaan blok migas produksi yang telah habis kontraknya. Pertamina harus melakukan eksplorasi guna menemukan potensi migas baru.

Jonan mengatakan, di bisnis hulu migas, perusahaan migas harus melakukan eksplorasi jika ingin membuat terobosan signifikan atau melakukan ekspansi yang cukup besar. Hal ini juga harus dilakukan oleh Pertamina. Apalagi, Indonesia masih memiliki 128 cekungan yang diindikasi memiliki potensi migas.

“Pertamina harus punya semangat. Harus melakukan eksplorasi dengan sungguh-sungguh jadi jangan hanya menunggu blok produksi yang sudah jatuh tempo,” kata Jonan usai membuka gelaran The 43rd Indonesia Petroleum Association (IPA) Convention & Exhibition 2019, Rabu (4/9).

Seperti diketahui, Pertamina telah menerima alih kelola 13 blok migas terminasi. Ke-13 blok ini adalah Blok Mahakam, North Sumatera Offshore, Ogan Komering, Salawati, Sanga-Sanga, Tengah, Kepala Burung, East Kalimantan dan Attaka, Southeast Sumatera, Jambi Merang, Raja/Pendopo, dan Rokan.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati sempat mengungkapkan, perseroan telah mengalokasikan dana untuk kegiatan eksplorasi dalam dana komitmen kerja pasti (KKP). KKP ini dijanjikan perusahaan ketika menandatangani kontrak kerja sama (production sharing contract/PSC). Namun, besaran dana ini berbeda-beda untuk setiap bloknya.

Meski demikian, diakui Nicke, kegiatan eksplorasi untuk penemuan cadangan migas di area terbuka yang benar-benar baru sulit dilakukan. Pasalnya, ada ketakutan ketika eksplorasi yang dilakukan gagal menemukan cadangan migas, maka bisa dipermasalahkan secara hukum sebagai kerugian negara. Apalagi, rasio keberhasilan eksplorasi di Indonesia cukup rendah, yakni sekitar 20-30%.

“Tetapi dengan adanya [ketentuan] KKP, kami berharap secara hukum kami tidak dipersalahkan, karena karakter bisnis migas itu high risk, high capital,” tuturnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA